Search This Blog

Loading...

Saturday, August 16, 2014

Jawul Menggerek Bendera

-->Cerpen  Damhuri Muhammad 


“Itu barang berharga, masa kamu lupa?” bentak nyonya Sonia pagi itu.      
        “Coba cari di lemari pakaian bekas, kalau ndak ketemu, cari di gudang! Pokoknya bendera itu harus ketemu. Paham?” sambung nyonya lagi, suaranya sedikit meninggi.
          “Iya Nya, iya…” jawab Sumi, gugup.
         Meski Sumi mengobrak-abrik lemari pakaian bekas atau membongkar tumpukan barang-barang di gudang, ia tidak bakal menemukan barang yang dicari. Sebab, bendera itu kini ada di dalam celana Jawul. Setelah dikibarkan pada hari ulang tahun kemerdekaan tahun lalu, Sumi memang menyimpannya di gudang, tapi  diam-diam Jawul mengambilnya, lalu membawanya ke tukang jahit untuk dibuat jadi  celana pendek. Unik juga hasilnya, celana pendek Jawul memiliki dua warna. Sisi sebelah kiri putih, sisi kanannya merah. Karena serat bahannya kasar dan murahan, setelah hampir setahun dipakai Jawul, celana pendek itu mulai lusuh. Sisi kiri tak bisa disebut putih lagi, kuning juga bukan. Begitu juga sisi kanan, merah tidak, cokelat  pun bukan. Kusam.Lusuh
            “Sampean lihat bendera ndak?” tanya Sumi.
            “Lho, yang nyimpan sampean malah nanya aku,” balas Jawul, pura-pura tidak tahu.
            “Gawat Mas, gawat!”
            “Apanya yang gawat?”          
            “Nyonya bisa marah besar kalau bendera itu ndak ada.”
          “Walah, soal bendera aja kok gawat? Apa susahnya? Beli aja yang baru. Gonta-ganti mobil tiap tahun, masa  beli  bendera aja ndak bisa?”        
            “Tapi Nyonya tahu kalau bendera tahun lalu masih bagus. Mubazir kalau beli lagi, katanya.”
            Sebenarnya Jawul tidak tega melihat Sumi uring-uringan seperti itu. Lagi pula, bila bendera itu tidak ditemukan, yang diomeli nyonya Sonia bukan Sumi saja. Sebagai satpam, tentu Jawul lebih bertanggungjawab dalam urusan pengibaran bendera. Ia bakal kena getahnya juga. Jadi, mau tak mau Jawul harus ikut memikirkan bagaimana caranya agar pada 17 Agustus nanti, bendera mesti berkibar.      Semula Jawul ingin berterus terang saja pada Sumi, tapi setelah ditimbang-timbang dan dipikir-pikir lagi, pengakuannya tidak akan mengubah keadaan, percuma. Kalaupun Sumi tahu bendera yang hilang itu telah disulapnya jadi celana pendek, nasi sudah jadi bubur. Kain bendera sudah jadi celana pendek, dan celana pendek tak mungkin jadi bendera kembali. Parahnya lagi, satu-satunya celana pendek yang dimiliki Jawul hanyalah celana pendek dari bahan kain bendera itu, itupun sudah penuh tambalan di pinggul kiri, paha kanan, pun di bagian selangkangan.
            Jawul dan Sumi agak lega setelah mereka membongkar tumpukan barang-barang di gudang belakang. Mereka menemukan ratusan lembar bendera baru, dan menurut Sumi belum pernah dikibarkan sama sekali. Hanya saja, bendera-bendera itu tidak seperti bendera yang diinginkan majikan mereka. Kombinasi warnanya bukan merah putih, tapi kuning menyala.       
            “Nah, gimana kalau pakai yang ini saja?” tanya Jawul
           Ojo ngawur sampean! Itu bendera milik Bapak. Sisa kampaye bulan lalu. Bukan itu yang kita cari,”  Sumi menggerutu.
            “Siapa tahu nyonya setuju kalau kita pakai bendera kuning ini. Bendera-bendera ini masih baru, belum pernah dipasang pula.”
            “Ndak usah cari masalah! Pokoknya aku ndak mau. Titik!”
            “Lho, asal kamu tau, justru bendera-bendera ini yang bikin jabatan Bapak jadi awet. Dan, kita bisa cari makan di sini. Gitu lho,” jelas Jawul, sok pintar.
        “Tapi yang kita cari bendera merah putih. Ini hari ulang tahun kemerdekaan, bukan musim kampanye, ngerti sampean?”
            Ulang tahun kemerdekaan tinggal satu hari lagi. Sumi dan Jawul makin gelisah, sebab barang yang mereka cari belum kunjung ketemu. Sumi hanya bisa berharap semoga Jawul melakukan sesuatu supaya besok pagi bendera sudah terpasang di halaman rumah majikan mereka.
            “Jika bendera itu tidak ditemukan sampai besok pagi, saya pecat kalian! Mengerti?”  nyonya Sonia mulai naik pitam.
            “Cari sampai ketemu!”
            “Di gudang banyak bendera Nya, tapi warnanya kuning semua,” sela Jawul.
            “Saya mau bendera merah putih. Kalau bendera kuning juga banyak di lemari kamar saya.”
            “Ada apa Ma? Kok ribut-ribut?” sapa Bapak yang baru muncul dari kamarnya.
            “Ini lho pa, kita belum punya bendera untuk dikibarkan besok pagi.”          
            “Bendera bekas tahun lalu hilang.”
            “Sudahlah, beli saja yang baru!”
            “Tolong kamu yang cari Wul!” suruh Bapak pada Jawul sambil memberikan sejumlah uang.
            “Baik Pak!”
***
            






            Jawul sudah mendatangi lapak-lapak pedagang kaki lima yang menjual atribut-atribut partai di setiap penjuru kota, begitu juga toko-toko bahan pakaian di pasar inpres,  tapi  ia belum mendapatkan bendera itu.
            “Kenapa Bapak ndak menjual bendera? Kan banyak yang butuh,” tanya Jawul pada seorang pedagang.
            “Bukan tidak mau Mas, sulit mendapatkan bahan kain warna merah dan warna putih.”
            “Maksudnya?”
            “Stok kain warna putih dan warna merah itu katanya sudah habis untuk bikin bendera partai.”
            “Lalu, di mana saya bisa dapatkan bendera merah putih itu?”          
            “Saya cuma butuh satu bendera saja.  Sangat butuh!”
            “Coba cari di pinggir-pinggir jalan utama!”
Jawul menelusuri ruas-ruas jalan utama, pelataran-pelataran trotoar, halte-halte pemberhentian bis kota, sisi kiri dan sisi kanan traffic light. Tapi, tak seorangpun pedagang bendera yang menggelar dagangan di sana.
            “Di jalan ini dilarang jualan bendera. Merusak keindahan kota, katanya. Udah lama tidak ada pedagang bendera di sini, Mas,” begitu jawab tukang tambal ban di pinggir jalan ketika ditanya Jawul. “Tahu pindahnya ke mana?” Orang itu menggeleng.
          Jawul makin cemas. Karena ulah bendera itu ia terancam bakal kehilangan pekerjaan. Ia mampir di sebuah warung, tak jauh dari tempat tukang tambal ban tadi. Melepas lelah sambil menyumpal perut yang mulai keroncongan. Setelah menggasak sepiring nasi ditambah dua buah tempe bacem, saat menjangkau serbet yang tergantung di pojok warung itu, Jawul tersentak kaget. Kain serbet yang masih dipegangnya ternyata selembar bendera. Meski kotor, ia yakin kalau serbet itu pasti dulunya bendera. Sisi sebelah bawahnya hitam karena daki tangan, tapi warna merahnya masih lumayan kinclong. “Nah, ini dia.” Jawul membatin.
         “Apa sampean ndak punya serbet lain? Ini kan bendera, kok dijadikan lap  tangan?” tanya Jawul.
           “Udah syukur saya jadikan serbet, dulu saya temukan di tong sampah. Lalu saya rendam pakai deterjen dan lumayan kan? Masih bisa jadi lap tangan. Masih bermanfaat,” jawab pemilik warung itu.
            “Brengsek!” maki Jawul dalam hati.
            “Kalau saya beli, situ mau jual ndak?”          
            “Ntar saya nggak punya serbet lagi dong?”
            “Situ kan bisa beli serbet baru dengan uang saya ini.”
            “Nggak lah Mas. Lap tangan nggak perlu bagus-bagus amat. Ini aja udah cukup.”
            “Kualat sampean!”
            Jalan mulai lengang. Deru mesin kendaraan tak terdengar lagi. Jawul nyaris hilang harapan untuk memperoleh bendera. Tak bisa ia membayangkan betapa paniknya suasana di rumah nyonya Sonia, karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul 00.30 WIB, sementara ia belum juga datang membawa bendera. Jawul tak mungkin kembali tanpa bendera itu. Dengan langkah gegas, tersengah-sengah, setengah berlari ia melesap pulang ke rumah kontrakannya.
            Setiba di rumah, langsung saja Jawul melucuti seragamnya, mencopoti baju dan celana, dan sudah pasti menanggalkan celana pendek itu. Dibelahnya kedua sisi celana pendek kesayangannya itu, lantas dijahitnya dengan jarum tangan sekenanya hingga utuh jadi bendera. Meski sisi atas yang berwarna merah lebih kecil dari sisi bawah yang  berwarna putih. Timpang.
            “Mau dibawa ke mana Mas?” tanya Lastri, istrinya.
            “Aku ndak mau dipecat hanya gara-gara bendera celaka ini.”
            “Dipecat gimana Mas?”
            “Masa kalau ndak ada bendera sampai besok pagi, aku dan Sumi akan dipecat  nyonya?”
            “Tapi ndak usah kuatir! Ini sudah jadi bendera. Malam ini juga akan kupasang. Biar mereka puas. Ndak punya celana pendek juga ndak apa-apa, asal bendera tetap berkibar,” ketusnya lagi.

****

         Sepagi ini, nyonya Sonia dan suaminya sudah bangun. Mereka melakukan senam ringan sekadar menghangatkan badan sebelum menghadiri upacara peringatan hari kemerdekaan di halaman kantor Gubernur. Diam-diam Sumi mengintip dari balik jendela dapur. Ia masih berharap agar Jawul datang membawa bendera. Jika tidak, apa boleh buat, mereka berdua akan angkat kaki dari rumah itu. Dipecat hanya gara-gara bendera. Sumi terus memerhatikan gerak gerik nyonya. Belum tampak tanda-tanda nyonya bakal marah besar. Hanya beberapa meter dari tiang bendera di halaman rumah itu, nyonya berdiri sambil menengadah. Ia lega setelah melihat bendera sudah terpasang dan berkibar ditiup angin sepoi pagi itu.
            “Ma, bendera kita kelihatannya lusuh amat?”           
         “Lusuh? Kemarin Papa yang nyuruh si Jawul beli bendera baru. Bendera baru kok dibilang lusuh?”
         “Merahnya kurang menyala, seperti bendera bekas. Sisi atas dan sisi bawah kurang imbang, agak senjang.”
            “Ah, yang penting kita sudah mengibarkan bendera, besok juga sudah diturunkan.”
         Jawul datang agak telat, nyonya Sonia dan suaminya sudah berangkat saat ia tiba. Sebelum masuk ke dapur untuk memesan segelas kopi panas pada Sumi, sejenak ia berhenti di depan pos satpam, menghadap ke tiang bendera. Dengan sikap sempurna, tegap dan berwibawa, Jawul memberi hormat pada bendera itu.

Jakarta, 2008
foto bendera: http://kausarkhoirr.blogspot.com

Friday, August 15, 2014

Sekilas Info untuk Kawan-kawan yang Sedang Mengerjakan Tugas Sekolah

Kawan-kawan para siswa SMA/MA/SMK/MAK, terutama kelas XI, di mana pun Saudara berada.
Sehubungan dengan banyaknya permintaan (via twitter) terhadap biodata saya guna kelancaran tugas kajian teks cerpen "Juru Masak" sebagaimana yang tercantum dalam buku bidang studi Bahasa Indonesia (Ekspresi Diri dan Akademik), Kurikulum 2013), di bawah ini saya publikasikan minibiodata yang Saudara perlukan;


Damhuri Muhammad, lahir di Padang, 1 Juli 1974. Alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (2001). Bermukim di Jakarta. Ia menulis cerita pendek, esai seni, dan kritik buku di sejumlah media nasional seperti Kompas, Media Indonesia, Majalah TEMPO, Seputar Indonesia, Suara Pembaruan, Republika, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, majalah GATRA, ESQUIRE, tabloid NOVA, dll. Karya fiksinya yang sudah terbit: Laras (2005), Lidah Sembilu (2006), dan Juru Masak (2009). Cerpennya Ratap Gadis Suayan, Bigau, dan Orang-orang Larenjang terpilih dalam buku cerpen pilihan Kompas, pada tahun pemilihan yang berbeda-beda. Buku esai sastra terkininya; Darah-daging Sastra Indonesia (2010). Sejak 2011 ia berkhidmat sebagai anggota komite penjurian Lomba Penulisan Buku Pengayaan Kurikulum di Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) KEMDIKBUD RI. Pada 2008 dan 2013 ia menjadi Ketua Tim Juri Khatulistiwa Literary Award (KLA)--peristiwa penghargaan sastra paling berpengaruh di Indonesia. Maret 2014, ia terpilih sebagai salah satu steering board (Dewan Pengarah)  Asean Literary Festival (Festival Sastra Asia Tenggara), yang dihadiri oleh perwakilan 15 negara, dan Indonesia sebagai tuan rumahnya. Sehari-hari ia bekerja sebagai redaktur sastra di harian Media Indonesia, di Jakarta. 


semoga berkenan dan dapat membantu kelancaran tugas sekolah Saudara.
terimakasih telah membaca dan mengapresiasi cerpen "Juru Masak"
sekiranya masih ada informasi yang saudara perlukan, saya bisa dihubungi di email: telah.insyaf@gmail.com atau akun twitter @damhurimuhammad


salam hangat

Damhuri Muhammad

Thursday, June 26, 2014

Perempuanologi


catatan ringan untuk buku "Negeri Atas Angin" kumpulan cerpen karya Wina Bojonegoro



 

1.
Laki-laki sebagai Prosa, Perempuan sebagai Puisi


Saya punya dua anak. Satu laki-laki, satu perempuan. Jarak usia mereka hanya terpaut tiga tahun. Semula saya mempercayai laki-laki atau perempuan sama saja, sebagaimana jargon program Keluarga Berencana (KB) warisan penguasa Orde Baru. Sama-sama bakal diasuh-dibesarkan, dituntun, dididik hingga mereka tumbuh menjadi anak-anak masa datang, yang mampu tegak dengan kaki sendiri, mampu merancang hidupnya secara mandiri. Namun--setelah menjadi ayah bagi sepasang anak yang akan saya kenang sebagai bagian paling ajaib dalam hidup saya--ternyata saya keliru besar. Laki-laki dan perempuan rupanya ibarat langit dan bumi. Bila laki-laki dapat diamsalkan sebagai prosa, maka perempuan adalah puisi. Yang disebut pertama luwes, sportif, stabil, dan konsisten. Sementara yang kedua, maju-mundur, tarik-ulur, labil, dan inkonsisten. Pendeknya, perempuan adalah sebuah kompleksitas yang runyam sekaligus misterius.
Anak laki-laki saya gampang diberi pengertian--apalagi dengan memberi contoh--dan mudah diajak bernegosiasi. Meski tingkahnya urakan dan aktivitas fisiknya lebih aktif, saya sama sekali tidak kesulitan mengendalikannya. Bila hendak melarang sebuah aksi yang membahayakan keamanannya, saya cukup menatap matanya tanpa harus berkata-kata. Ia pun paham, lalu mundur teratur. Atau bilamana saya hendak mengajarkan sesuatu, hanya perlu sekali-dua saya memberi contoh di hadapannya, ia mengerti dan selanjutnya ia akan terbiasa. Tapi anak perempuan? Sejak usia tiga tahun, ia sudah terasa sangat berbeda. Judes dan cerewetnya mulai muncul. Sinisme dalam setiap ungkapannya yang masih cadel itu, mampu membangkitkan kembali ingatan saya pada perempuan-perempuan masa silam, yang pernah saya kenali. Ngomongnya meletup-letup seperti suara kacang yang merengkah-rengkah dalam wajan penggorengan. Apa saja dikomentarinya, nyinyir ditanyakannya dengan nada sinis, hingga tak jarang saya juga sinis memberi jawaban.
Ia selalu meminta perhatian lebih. Keranjingan dipuji. Manja minta ampun, dan yang paling ajaib adalah merajuk tanpa sebab. Saya pernah iseng mencatat daftar permintaan ganjilnya. Dalam sehari, tak kurang dari 85 permintaan, meski waktu saya bersamanya sangat terbatas bersamanya. Bangun tidur, ia minta dipeluk, lalu minta susu. Saat saya mulai berkemas, ia minta boneka Barbie yang lupa ia taruh sebelum tidur. Begitu saya di kamar mandi, ia berteriak dari kamar, meminta saya segera keluar karena ia kebelet pipis. Sesaat saya mengecek surat-surat elektronik sebelum berangkat, ia minta dicarikan satu properti mainan alat-alat memasak yang hilang entah di mana. Baru mulai online, ia minta baju bermotif Hello Kitty yang katanya akan dipakai selepas mandi. Sebelum berangkat, tepatnya ketika satu-dua suap sarapan pagi mendarat masuk mulut, ia minta dicebokin karena sudah selesai BAB, hingga jadilah saya masuk kamar mandi lagi.
Itu baru kesibukan-kesibukan kecil yang sudah menyehari bersamanya. Belum termasuk bisikan-bisikan di kuping sesaat sebelum saya meninggalkan rumah. Sepatu kets warna pink, kaos kaki motif Angry Bird, DVD Bakcyardigan seri terkini, yang sudah harus ada di dalam tas kerja saya nanti malam. Bila kurang yakin punya waktu yang cukup untuk mencari pesanan nyonya kecil itu, maka jangan terlalu banyak mengumbar janji. Sebab, kurang satu pesanan saja, risikonya berat. Saya akan dicuekin. Pelukan saya akan ditolak dengan memasang bibir manyun. Pendeknya, saya akan dibuat merasa bersalah, lalu membujuk-bujuknya dengan sejumlah janji baru. Itu juga masih terbilang biasa. Adapun yang paling ganjil adalah merajuk tak tentu sebab. Tak ada angin tak hujan, tiba-tiba berubah dingin. Tak mau diajak bercanda, tidak tergiur oleh tawaran es krim, tidak menjawab bila ditanya “ada apa?”. Banyak modus telah dicoba, ia tetap manyun dengan muka cemrungut, hingga saya tidak tahu lagi cara merayunya. Dalam situasi kalut seperti itu, saya hanya bisa bilang pada ibunya; “tolong urus anakmu, saya repot!”
Begitulah tabiat anak perempuan saya yang baru menanjak 5 tahun. Anehnya, semua “keganjilan” yang saya lihat dalam personalitasnya, juga pernah saya hadapi pada masa-masa ketika saya berteman dekat dengan beberapa perempuan, di masa lalu tentunya. Pertanyaan saya adalah, apakah semua perempuan begitu? Sulit ditebak isi hatinya, gampang merajuk tanpa sebab, gandrung memonopoli perhatian, dan gemar membuat lawan jenisnya merasa bersalah, hingga harus bertekuk lutut di hadapannya. 


Serba-serbi keganjilan, atau barangkali “keanehan” tabiat perempuan inilah yang saya catat dari beberapa cerpen karya Wina Bojonegoro dalam buku ini. Naomi dalam cerpen Rumah Rahasia misalnya. Ia tampil seolah-olah  peduli dan bersimpati pada kaumnya sesama perempuan, terutama Layla. Tapi dalam kenyataannya, ia tidak sudi kehilangan perhatian dari Kiby. Buktinya, sudah tujuh tahun ia “menguasai” Kiby. Naomi dan Kiby membangun sebuah rumah rahasia, di luar rumah “resmi” masing-masing. Pengarang kemudian merancang sebuah adegan yang bercorak sinetronik, yang membuat Layla akhirnya menemukan rumah rahasia itu. Pasti dapat ditebak apa yang terjadi dalam peristiwa tatap mata segitiga itu; Layla, Naomi, Kiby. Dikatakan, rahasia Kiby-Naomi terbongkar, Layla tahu ternyata suaminya telah menjalin hubungan dengan Naomi, seniman musik terkemuka itu, jauh sebelum ia menikah dengan Kiby. Anehnya, dalam cerpen ini, tabiat keperempuanan Naomi terasa lebih alamiah dan kodrati; menguasai, merebut perhatian, bahkan dalam batas-batas tertentu, mempertahankan Kiby dalam situasi bersalah bila abai mendatangi “rumah rahasia”. Sementara Layla, problemnya terasa klasik, klise, dan banal; dinikahi hanya untuk mendapatkan keturunan, mungkin hidup dalam keberlimpahan, namun tanpa cinta. Wina lebih memperlihatkan “kemenangan” Naomi ketimbang upaya perlawanan Layla. Ia seolah-olah hendak mengafirmasi bahwa perempuan memang bermuka dua. Mendapatkan cinta kalau bisa, dan menguasainya sekaligus, bila perlu.   

2.
Dua Muka Kaum Perempuan
           
Saya punya sejawat yang hingga kini masih bertahan sebagai bujangan. Pasalnya hampir-hampir bisa diterka; patah hati. Namun, riwayat putus-cinta yang satu ini agak berbeda. Di masa lalu ia pernah jatuh pada seorang perempuan. Kebetulan perempuan itu sudah janda dan beranak dua, pula. Namun, sejawat saya itu menyadari betapa orangtuanya--khususnya ibunya--tiada bakal merelakan anak bujangnya mempersunting perempuan yang tidak sepadan. Lazimnya, perjaka tingting  tentu selayaknya mendapatkan perawan. Sebagai anak yang patuh, ia tidak mampu berhadapan dengan kehendak ibunya. Maka, ia memilih untuk mengalah, dan hingga kini tidak lagi tertarik untuk menikah. Poin penting saya dalam kisah ini adalah ibunda dari sejawat saya. Ia ingin anak bujangnya menikah dan berbahagia dengan pasangannya, tapi tidak dengan menikahi janda. Sebab, ia merasa rugi bila menantunya “hanya” seorang janda, beranak dua pula. Dengan begitu, atas kehendak dan otoritasnya, ia mesti tega melihat anaknya membujang, bahkan mungkin untuk selamanya. Peristiwa ini terjadi dalam cerpen Lebaran Untuk Palupi. Ibunda Sakti sama sekali tidak menduga bila anaknya ternyata kecantol pada Palupi, janda beranak dua. Perempuan itu teman sekolah Sakti di masa lalu, setelah beberapa tahun mereka bertemu kembali, hingga dapat pula ditebak apa yang terjadi. Sakti dianggap melanggar kelaziman, namun dalam cerpen ini pengarang mengisahkan bahwa hubungan Sakti-Palupi akhirnya disetujui. Meski begitu, batin sang mertua masih saja bergolak. “Dengan segala kelebihan yang dia punya, mestinya ia pantas mendapatkan gadis jelita dengan karir mantap dan dari keluarga baik-baik.” Persoalannya hanya karena Sakti memang sudah mesti menikah, dan karena itu bagi ibunya; janda pun jadi, asal mau menikah. Namun, kompromi semacam itu, tidak dapat membuat perempuan terselamatkan dari mentalitas standar ganda.
            Situasi dilematis semacam itu terulang kembali dalam cerpen Hujan Bulan Januari. Bedanya, kali ini perempuan perawan yang jatuh cinta pada laki-laki yang sudah berkeluarga. Sedemikian kerasnya karakter tokoh rekaan bernama Pelangi itu, ibundanya sendiri tidak memiliki kekuatan untuk menghadang langkah anak gadisnya. Meski sudah berkali-kali diingatkan betapa bejatnya perangai merampas suami orang, Pelangi tiada goyah sedikitpun. Bahkan ibunya sudah berterus-terus bahwa di masa silam ayahnya pergi, juga karena diambil oleh perempuan lain. Ibunya tidak lain adalah korban dari perempuan selingkuhan, sementara Pelangi melakukan perbuatan serupa secara terang-terangan. Suatu ketika diceritakan, setelah cukup lama mengayuh bahtera keluarga, Pelangi kena batunya juga. Suaminya pergi dan tak kembali. Ia harus berjuang sendiri membesarkan anak-anak.Pelangi jadi tahu betapa menyakitkan dikhianati laki-laki.
Pertanyaan pentingnya adalah, kenapa ketika Sakti--laki-laki dalam cerpen Lebaran Untuk Palupi--menikahi seorang janda, pengarang tidak menceritakan betapa terhinanya Palupi yang dipandang sebelah mata, atau katakanlah direndahkan oleh calon mertuanya? Sementara ketika Pelangi--perempuan dalam cerpen Hujan Bulan Januari--memilih laki-laki yang sudah punya istri sebagai suami, pengarang begitu gairah membangun peristiwa dramatik tentang sedemikian tragisnya nasib perempuan yang dilukai oleh laki-laki? Kalau begitu, apa pilihan pretensi pengarang yang sesungguhnya? Membela perempuan yang dilemahkan oleh laki-laki, atau justru berdiri di pihak laki-laki yang sepanjang hidupnya dikendalikan oleh kuasa perempuan?
Mentalitas standar ganda perempuan juga berlangsung dalam cerpen bertajuk Mozaik. Betapa tidak? Lewat tokoh bernama Jo, guru privat piano yang kemudian menjadi pasangan selingkuh nyonya rumah bernama Vie, kisah bergulir memperlihatkan betapa Jo hanya berperan sebagai pelampiasan atas kekecewaan Vie akibat perlakuan suaminya. Laki-laki yang dibayar oleh Bram (suami Vie) untuk menjadi guru piano agar istrinya punya kesibukan, mampu membaca betapa dirinya tak lebih dari sekadar oase di tengah padang gersang hubungan Bram-Vie. Namun, jika ditilik dengan perspektif lain, cerpen ini sesungguhnya tidak hendak menyumpahi permainan liar Bram dengan perempuan-perempuan selingkuhannya, melainkan justru menegaskan betapa berkuasa Vie. Tengoklah, ia berhasil menguasai suaminya dalam urusan uang dan gelimang kemewahan. Pengarang menyebut Bram sebagai mesin ATM bagi Vie, sementara Jo adalah laki-laki idaman yang juga berhasil ia rengkuh untuk mereguk kepuasan yang lain. Alhasil, atas nama harga diri, Bram kemudian menembak mati Jo, laki-laki yang telah meniduri istrinya. Pertanyaannya, bukankah dalam peristiwa ini, Bram dan Jo adalah korban dari siasat keperempuanan Vie? Nyonya besar itu memang mengutuk kebejatan suaminya, tapi bukankah ia masih dapat memanfaatkan Bram suaminya? Maka, alih-alih hendak memonumentasikan petaka kaum perempuan, Wina akhirnya malah terjerumus menegaskan kuasa perempuan atas laki-laki.    
Akibat-akibat tak tersengaja yang akhirnya menyingkap dua muka kaum perempuan sebagaimana yang terjadi dalam beberapa cerpen Wina, mengingatkan saya pada sebuah film berjudul  Las Vegas (2013). Berkisah tentang empat orang laki-laki (Robert De Niro, Michael Douglas, Morgan Freeman, Kevin Kline) yang bersahabat sejak masa kanak-kanak hingga usia mereka mendekati 60 tahun. Billy--yang diperankan oleh aktor kawakan Michael Douglas--diceritakan akan mengakhiri masa lajangnya di usia 58 tahun dengan sebuah pesta di Las Vegas. Ia menyampaikan kabar baik itu pada Paddy (Robert De Niro), Archie (Morgan Freeman) dan Sam (Kevin Kline) yang tinggal di kota berbeda-beda.  Berita ini cukup mengagetkan bagi tiga orang sahabat Billy. Betapa tidak?  Bukan saja karena Billy hendak menikahi gadis yang terlalu muda untuk ukuran usianya yang sudah hampir berkepala enam, tetapi juga karena mereka hampir mempercayai bahwa Billy akan membujang seumur hidupnya. Namun, atas dasar kesetiaan, dengan segala keterbatasan di usia tua, mereka tetap datang ke Las Vegas. Bahkan Paddy yang baru saja kematian istri dan sangat kecewa pada Billy, setelah dibujuk akhirnya juga bergabung dalam perjalanan yang melelahkan ke  Las Vegas. Paddy hampir-hampir tidak bisa memaafkan kesalahan Billy. Betapa tidak?  Mereka berteman sejak usia 7 tahun, tapi Billy tidak datang pada hari pemakaman Sophie, istri Paddy. Padahal, di masa berkabung itu, Paddy sangat mengharapkan kedatangan sejawat-sejawat karibnya--apalagi Billy--yang diinginkannya untuk menyampaikan pidato pemakaman Sophie. Namun, dalam keriuhan pesta di Las Vegas akhirnya terungkap juga penyebab kesalahan fatal Billy itu. Di masa muda, Billy dan Paddy ternyata jatuh cinta pada perempuan yang sama; Sophie. Paddy dan Billy meminta Sophie untuk memilih, dan mereka sama-sama siap untuk menerima kenyataan. Dikisahkan, ternyata Sophie mendatangi Billy, ia menjatuhkan pilihan pada laki-laki itu. Dengan begitu, Paddy mesti mengalah. Namun, Billy tidak sampai hati membiarkan sahabatnya terluka karena ditolak cintanya. Tanpa sepengetahuan Paddy, ia meminta Sophie mendatangi Paddy, dan meminta perempuan yang dicintainya itu untuk memilih dan mencintai Paddy saja.  Billy tidak tega melihat teman setianya kecewa. Alhasil, Sophie benar-benar memilih Paddy, mereka menikah, dan rahasia tentang kedatangan Sophie ke rumah Billy, tentang permintaan Billy agar Sophie mencintai Paddy, tersimpan rapi bahkan hingga Sophie meninggal dunia.
Pertanyaan pentingnya adalah, kenapa Sophie mau saja melenggang dan meninggalkan Billy? Padahal sudah jelas pilihan jatuh pada laki-laki itu. Apakah cinta bisa berubah haluan seketika? Bagaimana dengan teori-teori yang mengklaim perempuan lebih setia dari laki-laki. Apakah batinnya tidak bergejolak ketika melihat orang yang disayanginya merana seumur-umur? Inilah kerunyaman personalitas perempuan yang nyaris tak dapat dijelaskan, meskipun korbannya telah berjatuhan di mana-mana. 

3.
Sebuah Kemungkinan Perempuanologi?

Hingga ulasan sederhana ini saya tulis, saya masih angkat tangan dengan lapisan-lapisan topeng yang senantiasa menutupi wajah perempuan. Saya sungguh-sungguh belum berhasil menyelami kedalaman dunia keperempuanan. Perempuan, bagi saya, bagai sumur tanpa dasar. Tiada bakal ada ujungnya. Barangkali Anda tidak pernah membayangkan ada seorang perempuan yang menyelenggarakan majelis Yasinan keluarga, guna meyakinkan bahwa anak laki-lakinya sudah mati. Padahal anaknya masih sehat dan segar-bugar, nun jauh di tanah rantau. Pasalnya sederhana,  anaknya menikah dengan perempuan rantau, tidak direstui, dihukum haram menginjak kampung halaman, dan dianggap sudah tiada. Itu sebabnya dibacakan Yasin. Bukan untuk mendoakan arwahnya, melainkan untuk memaklumatkan pada khalayak bahwa anak durhaka itu sudah meninggal. Perempuan dan ibu macam apa yang bisa segila itu? Saya pastikan ia nyata adanya.
       Dapatkah disiplin ilmu sosial semacam psikologi menjelaskan tentang perempuan yang berkesimpulan bulat bahwa kekasihnya tidak lagi mencintainya hanya karena laki-laki itu lupa hari ulang tahunnya? Atau hanya karena pasangan laki-lakinya lupa warna pink kesukaannya? Bagaimana mungkin hal-hal remeh dapat menjadi tolak ukur cinta atau tidak-cinta? Percaya atau tidak, di kurun mutakhir ini banyak pasangan putus di tengah jalan hanya karena laki-lakinya tidak gandrung bertanya; “apa kabarmu say?” “lagi di mana”? “Lagi ngapa,” “Udah makan belum?”. Tapi anehnya, karena kuasa perempuan, laki-laki sekeras dan sekaku apapun, bisa bersimpuh di hadapannya. Teman tajir saya yang seumur-umur tidak pernah memikul beban berat, demi seorang perempuan pujaan, rela hati mengusung dan menjinjing barang bawaan di bandara. Laki-laki yang tidak biasa berbelanja barang-barang keperluan perempuan, bisa dibuat pulang dengan tas belanjaan berisi lingerie, celana dalam, bahkan pembalut wanita. Itu semua bisa terjadi karena kuasa perempuan yang menakjubkan itu.
Jangan coba-coba mengabaikan perempuan, Anda bisa menderita dibuatnya. Tengoklah berapa banyak laki-laki yang siap berbaku-hantam demi perempuan, laki-laki yang setengah gila setelah ditinggal pergi perempuannya, laki-laki yang menyia-nyiakan keluarga demi perempuan selingkuhannya, laki-laki yang hancur berantakan karirnya karena perempuan, bahkan laki-laki yang jatuh merana lantaran kekayaannya dikuras-tuntas oleh perempuan pujaan. Saya tidak bisa memahami mengapa perempuan bisa setangguh itu? Memasuki dunia keperempuanan bagi saya, seperti memasuki alam metafisis, yang tiada bakal tersingkap misterinya. Seorang sahabat, korban kedigdayaan perempuan, pernah mengungkapkan bahwa kalau Saudara ingin tahu siapa sesungguhnya makhluk bernama perempuan, hanya ada satu cara; menjadi perempuan. Masuki alam bawah sadarnya, sibak semua lapisan tabirnya, lepaskan semua topengnya.  Ia menyebut studinya dengan “Perempuanologi”. Sebuah disiplin yang belum terdaftar dalam khazanah ilmu-ilmu sosial dan humaniora mutakhir.  
Sebagian besar cerpen karya Wina Bojonegoro dalam buku ini berkemungkinan menyediakan banyak pintu menuju alam keperempuanan yang menyimpan banyak tanda tanya, misteri, dan teka-teki itu. Namun, betapapun runyamnya hidup berdampingan dengan perempuan, betapapun repotnya melayani segala kebutuhan perempuan, betapapun abu-abunya warna perempuan, hingga saat ini, anehnya, saya belum sanggup hidup tanpa perempuan…

Tuesday, April 01, 2014

Sebuah Kemungkinan bagi Sastra Asia Tenggara

-->

Damhuri  Muhammad


 (Kompas, 30 Maret 2014)






Harapan untuk menjadi bagian dari sastra dunia, sejak beberapa tahun belakangan, beralih-rupa menjadi keresahan dalam ranah sastra Indonesia. Banyak sastrawan mengeluh lantaran sulitnya akses untuk penerjemahan karya-karya mereka ke dalam bahasa asing. Organisasi penerbit lebih tampak berperan sebagi EO (event organizer) pameran buku ketimbang merancang program-program yang terukur, guna mengantarkan sastra Indonesia ke gerbang sastra dunia. Begitu juga lembaga pemerintah yang berperan menjalankan kerja diplomasi kebudayaan, belum menunjukkan perhatian pada sastra, sebagai bagian dari identitas Indonesia. Satu-dua novel Indonesia telah diterbitkan oleh penerbit major label di luar negeri, namun diupayakan oleh individu sastrawan yang bersangkutan.
        Para sastrawan gelisah, karena tidak maju-maju, tak berpeluang terseleksi oleh komite juri Nobel sastra, dan merasa tertinggal oleh tradisi sastra di negara-negara Asia lainnya. Inferioritas semacam ini cukup membebani iklim kekaryaan. Seolah-olah, penerjemahan itu satu-satunya jalan guna membuat sastra kita go international. Muncul kesan, sastra Indonesia bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, jika belum tersedia dalam bahasa asing, sehingga upaya menawarkan buku-buku sastra ke penerbit-penerbit asing adalah harga mati yang tak mungkin dihindari.
Dalam arti sesungguhnya, dapatkah karya sastra diterjemahkan? Bisakah cita-rasa bahasa dalam sebait puisi dipindahkan begitu saja ke dalam bahasa yang berbeda alam kulturalnya? Berapa banyak penerjemah yang akhirnya menyerah dalam menerjemahkan istilah khas Indonesia yang tak ada padanannya dalam bahasa asing? Hitung pula berapa banyak novelis yang merasa ungkapan prosaiknya terdistorsi, bahkan digunting semena-mena, oleh kerja terjemahan.
Kesusasteraan, di belahan dunia manapun, lahir karena para sastrawan berhadap-hadapan dengan kerunyaman persoalan bangsanya masing-masing. Wiji Thukul mendedahkan sajak-sajak perlawanan dalam corak yang militan karena iklim ketertindasan akibat represi rejim otoritarianisme Orde Baru. Begitu juga dengan novel-novel Pramoedya Ananta Toer, yang lahir dari gelora semangat kebangsaan kaum terdidik pribumi. Para peneliti asing mustahil dapat memahami, apalagi mendalaminya, bila hanya mengandalkan teks terjemahan Inggris. Bila mereka ingin menyelami kedalaman sastra Indonesia, jalan yang paling patut adalah tinggallah bertahun-tahun di Indonesia, pelajari kebudayaannya, dalami bahasanya! Itulah yang dilakukan  Hary Aveling, Keith Foulcher, Andy Fuller, dan lain-lain.
Bila kita hendak melakukan studi tentang sebuah tradisi sastra, katakanlah sastra Prancis, kita rela untuk bertahun-tahun mempelajari bahasa dan kebudayaan bangsa itu, karena tidak cukup hanya dengan membaca teks terjemahan  Inggrisnya. Maka, kalau ada orang asing yang ingin tahu tentang sastra Indonesia, adalah lazim jika ia berkenan mempelajari bahasa Indonesia, fondasi utama sastra kita. Tak sekadar membaca teks yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa mereka. Maka, para praktisi sastra tidak perlu mengeluh, apalagi meniscayakan bahwa ukuran maju atau tidak-majunya sastra adalah terbit atau tidak-terbitnya karya mereka dalam bahasa Inggris.
Alih-alih kasak-kusuk mencari peluang penerjemahan, kenapa tidak mutu yang diperbaiki, kenapa tidak kedalaman yang terus digali? Mo Yan, novelis asal China pemenang Nobel 2012, juga tidak menulis dalam bahasa Inggris, tapi dalam bahasa bangsanya. Lantaran dianggap penting dan mengandung kedalaman, penerbit asing datang meminangnya. Novelis kawakan Iwan Simatupang yang bertahun-tahun hidup di Eropa, penyair Sitor Situmorang yang bermukim di Paris, tidak pernah terpanggil untuk menulis dalam bahasa asing. Iwan dan Sitor tetap menulis dalam bahasa Indonesia, bahasa ibunya, bahasa yang membesarkannya. Kenapa kita mesti uring-uringan dengan impian semu dari kerja penerjemahan? Go international bukan sekadar persoalan bahasa. Penyair Afrizal Malna yang kerap menjadi peserta writer in resident di Eropa, mengaku hanya bisa menulis dalam bahasa Indonesia dan tidak pandai bercakap-cakap Inggris, tetap saja puisinya dikaji karena dianggap penting dan bermutu.      
            Sindrom Eropasentrisme semacam inilah yang hendak direspon oleh Asean Literary Festival 2014. Peristiwa seni yang dibuhul dalam semangat geopolitik Asia Tenggara itu menggagas sebuah kemungkinan bagi munculnya habitus baru; Sastra Asia Tenggara. Iklim kesusastraan di negara-negara ASEAN memiliki satu garis identifikasi persoalan serupa. Indonesia, Philipina, Vietnam, Laos, Thailand, Myanmar, Combodia, adalah negara yang sama-sama merasakan terjangan kaki kolonianisme, dan pada masa-masa selanjutnya mengalami situasi politik yang dikuasai rejim otoriter. Pete Lacaba tercatat sebagai tokoh perlawanan terhadap rejim Marcos di Philipina. Sastra di negerinya berhadapan dengan represi dan pengekangan terhadap kebebasan berekspresi.
Maka, terminologi “Sastra Asia Tenggara” menjadi sebuah hipotesa yang diuji kemungkinannya dalam forum ALF 2014. Apakah “sastra kolonial” dalam kawasan geopolitik Asia Tenggara dapat dibuhul menjadi sebuah kesatuan tematik? Apakah perlawanan terhadap kaum kolonial dalam karya-karya mereka tidak akan membuat jurang pemisah dengan tradisi sastra dunia--yang identik dengan kolonialisme? Dengan begitu, bisa saja Sastra Asia Tenggara tegak dan berdiri sendiri, tanpa harus bergantung pada Eropa dan Amerika. Selain itu, dapatkah Sastra Asia Tenggara menjadi pintu masuk bagi kajian akademik bernama  studi  Sastra Asia Tenggara?
  








ALF 2014 yang digagas oleh Yayasan Muara--lembaga non-pemerintah yang menaruh perhatian pada dunia seni budaya--dihadiri oleh perwakilan 13 negara ASEAN, dan beberapa sastrawan serta peneliti sastra dari negara non-ASEAN seperti Na Ye, Wang Gan (Cina), Choi Jeongrye (Korea Selatan),  Laura Schuurman (Belanda), Andy Fuller (Australia). Festival yang dibuka dengan kuliah publik oleh novelis terkemuka Philipina, Pete Lacaba, tersebut dihadiri oleh 800-an peserta dari kalangan pembaca sastra, baik dalam maupun luar negeri. ALF yang pertama kali diselenggarakan dan Indonesia berperan sebagai tuan rumah itu, memberikan anugerah sastra pada Wiji Thukul, atas dedikasi dan konsistensinya pada dunia kepenyairan, meski ia mengalami nasib yang tragis.
You are not a writer, but a salesman, begitu sindirin seorang narasumber menanggapi pertanyaan seorang novelis tentang sukarnya akses penerjemahan ke bahasa asing. Sinisme itu dapat dimaklumi, pekerjaan penulis semestinya hanya berkarya, tak perlu repot memikirkan bagaimana bukunya dapat diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Bila itu yang terjadi, pengarang akan beralih-rupa menjadi pedagang (salesman).
“Saya tidak terlalu gembira bila puisi saya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris,” kata penyair Joko Pinurbo, dalam sebuah perbincangan di Writer’s Corner dengan beberapa penulis muda seperti Arafat Nur (Aceh), Aprila R.A Wayar (Papua), Dicky Senda (Kupang), Zelfeni Wimra (Padang), dan lain-lain. Tak kurang dari 35 sastrawan Indonesia dari berbagai daerah hadir dalam forum ALF 2014. “Saya menggeluti sastra karena masalah-masalah bangsa saya. Dunia tahu atau tidak, saya tidak peduli,” ungkap penyair Hanna Fransisca. Sastra kita tidaklah akan menjadi rendah, dan para sastrawan tidak perlu merasa inferior, hanya karena buku-buku mereka belum atau tidak dialih-bahasakan. Sebab, bangsa kita sendirilah yang akan membesarkannya…


Wednesday, December 04, 2013

Artefak Kenangan Mo Yan


Oleh: Damhuri Muhammad

 (Majalah TEMPO edisi 25 Nov-1 Des 2013)



Di tangan Mo Yan (novelis asal Cina pemenang Nobel sastra 2012) truk rongsokan dapat menjadi gagasan hidup lantaran impresi-impresi prosaiknya. Dalam novel bertajuk Di Bawah Bendera Merah, Gaz 51 (truk militer buatan Soviet), tak sekadar ornamen, tapi terpancang sebagai tiang pengisahan. Dari awal hingga akhir, setiap cabang dan ranting cerita tak bisa lepas dari riwayat kendaraan militer yang telah berjasa bagi Cina itu---utamanya dalam urusan pengiriman logistik semasa perang melawan agresi AS (1950).
          Novel yang dicetuskan sebagai memoar ini dibuka dengan kisah ketakmujuran Mo Yan di masa SD di Gaomi, provinsi Shandong. Ia dikeluarkan dari sekolah setelah ketahuan mengejek seorang guru yang bermulut besar, hingga kawan-kawannya menggelari guru itu dengan Liu Mulut Besar. Padahal, Mo Yan sekadar membandingkan ukuran mulutnya---yang juga besar---dengan mulut guru itu. Ia sedang menakar buruk muka sendiri, meski dalih itu tak pernah diungkapkan.
Mo Yan terobsesi ingin menyetir Gaz 51, truk yang saban hari mengepulkan debu jalan desanya. Pemiliknya adalah ayah Lu Wenli, perempuan paling cantik di kelasnya. Baginya, Gaz 51 tangguh dan berkuasa. Bebas melindas ayam dan membuat anjing-anjing kudisan berhamburan masuk selokan. Bila ada hewan yang tertabrak, ia akan terus melaju kencang. Tak ada yang berani protes, apalagi menagih ganti rugi. Maklum, ayah Lu Wenli bekas sopir Tentara Pembebasan Rakyat yang dikaryakan di wilayah pertanian negara. Itu sebabnya Mo Yan tak ragu bercita-cita; ingin menjadi sopir truk. Obsesi serupa juga dimiliki oleh teman kelas Mo Yan yang lain, He Zhiwu. Tak sekadar ingin bisa menyetir Gaz 51, tapi impian utamanya adalah menjadi “ayah” Lu Wenli. Di masa itu, tak seorang pun tahu, termasuk guru Liu, guru Zhang, perihal maksud dari cita-cita ganjil Zhiwu. 
Sejarah menggiring Mo Yan pada peruntungan yang lebih cemerlang. Bermula dari tugas menulis surat dari komandan, keterampilan menulisnya terasah, hingga pada 1981 cerpen pertamanya, Malam Musim Semi Berhujan,  tersiar di majalah lokal. Lalu, ia menekuni dunia kepengarangan di jurusan sastra Institut Seni Ketentaraan. Tak lama berselang, novelnya Red Sorghum (1986) beroleh apresiasi luas, bahkan difilmkan oleh sutradara kondang, Zhang Yimou. Aktor handal Gong Li dan Jiang Wen bermain di film itu. Dunia Mo Yan berubah drastis. Ia ternobat sebagai pengarang ternama. Redaksi judul Di Bawah Bendera Merah, sementara edisi Inggrisnya berjudul Change (2010), dan sampul depan dengan ilustrasi bocah berseragam tentara yang duduk di atas truk militer sambil mengangkat bendera merah, mengesankan novel ini berkisah tentang pencapaian politis Mo Yan menjadi komunis, padahal hanya perihal cita-cita kecil, pahit-getir anak petani miskin, hingga pencapaian literer Mo Yan menjadi novelis kawakan.    
Kritikus buku Arman Dani, dalam ulasannya terhadap Big Breasts an Wide Hips (2011), menyebut Mo Yan  sebagai paradoks hidup. Ia meraih Nobel sastra karena karya-karyanya berbicara tentang represi, narasi kecil, dan segregasi jender yang masih ketat di Cina, tapi di sisi lain ia mendukung sensor oleh Partai Komunis Cina, dan menolak untuk mendukung petisi pembebasan aktivis pro demokrasi, Liu Xiaobo. Tapi, dalam pidato anugerah Nobel 2012, Mo Yan mendesak pemerintah Cina untuk segera membebaskan Liu Xiaobo.
Gaz 51 sebagai artefak kenangan yang diperlakukan sebagai benda hidup, menghubungkan Mo Yan dengan He Zhiwu, lebih-lebih dengan Lu Wenli. Saat bertugas sebagai tentara, ia bertemu dengan truk sejenis, yang diandaikannya sebagai kembaran dari Gaz 51 milik ayah Lu Wenli. Ia ingin pulang ke Gaomi guna mempertemukan dua Gaz 51, yang menurutnya bagai sepasang kekasih yang lama terpisah. Mo Yan menghadirkan romansa lapuk He Zhiwu, yang ternyata sejak masa bersekolah di Gaomi  telah mencintai Lu Wenli. Itu sebabnya ia mengaku tidak punya cita-cita, kecuali hasrat ingin menjadi “ayah” Lu Wenli. Bukan untuk menjadi sopir truk, tapi ingin mempersunting gadis itu kelak bila ia sudah kaya. Zhiwu membeli Gaz 51 dari ayah Lu Wenli dengan harga yang terbilang gila; 8000 yuan. Bukan perkara truk uzur itu, tapi soal cara menaklukkan hati gadis pujaannya. Lu Wenli menolak, karena ia telah bertunangan dengan laki-laki terpandang, putra seorang petinggi partai komunis.
Menimbang gelagat pengisahan novel ini, agaknya Mo Yan juga menyimpan hasrat pada Lu Wenli, meski ia tak pernah menegaskannya. Pada sebuah kesempatan berkunjung ke Gaomi, ia mencari Lu Wenli ke tempat kerjanya. Tapi, karena respon gadis itu dingin, Mo Yan mundur. Mo Yan tak pernah mengungkapkan kisah cintanya, meski senantiasa ada keinginan untuk mendengar kabar tentang Lu Wenli. Patut dicurigai, baik He Zhiwu maupun Mo Yan tiada sungguh-sungguh menggilai Gaz 51, tapi sama-sama mencintai Lu Wenli.
Lu Wenli akhirnya bercerai dengan suaminya. Pada He Zhiwu ia mengaku sudah salah pilih. Ia bermohon agar Zhiwu berkenan menikahinya, tapi Zhiwu telah menikahi perempuan peranakan Rusia yang bersetia padanya. Lu Wenli kemudian jatuh ke pangkuan guru Liu, si Mulut Besar. Kenyataan yang tak pernah diduga Mo Yan.
Mo Yan makin berkibar, wajahnya kerap muncul di layar kaca. Undangan juri festival Maoqiang (seni drama budaya Cina), membuat ia kembali berkunjung ke Gaomi. Dalam keterpurukan setelah kematian suami, sekali lagi Lu Wenli memberanikan diri menemui kawan lama. Ia tidak minta dikasihani lagi, tapi sekadar memohon pada Mo Yan, agar putrinya lolos sebagai peserta festival. Mo Yan sadar, tubuh Lu Wenli sudah rongsok, bagian-bagian yang seksi di masa belia telah bengkak di sana-sini, sebagaimana nasib truk Gaz 51. Tapi tiada alasan untuk tidak berbaik hati. Truk sisa perang saja membuat ia tergila-gila, apalagi Lu Wenli, perempuan masa silam, yang boleh jadi amat disayanginya. Inilah asmara bersahaja garapan novelis kelas dunia. Sederhana tapi tidak murahan. Para pelakunya bagai tak terluka, padahal eskalasi kepedihannya berpotensi menjadi kekal di sepanjang usia.   


DATA BUKU


Judul               : Di Bawah Bendera Merah
Penulis            : Mo Yan
Penerjemah     : Fahmy Yamani
Penerbit          : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan           : I, Juli 2013
Tebal               : 114 hlm




Tuesday, October 01, 2013

Lelaki Ragi dan Perempuan Santan


Cerpen: Damhuri Muhammad
 
 
(Kompas, Minggu, 29 September 2013)
  
Apa jadinya lemang tanpa tapai?  Tanpa manis tapai, manalah mungkin legit lemang dapat digapai? Barangkali itu sebabnya buah tangan yang kau bawa dari pekan ke pekan tiada beralih dari lemang-tapai. Padahal, sekali waktu bolehlah rantangmu berisi paniaram, lepat-pisang, atau limping-rebus, dagangan emakmu yang lain. “Persekutuan kita seperti pasangan lemang-tapai ini,” dalihmu. Selalu.
Perihal selera tentu aku bersetuju. Tapi, pernahkah kau menimbang asal mula pasangan lemang-tapai yang hakikatnya saling bertolak-belakang?  Bukankah lemang ditanak dengan pati santan, hingga usianya tiada lebih dari satu hari? Bila tak lekas disuguhkan, tentu akan terbuang sebagai sipulut basi. Sementara bukankah tapai matang lantaran ragi? Makin diperam makin ajaib rasa manisnya.Tapai senantiasa melesat menuju aras keabadian, sedangkan lemang mundur ke ranah kesementaraan. “Akulah lemang, engkaulah tapai. Cintaku basi tanpamu, ikrarmu. Selalu.
          Lantaran lemang-tapai itu, kuabaikan rantang-rantang gulai kentang yang datang silih berganti. Kau tahu, di kampung ini hantaran gulai kentang adalah bahasa pinangan paling santun. Mungkin tampak murah dan sederhana--sebab tanpa campuran daging--tapi ia mengandung kiasan yang kedalamannya hingga kini belum tergantikan. Kuah yang kental, kentang yang kempuh sempurna, bagai mencerminkan kesungguhan niat dan ketulusan perasaan keluarga yang hendak beroleh menantu. Masa itu, selepas wisuda sarjana, sembari menunggu peluang kerja, aku mengabdi sebagai guru mengaji bagi anak-anak kampung. Tak banyak yang sanggup bertahan menjadi guru mengaji. Bagaimana mereka akan bergairah mengajarkan alif-ba-ta bila hanya diupah dengan zakat fitrah setahun sekali. Maka, jatuhnya pilihanku untuk menggantikan guru-guru mengaji yang sebagian besar telah berkeputusan menjadi buruh penakik getah atau kuli kasar proyek pengaspalan jalan, dicatat sebagai keberanian yang  layak disanjung.
Sebenarnya aku bisa langsung berangkat ke Pekanbaru atau bahkan ke Jakarta. Sambil menunggu panggilan kerja, aku tak akan menganggur di sana. Penghidupan sanak-saudara ibu-ayahku di perantauan cukup mapan. Mereka tak akan keberatan memodaliku membuka usaha. Tapi, aku memilih bertahan di kampung karena tak ingin jauh darimu. Selain itu, aku satu-satunya anak ibu yang masih tersisa di kampung. Sebelum pergi, aku ingin merawat orangtua dan menjaga mereka. Pilihan ganjilku itu rupanya telah menaikkan pasaranku di mata para pengantar gulai kentang.
“Sebelum balam terbang jauh, tak salah jika dipikat lebih dahulu,” begitu bisik-bisik  yang terdengar.
“Bila semua laki-laki terdidik merantau jauh, siapa yang akan membangun kampung kita?”
“Kalau dia jadi menantuku, kumodali dengan dua mesin gilingan padi. Jadi, tak usah mencari kerja ke mana-mana.” 
Mereka tak peduli hubungan kita, apalagi pada persekutuan lemang-tapai yang kau ikrarkan. Sebelum kau dan aku syah terikat oleh akad-nikah, bagi mereka belum terkunci peluang untuk menenteng rantang gulai kentang, lalu menyampaikan pinangan pada ibu-ayahku. Namun, aku tak goyah. Aku selalu punya modus penolakan yang tak menyinggung perasaan mereka. Meski yang satu bisa maklum, bulan depan datang lagi rantang gulai kentang yang baru, begitu seterusnya.    
 Beberapa bulan kemudian, pada sebuah petang di serambi rumahmu, sejawat karibku melihat seorang lelaki rantau sedang berunding dengan emak-bapakmu.  
“Waspadai perangai elang dari seberang! Ayam terkebat pun bisa disambarnya,” begitu nasihatnya.
           “Apalagi ia orang kaya muda. Usahanya maju pesat. Ia sudah punya segalanya, kecuali istri!” tambah sejawat yang lain.
Semula, aku tak terguncang oleh bisik-bisik yang terus mengusik itu. Aku percaya, kau juga punya siasat penolakan yang lemah-lembut, sebagaimana yang kulakukan pada setiap hantaran gulai kentang. Lagi pula, bukankah kau lemang yang masih bersetia pada tapai?  
Namun, tak lama setelah kepulangan orang kaya muda itu, tersiar kabar bahwa ia ternyata telah menawarkan pekerjaan sebagai kasir di salah satu restoran miliknya di Jakarta.
            “Selain bekerja, aku juga beroleh kesempatan kuliah di sana,” ungkapmu girang.
            “Kau bisa menyusulku nanti. Aku akan terus berkabar padamu.”
Kalau untuk urusan sekolah, rasanya mustahil aku menahan keberangkatanmu. Aku tahu betapa besarnya keinginanmu hendak bersekolah tinggi, namun cita-cita itu kau pendam lantaran tak mungkin membiayai kuliah dari hasil penjualan lemang-tapai, pekerjaan sehari-hari emak-bapakmu.  
            “Kejar masa depanmu! Aku akan menyusul ke Jakarta.” 
 
***
 
Kurang tiga bulan sejak kepergianmu, emak-bapak dan beberapa orang perwakilan keluargamu bertolak ke Jakarta. Tak tanggung-tanggung, orang kaya muda yang mempekerjakanmu sebagai kasir restoran itu menyewakan satu bis bagi perjalanan mereka. Sekadar melepas rindu pada anak gadisnya? Tapi kenapa keberangkatan itu tampak begitu ramai? Pasti ada sesuatu yang hendak mereka gelar di sana. Dugaanku tak meleset, ternyata mereka akan menghadiri kenduri pernikahanmu dengan induk semang itu. Segala persiapan telah beres diurus  keluarga calon suamimu, perhelatan besar selekasnya dilangsungkan. Sama sekali tak berkabar kau padaku. Sama sekali tak kau layangkan alasan menyingkirkanku. Kau anggap aku debu, yang dalam sekali embus bakal terbang bersama angin masa lalu.
Rupanya inilah ujung dari tarikh lemang-tapaimu. Lantaran cemas bakal lekas basi, kau pasrahkan kudukmu dalam cengkraman elang-seberang itu. Pecah sudah sekutu lemang-tapai. Tapaiku, karena terlalu lama dalam masa peram, lelaku ragi yang mestinya membuahkan manis, berbalik mendedahkan pahit. Sepahit liurku sejak mendengar kabar bahwa lantaran kokohnya genggam tangan lelaki rantau itu, kau sampai lupa cara meremas santan guna menanak lemang. Maka, terpelantinglah aku sebagai lelaki jatuh-tapai, ketercampakan paling celaka dalam riwayat kampung tak bernama ini.
***
 
Kenduri pernikahanmu bertepatan dengan kelumpuhan ayahku. Hari itu tensinya sedang tinggi, kepalanya serasa berputar-putar, lututnya gemetar, tapi karena sudah berjanji akan menaikkan kuda-kuda atap di rumah yang sedang dikerjakannya, ia memaksakan diri. Dasar tukang kampung yang sulit percaya pada anak buah, ia ikut pula memanjat sambil berteriak-teriak hingga tidak mempertimbangkan balok tempat kakinya berpijak. Ia jatuh dari ketinggian dua meter. Semula tampak seperti tidak terjadi apa-apa, karena ia tidak merintih kesakitan. Namun setelah dihampiri oleh anak buahnya, ayahku tidak bisa diajak bicara, bibirnya mencong, separuh badannya mati-rasa, hingga ia dilarikan ke rumah sakit. Darah tinggi yang memuncak telah membuat ayahku lumpuh.
Tipis harapan ayahku akan pulih seperti sediakala. Setelah rawat-inap, sudah berkali-kali aku membawanya berobat dan menjalani terapi, namun ayah tetap saja lumpuh, pita suaranya seperti terlipat, dan hanya bisa menangis bila dijenguk para kerabat. Karena sibuk mengurus ayah, aku tidak terlalu memikirkan kendurimu yang tentu semarak dan bergelimang kemewahan. Siapa yang tidak kecewa pada kekasih yang tiada angin tiada hujan, lalu membelot begitu saja? Tapi, seberapalah tenagaku untuk menghambatmu. Maka, saat mendorong kursi roda ayah untuk pertama kali, dari kejauhan aku mengucapkan selamat menempuh hidup baru kepadamu, selamat berbahagia.
Sejak kelumpuhan ayah, aku makin jauh dari mimpi-mimpi ingin pergi jauh. Akulah pengganti ayah di rumah ini. Berdosa aku bila meninggalkan ibu sendirian. Dua saudaraku yang sudah lama meninggalkan kampung rasanya tak mungkin merawat ayah. Mereka punya keluarga dan kesibukan pekerjaan masing-masing. Pulang hanya sesekali bila dapat cuti. Sejak awal mereka tegaskan, akan menanggung semua biaya, termasuk biaya hidupku, asal aku mau menetap di kampung. Kupikul tanggung jawab itu dengan penuh ketulusan. Akan kudampingi ayah hingga akhir hayatnya, kujaga ibu, kusumbat niat untuk hengkang dari kampung ini.
***
Hingga kini aku masih bertahan sebagai guru mengaji. Surau makin megah dan tercukupi semua fasilitasnya berkat bantuan suamimu--semoga terus berlimpah kekayaannya. Dari tahun ke tahun muridku terus berganti. Khatam, lalu datang lagi murid baru. Selain di surau, aku dipercayai memimpin karang taruna, membuat kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi anak-anak muda, bahkan aku pernah didaulat menjadi kepala desa. Tegas aku menolak, karena aku sudah nyaman menjadi orang surau saja.
Keadaan ayahku begitu-begitu saja. Tidak membaik, meski tidak pula memburuk. Saban pagi kumandikan, kusuapi makannya, dan kudorong kursi rodanya untuk menghirup udara pagi. Sementara ibuku semakin tua dan kerap mengeluh. Bukan mengeluh karena lelah menunggu kesembuhan ayah, tapi karena aku belum juga terpanggil untuk menikah.
“Kau masih menunggu anak si tukang lemang itu? Sudah tiga anaknya,” kata ibu suatu petang.
“Banyak gadis muda di sini. Tak satu pun yang kau suka?” 
“Atau hendak melajang sampai tua?”
Rantang-rantang gulai kentang masih berdatangan. Ada yang datang membawa puji, ada yang tiba menjunjung janji, bahkan ada yang telah meminang dua-tiga kali. Kadang aku hampir tergoda, apalagi anak-anak gadis mereka cantik tak terkira, dan jauh di bawah usiamu. Tapi, lagi-lagi aku tak pernah kehabisan ungkapan santun guna membuat mereka mundur. Bukan karena tak suka, tapi karena aku tidak mau lagi memikirkan pasangan. Aku sudah terlatih hidup sendiri. Duniaku kini hanya ayah yang lumpuh, ibu yang gandrung mengeluh, dan murid-murid yang sesekali liar berkelakar, tapi sangat menyenangkan.
Sudah kulupakan sekutu lemang-tapai masa lalu itu, dan memercayai bahwa mencintaimu adalah kerelaan menerima rasa sakit akibat pengkhianatanmu. Tapi, aku kembali tersentak di suatu hari, pada kepulanganmu untuk syukuran akikah putri bungsumu. Seseorang datang mengantar undangan dengan secarik kertas dalam lipatannya. Datanglah. Akan kusuguhkan lemang-tapai kegemaranmu
 
Tanah Baru, 2013