Search This Blog

Loading...

Tuesday, April 01, 2014

Sebuah Kemungkinan bagi Sastra Asia Tenggara

-->

Damhuri  Muhammad


 (Kompas, 30 Maret 2014)






Harapan untuk menjadi bagian dari sastra dunia, sejak beberapa tahun belakangan, beralih-rupa menjadi keresahan dalam ranah sastra Indonesia. Banyak sastrawan mengeluh lantaran sulitnya akses untuk penerjemahan karya-karya mereka ke dalam bahasa asing. Organisasi penerbit lebih tampak berperan sebagi EO (event organizer) pameran buku ketimbang merancang program-program yang terukur, guna mengantarkan sastra Indonesia ke gerbang sastra dunia. Begitu juga lembaga pemerintah yang berperan menjalankan kerja diplomasi kebudayaan, belum menunjukkan perhatian pada sastra, sebagai bagian dari identitas Indonesia. Satu-dua novel Indonesia telah diterbitkan oleh penerbit major label di luar negeri, namun diupayakan oleh individu sastrawan yang bersangkutan.
        Para sastrawan gelisah, karena tidak maju-maju, tak berpeluang terseleksi oleh komite juri Nobel sastra, dan merasa tertinggal oleh tradisi sastra di negara-negara Asia lainnya. Inferioritas semacam ini cukup membebani iklim kekaryaan. Seolah-olah, penerjemahan itu satu-satunya jalan guna membuat sastra kita go international. Muncul kesan, sastra Indonesia bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, jika belum tersedia dalam bahasa asing, sehingga upaya menawarkan buku-buku sastra ke penerbit-penerbit asing adalah harga mati yang tak mungkin dihindari.
Dalam arti sesungguhnya, dapatkah karya sastra diterjemahkan? Bisakah cita-rasa bahasa dalam sebait puisi dipindahkan begitu saja ke dalam bahasa yang berbeda alam kulturalnya? Berapa banyak penerjemah yang akhirnya menyerah dalam menerjemahkan istilah khas Indonesia yang tak ada padanannya dalam bahasa asing? Hitung pula berapa banyak novelis yang merasa ungkapan prosaiknya terdistorsi, bahkan digunting semena-mena, oleh kerja terjemahan.
Kesusasteraan, di belahan dunia manapun, lahir karena para sastrawan berhadap-hadapan dengan kerunyaman persoalan bangsanya masing-masing. Wiji Thukul mendedahkan sajak-sajak perlawanan dalam corak yang militan karena iklim ketertindasan akibat represi rejim otoritarianisme Orde Baru. Begitu juga dengan novel-novel Pramoedya Ananta Toer, yang lahir dari gelora semangat kebangsaan kaum terdidik pribumi. Para peneliti asing mustahil dapat memahami, apalagi mendalaminya, bila hanya mengandalkan teks terjemahan Inggris. Bila mereka ingin menyelami kedalaman sastra Indonesia, jalan yang paling patut adalah tinggallah bertahun-tahun di Indonesia, pelajari kebudayaannya, dalami bahasanya! Itulah yang dilakukan  Hary Aveling, Keith Foulcher, Andy Fuller, dan lain-lain.
Bila kita hendak melakukan studi tentang sebuah tradisi sastra, katakanlah sastra Prancis, kita rela untuk bertahun-tahun mempelajari bahasa dan kebudayaan bangsa itu, karena tidak cukup hanya dengan membaca teks terjemahan  Inggrisnya. Maka, kalau ada orang asing yang ingin tahu tentang sastra Indonesia, adalah lazim jika ia berkenan mempelajari bahasa Indonesia, fondasi utama sastra kita. Tak sekadar membaca teks yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa mereka. Maka, para praktisi sastra tidak perlu mengeluh, apalagi meniscayakan bahwa ukuran maju atau tidak-majunya sastra adalah terbit atau tidak-terbitnya karya mereka dalam bahasa Inggris.
Alih-alih kasak-kusuk mencari peluang penerjemahan, kenapa tidak mutu yang diperbaiki, kenapa tidak kedalaman yang terus digali? Mo Yan, novelis asal China pemenang Nobel 2012, juga tidak menulis dalam bahasa Inggris, tapi dalam bahasa bangsanya. Lantaran dianggap penting dan mengandung kedalaman, penerbit asing datang meminangnya. Novelis kawakan Iwan Simatupang yang bertahun-tahun hidup di Eropa, penyair Sitor Situmorang yang bermukim di Paris, tidak pernah terpanggil untuk menulis dalam bahasa asing. Iwan dan Sitor tetap menulis dalam bahasa Indonesia, bahasa ibunya, bahasa yang membesarkannya. Kenapa kita mesti uring-uringan dengan impian semu dari kerja penerjemahan? Go international bukan sekadar persoalan bahasa. Penyair Afrizal Malna yang kerap menjadi peserta writer in resident di Eropa, mengaku hanya bisa menulis dalam bahasa Indonesia dan tidak pandai bercakap-cakap Inggris, tetap saja puisinya dikaji karena dianggap penting dan bermutu.      
            Sindrom Eropasentrisme semacam inilah yang hendak direspon oleh Asean Literary Festival 2014. Peristiwa seni yang dibuhul dalam semangat geopolitik Asia Tenggara itu menggagas sebuah kemungkinan bagi munculnya habitus baru; Sastra Asia Tenggara. Iklim kesusastraan di negara-negara ASEAN memiliki satu garis identifikasi persoalan serupa. Indonesia, Philipina, Vietnam, Laos, Thailand, Myanmar, Combodia, adalah negara yang sama-sama merasakan terjangan kaki kolonianisme, dan pada masa-masa selanjutnya mengalami situasi politik yang dikuasai rejim otoriter. Pete Lacaba tercatat sebagai tokoh perlawanan terhadap rejim Marcos di Philipina. Sastra di negerinya berhadapan dengan represi dan pengekangan terhadap kebebasan berekspresi.
Maka, terminologi “Sastra Asia Tenggara” menjadi sebuah hipotesa yang diuji kemungkinannya dalam forum ALF 2014. Apakah “sastra kolonial” dalam kawasan geopolitik Asia Tenggara dapat dibuhul menjadi sebuah kesatuan tematik? Apakah perlawanan terhadap kaum kolonial dalam karya-karya mereka tidak akan membuat jurang pemisah dengan tradisi sastra dunia--yang identik dengan kolonialisme? Dengan begitu, bisa saja Sastra Asia Tenggara tegak dan berdiri sendiri, tanpa harus bergantung pada Eropa dan Amerika. Selain itu, dapatkah Sastra Asia Tenggara menjadi pintu masuk bagi kajian akademik bernama  studi  Sastra Asia Tenggara?
  








ALF 2014 yang digagas oleh Yayasan Muara--lembaga non-pemerintah yang menaruh perhatian pada dunia seni budaya--dihadiri oleh perwakilan 13 negara ASEAN, dan beberapa sastrawan serta peneliti sastra dari negara non-ASEAN seperti Na Ye, Wang Gan (Cina), Choi Jeongrye (Korea Selatan),  Laura Schuurman (Belanda), Andy Fuller (Australia). Festival yang dibuka dengan kuliah publik oleh novelis terkemuka Philipina, Pete Lacaba, tersebut dihadiri oleh 800-an peserta dari kalangan pembaca sastra, baik dalam maupun luar negeri. ALF yang pertama kali diselenggarakan dan Indonesia berperan sebagai tuan rumah itu, memberikan anugerah sastra pada Wiji Thukul, atas dedikasi dan konsistensinya pada dunia kepenyairan, meski ia mengalami nasib yang tragis.
You are not a writer, but a salesman, begitu sindirin seorang narasumber menanggapi pertanyaan seorang novelis tentang sukarnya akses penerjemahan ke bahasa asing. Sinisme itu dapat dimaklumi, pekerjaan penulis semestinya hanya berkarya, tak perlu repot memikirkan bagaimana bukunya dapat diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Bila itu yang terjadi, pengarang akan beralih-rupa menjadi pedagang (salesman).
“Saya tidak terlalu gembira bila puisi saya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris,” kata penyair Joko Pinurbo, dalam sebuah perbincangan di Writer’s Corner dengan beberapa penulis muda seperti Arafat Nur (Aceh), Aprila R.A Wayar (Papua), Dicky Senda (Kupang), Zelfeni Wimra (Padang), dan lain-lain. Tak kurang dari 35 sastrawan Indonesia dari berbagai daerah hadir dalam forum ALF 2014. “Saya menggeluti sastra karena masalah-masalah bangsa saya. Dunia tahu atau tidak, saya tidak peduli,” ungkap penyair Hanna Fransisca. Sastra kita tidaklah akan menjadi rendah, dan para sastrawan tidak perlu merasa inferior, hanya karena buku-buku mereka belum atau tidak dialih-bahasakan. Sebab, bangsa kita sendirilah yang akan membesarkannya…


Wednesday, December 04, 2013

Artefak Kenangan Mo Yan


Oleh: Damhuri Muhammad

 (Majalah TEMPO edisi 25 Nov-1 Des 2013)



Di tangan Mo Yan (novelis asal Cina pemenang Nobel sastra 2012) truk rongsokan dapat menjadi gagasan hidup lantaran impresi-impresi prosaiknya. Dalam novel bertajuk Di Bawah Bendera Merah, Gaz 51 (truk militer buatan Soviet), tak sekadar ornamen, tapi terpancang sebagai tiang pengisahan. Dari awal hingga akhir, setiap cabang dan ranting cerita tak bisa lepas dari riwayat kendaraan militer yang telah berjasa bagi Cina itu---utamanya dalam urusan pengiriman logistik semasa perang melawan agresi AS (1950).
          Novel yang dicetuskan sebagai memoar ini dibuka dengan kisah ketakmujuran Mo Yan di masa SD di Gaomi, provinsi Shandong. Ia dikeluarkan dari sekolah setelah ketahuan mengejek seorang guru yang bermulut besar, hingga kawan-kawannya menggelari guru itu dengan Liu Mulut Besar. Padahal, Mo Yan sekadar membandingkan ukuran mulutnya---yang juga besar---dengan mulut guru itu. Ia sedang menakar buruk muka sendiri, meski dalih itu tak pernah diungkapkan.
Mo Yan terobsesi ingin menyetir Gaz 51, truk yang saban hari mengepulkan debu jalan desanya. Pemiliknya adalah ayah Lu Wenli, perempuan paling cantik di kelasnya. Baginya, Gaz 51 tangguh dan berkuasa. Bebas melindas ayam dan membuat anjing-anjing kudisan berhamburan masuk selokan. Bila ada hewan yang tertabrak, ia akan terus melaju kencang. Tak ada yang berani protes, apalagi menagih ganti rugi. Maklum, ayah Lu Wenli bekas sopir Tentara Pembebasan Rakyat yang dikaryakan di wilayah pertanian negara. Itu sebabnya Mo Yan tak ragu bercita-cita; ingin menjadi sopir truk. Obsesi serupa juga dimiliki oleh teman kelas Mo Yan yang lain, He Zhiwu. Tak sekadar ingin bisa menyetir Gaz 51, tapi impian utamanya adalah menjadi “ayah” Lu Wenli. Di masa itu, tak seorang pun tahu, termasuk guru Liu, guru Zhang, perihal maksud dari cita-cita ganjil Zhiwu. 
Sejarah menggiring Mo Yan pada peruntungan yang lebih cemerlang. Bermula dari tugas menulis surat dari komandan, keterampilan menulisnya terasah, hingga pada 1981 cerpen pertamanya, Malam Musim Semi Berhujan,  tersiar di majalah lokal. Lalu, ia menekuni dunia kepengarangan di jurusan sastra Institut Seni Ketentaraan. Tak lama berselang, novelnya Red Sorghum (1986) beroleh apresiasi luas, bahkan difilmkan oleh sutradara kondang, Zhang Yimou. Aktor handal Gong Li dan Jiang Wen bermain di film itu. Dunia Mo Yan berubah drastis. Ia ternobat sebagai pengarang ternama. Redaksi judul Di Bawah Bendera Merah, sementara edisi Inggrisnya berjudul Change (2010), dan sampul depan dengan ilustrasi bocah berseragam tentara yang duduk di atas truk militer sambil mengangkat bendera merah, mengesankan novel ini berkisah tentang pencapaian politis Mo Yan menjadi komunis, padahal hanya perihal cita-cita kecil, pahit-getir anak petani miskin, hingga pencapaian literer Mo Yan menjadi novelis kawakan.    
Kritikus buku Arman Dani, dalam ulasannya terhadap Big Breasts an Wide Hips (2011), menyebut Mo Yan  sebagai paradoks hidup. Ia meraih Nobel sastra karena karya-karyanya berbicara tentang represi, narasi kecil, dan segregasi jender yang masih ketat di Cina, tapi di sisi lain ia mendukung sensor oleh Partai Komunis Cina, dan menolak untuk mendukung petisi pembebasan aktivis pro demokrasi, Liu Xiaobo. Tapi, dalam pidato anugerah Nobel 2012, Mo Yan mendesak pemerintah Cina untuk segera membebaskan Liu Xiaobo.
Gaz 51 sebagai artefak kenangan yang diperlakukan sebagai benda hidup, menghubungkan Mo Yan dengan He Zhiwu, lebih-lebih dengan Lu Wenli. Saat bertugas sebagai tentara, ia bertemu dengan truk sejenis, yang diandaikannya sebagai kembaran dari Gaz 51 milik ayah Lu Wenli. Ia ingin pulang ke Gaomi guna mempertemukan dua Gaz 51, yang menurutnya bagai sepasang kekasih yang lama terpisah. Mo Yan menghadirkan romansa lapuk He Zhiwu, yang ternyata sejak masa bersekolah di Gaomi  telah mencintai Lu Wenli. Itu sebabnya ia mengaku tidak punya cita-cita, kecuali hasrat ingin menjadi “ayah” Lu Wenli. Bukan untuk menjadi sopir truk, tapi ingin mempersunting gadis itu kelak bila ia sudah kaya. Zhiwu membeli Gaz 51 dari ayah Lu Wenli dengan harga yang terbilang gila; 8000 yuan. Bukan perkara truk uzur itu, tapi soal cara menaklukkan hati gadis pujaannya. Lu Wenli menolak, karena ia telah bertunangan dengan laki-laki terpandang, putra seorang petinggi partai komunis.
Menimbang gelagat pengisahan novel ini, agaknya Mo Yan juga menyimpan hasrat pada Lu Wenli, meski ia tak pernah menegaskannya. Pada sebuah kesempatan berkunjung ke Gaomi, ia mencari Lu Wenli ke tempat kerjanya. Tapi, karena respon gadis itu dingin, Mo Yan mundur. Mo Yan tak pernah mengungkapkan kisah cintanya, meski senantiasa ada keinginan untuk mendengar kabar tentang Lu Wenli. Patut dicurigai, baik He Zhiwu maupun Mo Yan tiada sungguh-sungguh menggilai Gaz 51, tapi sama-sama mencintai Lu Wenli.
Lu Wenli akhirnya bercerai dengan suaminya. Pada He Zhiwu ia mengaku sudah salah pilih. Ia bermohon agar Zhiwu berkenan menikahinya, tapi Zhiwu telah menikahi perempuan peranakan Rusia yang bersetia padanya. Lu Wenli kemudian jatuh ke pangkuan guru Liu, si Mulut Besar. Kenyataan yang tak pernah diduga Mo Yan.
Mo Yan makin berkibar, wajahnya kerap muncul di layar kaca. Undangan juri festival Maoqiang (seni drama budaya Cina), membuat ia kembali berkunjung ke Gaomi. Dalam keterpurukan setelah kematian suami, sekali lagi Lu Wenli memberanikan diri menemui kawan lama. Ia tidak minta dikasihani lagi, tapi sekadar memohon pada Mo Yan, agar putrinya lolos sebagai peserta festival. Mo Yan sadar, tubuh Lu Wenli sudah rongsok, bagian-bagian yang seksi di masa belia telah bengkak di sana-sini, sebagaimana nasib truk Gaz 51. Tapi tiada alasan untuk tidak berbaik hati. Truk sisa perang saja membuat ia tergila-gila, apalagi Lu Wenli, perempuan masa silam, yang boleh jadi amat disayanginya. Inilah asmara bersahaja garapan novelis kelas dunia. Sederhana tapi tidak murahan. Para pelakunya bagai tak terluka, padahal eskalasi kepedihannya berpotensi menjadi kekal di sepanjang usia.   


DATA BUKU


Judul               : Di Bawah Bendera Merah
Penulis            : Mo Yan
Penerjemah     : Fahmy Yamani
Penerbit          : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan           : I, Juli 2013
Tebal               : 114 hlm




Tuesday, October 01, 2013

Lelaki Ragi dan Perempuan Santan


Cerpen: Damhuri Muhammad
 
 
(Kompas, Minggu, 29 September 2013)
  
Apa jadinya lemang tanpa tapai?  Tanpa manis tapai, manalah mungkin legit lemang dapat digapai? Barangkali itu sebabnya buah tangan yang kau bawa dari pekan ke pekan tiada beralih dari lemang-tapai. Padahal, sekali waktu bolehlah rantangmu berisi paniaram, lepat-pisang, atau limping-rebus, dagangan emakmu yang lain. “Persekutuan kita seperti pasangan lemang-tapai ini,” dalihmu. Selalu.
Perihal selera tentu aku bersetuju. Tapi, pernahkah kau menimbang asal mula pasangan lemang-tapai yang hakikatnya saling bertolak-belakang?  Bukankah lemang ditanak dengan pati santan, hingga usianya tiada lebih dari satu hari? Bila tak lekas disuguhkan, tentu akan terbuang sebagai sipulut basi. Sementara bukankah tapai matang lantaran ragi? Makin diperam makin ajaib rasa manisnya.Tapai senantiasa melesat menuju aras keabadian, sedangkan lemang mundur ke ranah kesementaraan. “Akulah lemang, engkaulah tapai. Cintaku basi tanpamu, ikrarmu. Selalu.
          Lantaran lemang-tapai itu, kuabaikan rantang-rantang gulai kentang yang datang silih berganti. Kau tahu, di kampung ini hantaran gulai kentang adalah bahasa pinangan paling santun. Mungkin tampak murah dan sederhana--sebab tanpa campuran daging--tapi ia mengandung kiasan yang kedalamannya hingga kini belum tergantikan. Kuah yang kental, kentang yang kempuh sempurna, bagai mencerminkan kesungguhan niat dan ketulusan perasaan keluarga yang hendak beroleh menantu. Masa itu, selepas wisuda sarjana, sembari menunggu peluang kerja, aku mengabdi sebagai guru mengaji bagi anak-anak kampung. Tak banyak yang sanggup bertahan menjadi guru mengaji. Bagaimana mereka akan bergairah mengajarkan alif-ba-ta bila hanya diupah dengan zakat fitrah setahun sekali. Maka, jatuhnya pilihanku untuk menggantikan guru-guru mengaji yang sebagian besar telah berkeputusan menjadi buruh penakik getah atau kuli kasar proyek pengaspalan jalan, dicatat sebagai keberanian yang  layak disanjung.
Sebenarnya aku bisa langsung berangkat ke Pekanbaru atau bahkan ke Jakarta. Sambil menunggu panggilan kerja, aku tak akan menganggur di sana. Penghidupan sanak-saudara ibu-ayahku di perantauan cukup mapan. Mereka tak akan keberatan memodaliku membuka usaha. Tapi, aku memilih bertahan di kampung karena tak ingin jauh darimu. Selain itu, aku satu-satunya anak ibu yang masih tersisa di kampung. Sebelum pergi, aku ingin merawat orangtua dan menjaga mereka. Pilihan ganjilku itu rupanya telah menaikkan pasaranku di mata para pengantar gulai kentang.
“Sebelum balam terbang jauh, tak salah jika dipikat lebih dahulu,” begitu bisik-bisik  yang terdengar.
“Bila semua laki-laki terdidik merantau jauh, siapa yang akan membangun kampung kita?”
“Kalau dia jadi menantuku, kumodali dengan dua mesin gilingan padi. Jadi, tak usah mencari kerja ke mana-mana.” 
Mereka tak peduli hubungan kita, apalagi pada persekutuan lemang-tapai yang kau ikrarkan. Sebelum kau dan aku syah terikat oleh akad-nikah, bagi mereka belum terkunci peluang untuk menenteng rantang gulai kentang, lalu menyampaikan pinangan pada ibu-ayahku. Namun, aku tak goyah. Aku selalu punya modus penolakan yang tak menyinggung perasaan mereka. Meski yang satu bisa maklum, bulan depan datang lagi rantang gulai kentang yang baru, begitu seterusnya.    
 Beberapa bulan kemudian, pada sebuah petang di serambi rumahmu, sejawat karibku melihat seorang lelaki rantau sedang berunding dengan emak-bapakmu.  
“Waspadai perangai elang dari seberang! Ayam terkebat pun bisa disambarnya,” begitu nasihatnya.
           “Apalagi ia orang kaya muda. Usahanya maju pesat. Ia sudah punya segalanya, kecuali istri!” tambah sejawat yang lain.
Semula, aku tak terguncang oleh bisik-bisik yang terus mengusik itu. Aku percaya, kau juga punya siasat penolakan yang lemah-lembut, sebagaimana yang kulakukan pada setiap hantaran gulai kentang. Lagi pula, bukankah kau lemang yang masih bersetia pada tapai?  
Namun, tak lama setelah kepulangan orang kaya muda itu, tersiar kabar bahwa ia ternyata telah menawarkan pekerjaan sebagai kasir di salah satu restoran miliknya di Jakarta.
            “Selain bekerja, aku juga beroleh kesempatan kuliah di sana,” ungkapmu girang.
            “Kau bisa menyusulku nanti. Aku akan terus berkabar padamu.”
Kalau untuk urusan sekolah, rasanya mustahil aku menahan keberangkatanmu. Aku tahu betapa besarnya keinginanmu hendak bersekolah tinggi, namun cita-cita itu kau pendam lantaran tak mungkin membiayai kuliah dari hasil penjualan lemang-tapai, pekerjaan sehari-hari emak-bapakmu.  
            “Kejar masa depanmu! Aku akan menyusul ke Jakarta.” 
 
***
 
Kurang tiga bulan sejak kepergianmu, emak-bapak dan beberapa orang perwakilan keluargamu bertolak ke Jakarta. Tak tanggung-tanggung, orang kaya muda yang mempekerjakanmu sebagai kasir restoran itu menyewakan satu bis bagi perjalanan mereka. Sekadar melepas rindu pada anak gadisnya? Tapi kenapa keberangkatan itu tampak begitu ramai? Pasti ada sesuatu yang hendak mereka gelar di sana. Dugaanku tak meleset, ternyata mereka akan menghadiri kenduri pernikahanmu dengan induk semang itu. Segala persiapan telah beres diurus  keluarga calon suamimu, perhelatan besar selekasnya dilangsungkan. Sama sekali tak berkabar kau padaku. Sama sekali tak kau layangkan alasan menyingkirkanku. Kau anggap aku debu, yang dalam sekali embus bakal terbang bersama angin masa lalu.
Rupanya inilah ujung dari tarikh lemang-tapaimu. Lantaran cemas bakal lekas basi, kau pasrahkan kudukmu dalam cengkraman elang-seberang itu. Pecah sudah sekutu lemang-tapai. Tapaiku, karena terlalu lama dalam masa peram, lelaku ragi yang mestinya membuahkan manis, berbalik mendedahkan pahit. Sepahit liurku sejak mendengar kabar bahwa lantaran kokohnya genggam tangan lelaki rantau itu, kau sampai lupa cara meremas santan guna menanak lemang. Maka, terpelantinglah aku sebagai lelaki jatuh-tapai, ketercampakan paling celaka dalam riwayat kampung tak bernama ini.
***
 
Kenduri pernikahanmu bertepatan dengan kelumpuhan ayahku. Hari itu tensinya sedang tinggi, kepalanya serasa berputar-putar, lututnya gemetar, tapi karena sudah berjanji akan menaikkan kuda-kuda atap di rumah yang sedang dikerjakannya, ia memaksakan diri. Dasar tukang kampung yang sulit percaya pada anak buah, ia ikut pula memanjat sambil berteriak-teriak hingga tidak mempertimbangkan balok tempat kakinya berpijak. Ia jatuh dari ketinggian dua meter. Semula tampak seperti tidak terjadi apa-apa, karena ia tidak merintih kesakitan. Namun setelah dihampiri oleh anak buahnya, ayahku tidak bisa diajak bicara, bibirnya mencong, separuh badannya mati-rasa, hingga ia dilarikan ke rumah sakit. Darah tinggi yang memuncak telah membuat ayahku lumpuh.
Tipis harapan ayahku akan pulih seperti sediakala. Setelah rawat-inap, sudah berkali-kali aku membawanya berobat dan menjalani terapi, namun ayah tetap saja lumpuh, pita suaranya seperti terlipat, dan hanya bisa menangis bila dijenguk para kerabat. Karena sibuk mengurus ayah, aku tidak terlalu memikirkan kendurimu yang tentu semarak dan bergelimang kemewahan. Siapa yang tidak kecewa pada kekasih yang tiada angin tiada hujan, lalu membelot begitu saja? Tapi, seberapalah tenagaku untuk menghambatmu. Maka, saat mendorong kursi roda ayah untuk pertama kali, dari kejauhan aku mengucapkan selamat menempuh hidup baru kepadamu, selamat berbahagia.
Sejak kelumpuhan ayah, aku makin jauh dari mimpi-mimpi ingin pergi jauh. Akulah pengganti ayah di rumah ini. Berdosa aku bila meninggalkan ibu sendirian. Dua saudaraku yang sudah lama meninggalkan kampung rasanya tak mungkin merawat ayah. Mereka punya keluarga dan kesibukan pekerjaan masing-masing. Pulang hanya sesekali bila dapat cuti. Sejak awal mereka tegaskan, akan menanggung semua biaya, termasuk biaya hidupku, asal aku mau menetap di kampung. Kupikul tanggung jawab itu dengan penuh ketulusan. Akan kudampingi ayah hingga akhir hayatnya, kujaga ibu, kusumbat niat untuk hengkang dari kampung ini.
***
Hingga kini aku masih bertahan sebagai guru mengaji. Surau makin megah dan tercukupi semua fasilitasnya berkat bantuan suamimu--semoga terus berlimpah kekayaannya. Dari tahun ke tahun muridku terus berganti. Khatam, lalu datang lagi murid baru. Selain di surau, aku dipercayai memimpin karang taruna, membuat kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi anak-anak muda, bahkan aku pernah didaulat menjadi kepala desa. Tegas aku menolak, karena aku sudah nyaman menjadi orang surau saja.
Keadaan ayahku begitu-begitu saja. Tidak membaik, meski tidak pula memburuk. Saban pagi kumandikan, kusuapi makannya, dan kudorong kursi rodanya untuk menghirup udara pagi. Sementara ibuku semakin tua dan kerap mengeluh. Bukan mengeluh karena lelah menunggu kesembuhan ayah, tapi karena aku belum juga terpanggil untuk menikah.
“Kau masih menunggu anak si tukang lemang itu? Sudah tiga anaknya,” kata ibu suatu petang.
“Banyak gadis muda di sini. Tak satu pun yang kau suka?” 
“Atau hendak melajang sampai tua?”
Rantang-rantang gulai kentang masih berdatangan. Ada yang datang membawa puji, ada yang tiba menjunjung janji, bahkan ada yang telah meminang dua-tiga kali. Kadang aku hampir tergoda, apalagi anak-anak gadis mereka cantik tak terkira, dan jauh di bawah usiamu. Tapi, lagi-lagi aku tak pernah kehabisan ungkapan santun guna membuat mereka mundur. Bukan karena tak suka, tapi karena aku tidak mau lagi memikirkan pasangan. Aku sudah terlatih hidup sendiri. Duniaku kini hanya ayah yang lumpuh, ibu yang gandrung mengeluh, dan murid-murid yang sesekali liar berkelakar, tapi sangat menyenangkan.
Sudah kulupakan sekutu lemang-tapai masa lalu itu, dan memercayai bahwa mencintaimu adalah kerelaan menerima rasa sakit akibat pengkhianatanmu. Tapi, aku kembali tersentak di suatu hari, pada kepulanganmu untuk syukuran akikah putri bungsumu. Seseorang datang mengantar undangan dengan secarik kertas dalam lipatannya. Datanglah. Akan kusuguhkan lemang-tapai kegemaranmu
 
Tanah Baru, 2013

Monday, August 19, 2013

Kampung Halaman sebagai Terminal




Oleh: Damhuri Muhammad

(Majalah TEMPO, edisi 5-11 Agustus 2013)


Kisah-kisah dalam kumpulan cerpen Yang Menunggu dengan Payung karya Zelfeni Wimra, berdenyut di ruang penantian. Ironisnya, meski yang dinanti tak bakal datang, iman penantian justru kian teguh. Inilah lelaku Rahma dalam cerpen yang dipilih sebagai judul buku. Saban hari ia menanti kedatangan ayah, dan terus meyakinkan ibu bahwa pada suatu hari yang hujan, dari ujung jalan, ia akan menuntun ayahnya pulang dengan payung. Juga menunggu Rahman, yang berjanji segera pulang dari rantau untuk menikahinya. Tapi, sebelum kedatangan ayah, sebelum Rahman tiba, kampungnya diguncang gempa.Ratusan orang tertimbun reruntuhan, termasuk Rahma dan ibunya. Penantian Rahma terbawa sampai mati.
            Penantian selanjutnya, lelaki pembuat gula merah dalam Suara Serak di Seberang Radio. Saat nira mendidih, ia selalu menyalakan radio, dan tak pernah pindah gelombang dari acara Kotak Pos. Suara serak penyiar membacakan kartu pos dari pendengar telah menjadi kegemarannya. Yarman mengirim dua kartu sekaligus. Satu untuk dibacakan, satu lagi khusus untuk penyiar bersuara serak. Tapi, acara itu kemudian tak mengudara lagi. “Orang-orang lebih suka mengirim pesan singkat dengan telpon genggam,” (hal 37). Penantian Yarman adalah perjumpaan dengan penyiar bernama Ratna. Lagi-lagi, penantian tak bermuara. Namun, hanya dengan lelaku penantian Yarman riang dalam sendiri. Ratna juga sedang menanti sesuatu; kesempatan berkunjung ke sebuah dangau di hulu Batangmaek, tempat Yarman lapuk digasak sepi. Siapa sesungguhnya yang menanti? Keduanya telah menjadi subjek sekaligus objek penantian. Perjumpaan Yarman-Ratna tak pernah terjadi, tapi bukankah hidup akan lebih berdenyut bila ada sesuatu yang dinanti?
        Lain pula dengan penantian Nining, perempuan tunarungu dalam Layang-layang Bulan (hal.57). Ia menanti perjumpaan dengan kawan masa kecil, Gugun. Teman bermain layang-layang di sebuah terminal regional yang telah berubah menjadi mal. Nining menapaktilasi puing kenangan dan ingin berjumpa kembali dengan Gugun. Tapi, Gugun sudah pergi dari kampung. Lelaki dambaan Nining itu bahkan dikabarkan telah menjadi liar. Di rantau, hidupnya tergadai pada seorang perempuan, yang membiayai sekolahnya, hingga ia harus mengabdi padanya. Tak ada lagi cerita tentang layang-layang masa kecil, tapi Nining tiada henti menanti.    
Ungkapan-ungkapan prosaik Wimra melenting-melenting, bahkan dalam beberapa bagian terasa tegang. Cerpen Di Atas Dipan Penantian misalnya. Gadis yang terbaring sakit terasa seperti orang sehat berstamina prima. Alih-alih ringis kesakitan, yang mengemuka justru kelisanan yang menyala-nyala. Bila sebuah cerita dapat diamsalkan dengan ikan dalam kuali, adakalanya ia digoreng tak terlalu garing, agar bumbu meresap sempurna. Ungkapan yang melenting-lenting ibarat menggoreng ikan terlalu garing, hingga berisiko menjadi kerupuk ketimbang ikan.
             Wimra akrab dengan simbol terminal, tempat orang-orang datang, singgah sejenak, untuk kembali pergi. Bukan saja terminal spasio-temporal, tapi juga terminal artifisial. Cerpen Terminal Dua Kepulangan misalnya, tentang imam masjid terminal yang meninggal dunia tanpa dihadiri sanak-saudara. Anaknya yang bersekolah di kota berbeda, bahkan tak sempat melihat jenazah untuk kali terakhir, lantaran ia sudah dikuburkan warga sekitar. Dalam perjalanan bis menuju kota tempat masjid terminal itu berada, ia merasa sedang “pulang”, padahal ia tak punya rumah. Ibunya telah lama pulang ke Jawa, ayahnya hanya dipercaya menjadi pengurus dan tinggal di masjid itu.
“Terminal” dalam cerpen itu bermakna ganda. Pulangnya seorang manusia ke alam baqa, dan pulangnya seorang anak setelah mendengar kabar ayahnya meninggal.Wimra merancang alegori; dunia sebagai terminal. Semua hasrat penantian yang menjadi perhatian pokoknya seperti orang-orang yang menunggu di terminal. Hanya menunggu orang-orang singgah, bukan yang sungguh-sungguh pulang. Setelah mampir mereka menyandang ransel untuk berangkat kembali.
Di Payakumbuh--kampung halaman kepengarangan Wimra--bila seorang perantau mudik, hari pertama akan disambut gembira, hari kedua diajak bicara, disuguhkan segala macam hidangan, tapi hari ketiga biasanya akan ditanya “kapan balik ke rantau?” Padahal, lantaran rindu atau karena sulitnya hidup di negeri orang, belum tentu ia akan kembali. Lama dinanti, tapi bila sudah tiba, lekas ditanya kapan bakal pergi kembali. Maka, yang dinanti-nanti sesungguhnya tak pernah datang. Kalaupun tiba, bukankah ia akan pergi kembali? Kampung halaman telah beralih-rupa menjadi terminal belaka. 

DATA BUKU

Judul        :  Yang Menunggu dengan Payung
Penulis     :  Zelfeni Wimra
Penerbit    :  Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan    :  I,  Maret 2013
Tebal         :  148  halaman

                

Monday, May 20, 2013

Rumah Amplop


cerpen  Damhuri Muhammad

 
(Jawa Pos, Minggu, 19 Mei 2013)

Di masa kanak-kanak, rumah kami selalu kebanjiran amplop. Ruang tamu, laci-laci ruang kerja papa, lemari pakaian mama, hingga rak-rak dapur, penuh-sesak oleh amplop dari berbagai rupa, warna, dan ukuran. Setelah mama dan papa mengamankan isi dari amplop-amplop yang berserakan itu, kami akan melepaskan lipatan-lipatan kertasnya, lalu mengguntingnya sesuai pola-pola yang kami sukai. Dari potongan-potongan kertas bekas amplop itu kami gemar membentuk huruf-huruf, yang kemudian tersusun sebagai R-E-I-N-A (mama), S-U-K-R-A (papa), dan  nama-nama kami sendiri; Abim, Amru, dan Nuera. Sepulang sekolah, sepanjang hari, kami asik menggunting-gunting kertas-kertas bekas amplop, hingga suatu hari kami bersepakat memberi nama tempat tinggal kami dengan “rumah amplop”. Rumah tempat beralamatnya amplop yang datang dari berbagai penjuru. Rumah yang makin bercahaya, seiring dengan makin berhamburannya amplop ke dalamnya.          
Barangsiapa yang dengan sadar dan sengaja menaruh uang alakadar di amplop yang bakal diantar ke rumah kami, akan membuat papa jadi murka. Urusannya pasti panjang, dan tentu akan dipersulit. Izin proyek bakal terganjal. Meskipun begitu, setiap amplop yang sudah tergeletak di rumah kami, mama dan papa pantang mengembalikannya,  hingga pada suatu ketika, para pengirim amplop itu menyebut kami sebagai keluarga kecil pemakan segala. Besar kami makan, kecil juga kami telan. Seolah-olah mulut mama dan papa begitu besar, bagai mulut buaya lapar yang senantiasa menganga, menyambut kedatangan amplop-amplop, tapi selama bertahun-tahun tak pernah mengenyangkan perut mereka.
            Bila jalan-jalan di setiap sudut kota rusak dan berlubang, bahkan ada yang sudah tak layak tempuh, itu bukan karena ulah mobil-mobil besar yang kerap melindasnya, tapi karena mobil-mobil kecil. Betapa tidak? Setiap kali papa terlibat dalam proyek pembangunan jalan, mama akan merengek-rengek manja minta hadiah mobil mewah keluaran terbaru. Dan, atas nama cintanya, diam-diam papa akan memerintahkan pemborong untuk menipiskan aspal yang mestinya tebal, memendekkan jalan yang seharusnya panjang, merapuhkan yang semestinya kokoh, dan semua hasil penyunatan anggaran itu ia gunakan untuk membeli mobil mewah permintaan mama. Bukankah sedan itu mobil berukuran kecil? Nah, itu sebabnya kami katakan bahwa yang merusak jalan bukan truk atau bis, tapi koleksi mobil mewah yang kini terparkir di garasi rumah kami. Papa punya Jaguar, Nuera punya Alphard lengkap dengan sopir pribadi, Abim punya Range Rover, Amru punya Jeep Rubicon, dan mama punya Mercedes Benz.
***

Dulu, papa orang baik-baik. Anak patuh. Cerdas. Jujur. Bertanggungjawab. Setidaknya begitu cerita yang kami dengar dari salah seorang kerabat saat kami diajak  pulang kampung. Namun, selepas menyandang gelar sarjana dari sebuah universitas ternama, nenek dan kakek terus-menerus mendorong agar ia bisa menjadi pegawai negeri sipil. Sebab, di kampung papa, cita-cita menjadi abdi-negara hampir-hampir sama mulianya dengan cita-cita masuk sorga di akhirat kelak. Selain hidup bakal terjamin, barangsiapa yang telah mengantongi SK pegawai negeri sipil, dalam waktu yang tidak terlalu lama akan selekasnya naik-kasta. Dari keluarga yang biasa-biasa saja, berubah menjadi keluarga yang berlimpah puji dan puja. Oleh karena itu,  nenek melelang harta-benda, tiga kapling tanah warisan, lima bidang ladang, mengumpulkan uang pelicin guna meluluskan anaknya sebagai pegawai negeri. Menggunakan segala cara adalah sah demi cita-cita luhur itu.
Menurut Wak Odang (kakak kandung nenek), sejak peristiwa suap yang dilakukan secara buka-bukaan itu, silsilah papa sebagai orang baik-baik dipenggal. Watak kebaikan dalam diri  papa telah disembelih.  Bukan oleh orang lain, tapi oleh ibu-bapaknya sendiri. Tak lama selepas  nenek  menjual tanah warisan, lalu menyuap pejabat yang berwenang, terjadi perselisihan hebat  antara Wak Odang dan keluarga papa, yang hingga kini hampir-hampir tak terdamaikan. Dulu, Wak Odang amat bangga pada prestasi-prestasi yang diraih papa. Betapa tidak? Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah, keponakan kesayangannya itu selalu terpilih sebagai siswa teladan. Predikat juara umum tak pernah lepas dari tangannya. Begitu pula ketika papa menjadi mahasiswa di kampus terkemuka di Jawa. Setiap pencapaian terbaik papa senantiasa menjadi tauladan bagi anak-anak Wak Odang. “Sukra satu-satunya anak kampung kita yang bisa diterima di perguruan tinggi terkemuka di Jawa,” begitu Wak Odang memujinya.
Wak Odang  marah besar lantaran perbuatan menyuap yang dilakukan adik kandungnya, guna meloloskan papa menjadi pegawai negeri.
“Maaf, Bang, ini kesempatan kita. Bila tidak sekarang kapan lagi? Mumpung ada yang bisa membantu,” dalih nenek waktu itu.
“Kesempatan untuk menjerumuskannya, maksudmu?”
“Demi masa depan Sukra, Bang!”
“Tahu apa kau soal masa depan? Ia bisa mencapai lebih dari apa yang kalian bayangkan!”
“Maaf, kami sudah sepakat, Bang!”
“Bersekongkol untuk menghancurkan masa depannya? Tak akan selamat hidupnya. Yang bermula dari ketidakjujuran akan berakhir dengan ketidakjujuran pula. Tanggunglah akibatnya nanti!” bentak Wak Odang.
Selepas perseteruan itu, Wak Odang tidak pernah lagi berhubungan dengan keluarga papa. Lantaran tidak berhasil membendung ambisi nenek dan kakek, ia mundur teratur. Apapun urusan keluarga besar papa ia tak pernah ikut campur lagi. Kakak-beradik telah pecah-kongsi, sudah berkerat-rotan, begitu orang-orang kampung menyebutnya. Sukra, keponakan yang sangat disayanginya, dibanggakannya, kini harus dilupakannya. Setinggi apapun pangkat dan golongan papa, sebesar apapun pengaruh papa, seberapa pun melimpahnya kekayaan papa, Wak Odang tiada pernah tergiur. Tanah warisan dan ladang yang dulu terjual kini memang sudah diganti, nenek dan kakek sudah dinaik-hajikan, rumah di kampung direhab hingga menjadi begitu megah untuk ukuran rumah kampung, karib-kerabat yang sedang terpuruk hidupnya terus disantuni. Sudah tak terhitung banyaknya bantuan dan sumbangan yang diberikan papa untuk orang-orang di kampung. Sekolah dibangun, masjid direnovasi, jalan diperbaiki, hingga nama papa begitu harum. Dermawan, pemurah, dan baik hati. Meski berkarir di kota, menjadi orang besar dan kaya-raya, papa tak lupa pada tanah asal.
Namun, tidak demikian halnya dengan Wak Odang, yang nyaris tak pernah berubah nasibnya. Tubuhnya perlahan-lahan remuk digasak penyakit tua. Dirawat istri dan anak-anaknya dengan pengobatan seadanya. Berkali-kali papa dan mama datang mengunjunginya, menawarkan bantuan, agar Wak Odang dapat berobat secara layak, tapi ia selalu menolak. “Ajalku akan lebih cepat bila berobat dengan uang subhat-mu itu,” kata Wak Odang sambil terbatuk-batuk. Ia benar-benar telah menutup segala pintu bagi papa, keponakan kesayangannya. Sepeser pun Wak Odang tak sudi mencicipi kekayaan papa. Wak Odang seolah-olah tahu dari mana sumber keberlimpahan di rumah amplop kami. Di matanya, kami lebih kotor dari najis, yang akan membatalkan wudhu’nya.  Kami sangat malu bertemu dengannya.
***

    
Namun, rumah amplop kini sudah sepi. Tiada pernah kedatangan amplop lagi, sebagaimana dulu. Kemarau dari riuh suara masa kanak-kanak kami. Barangkali ia sudah tak layak disebut rumah amplop. Entah ke mana menghilangnya huruf-huruf dari bekas kertas amplop, mainan masa kecil kami. Mungkin sudah dibuang mama, lalu masuk ke karung-karung para pemulung. Sudah lama kami tak menginjakkan kaki di sana. Penghuninya hanya mama, satu orang pembantu, dan seorang tukang kebun. Setahun lalu, papa mengajukan permohonan pensiun muda. Ia ingin berkiprah membangun kampung halamannya. Sebagai putra daerah, papa ambil bagian dalam pemilihan Walikota. Dari desas-desus yang kami dengar, papa disebut-sebut sebagai calon kuat. Tim sukses dan para simpatisan berani menjamin kemenangan papa, tapi dengan satu persyaratan ringan;  ia harus punya istri dari tanah asalnya sendiri. Agar predikat papa sebagai putra daerah semakin sempurna, hingga dapat menangguk sebanyak-banyaknya suara. Maka, tanpa ragu-ragu, papa mempersunting gadis desa bernama Nurjannah, seusia anaknya. Berbuih-buih mulut papa meyakinkan mama bahwa pernikahan itu tak lebih dari pernikahan sandiwara demi mendulang suara, agar ia memenangkan pemilihan Walikota. Entah karena jengkel, atau barangkali karena sangat maklum pada watak kemaruk papa, mama menyikapinya dengan amat santai. “Silahkan saja. Tapi sebaiknya kita berpisah saja!”
Sebagai Walikota terpilih, kini papa menggandeng Nurjannah, perempuan muda itu, ke mana-mana. Bukan saja dalam urusan-urusan kedinasan, tapi juga urusan bersenang-senang dan berbelanja ke Jakarta. Bersama istri muda, papa membangun “rumah amplop” kedua dalam sejarah hidupnya. Ganjilnya, mama sama sekali tak terguncang oleh kegilaan papa. Lagi pula, tampaknya mama sudah bosan menjadi istri dari suami yang setiap hari disumpah-sumpahi banyak orang. Kami pikir inilah kesempatan mama melepaskan diri dari genggaman papa. Kami, anak-anaknya, sudah dewasa. Sudah punya dunia masing-masing.
Mama tak ingin ke mana-mana, ia hanya ingin istirahat di kota ini, di rumah amplop ini, dan pensiun sebagai istri birokrat keparat. Aku, Abim, dan Amru juga tak menggubris pernikahan papa. Amru, adikku, hanya bilang: “silsilah Papa sebagai lelaki setia telah terpenggal sejak ia menceraikan Mama.” Itu mengingatkan kami pada luapan kemarahan Wak Odang di masa silam: “silsilah Sukra sebagai anak baik-baik telah terpenggal sejak ia dipegawai-negerikan dengan uang pelicin”. Sebagaimana Wak Odang, kami juga telah menutup segala pintu bagi kedatangan papa, seberapa besar pun rasa kangen kami padanya. Kami sudah rela kehilangan papa. Begitulah sejarah kecil para penghuni rumah amplop. Dulu, para pengirim amplop diam-diam menyebut papa sebagai manusia pemakan segala, kini papa sering digunjingkan teman-teman arisan mama sebagai pejabat pemanjat segala


Depok, 2013


Monday, April 29, 2013

INDONESIA DALAM BIOGRAFI PIKIRAN

 

 

Oleh: Damhuri Muhammad





(Media Indonesia, Minggu 28 April 2013)



Pesawat capung melintas di langit Barebba, ketika seorang bocah bermain di bawah pohon asam yang membatasi wilayah permukiman dan hamparan sawah. “Jika besar nanti, aku mau naik kapal terbang seperti itu. Aku akan hinggap di atas pohon asam ini,” gumamnya pada seorang teman. Impian kanak-kanak itulah titik paling mula pengembaraan Mochtar Pabottingi, menembus lapis demi lapis cakrawala.Bukan semata-mata perjalanan spasial melintasi benua hingga berlabuh di Amerika, tapi juga tarikh pencapaian intelektual yang mengantarkannnya pada gagasan tentang “Indonesia”, yang mewujud-nyata--bukan sekadar bayangan sebagaimana ditegaskan Ben Anderson dalam terminologi imagined society. 

Meski dibuhul dengan cerita dari serpihan-serpihan kenangan masa kecil di Bulukumba, masa menjadi aktivis di Yogyakarta, hingga kenangan masa perantauan di Amerika, novel bertajuk Burung-burung Cakrawala ini lebih tepat ditandai sebagai tarikh pikiran ketimbang sebuah riwayat hidup. Mochtar memadukan unsur bercerita dengan sikap intelektualnya, terutama dalam gagasan tentang tradisi-visi, nasionalisme, egalitarianisme, dan konsep negara-bangsa. Jejak pikiran dalam buku ini bukan textbook yang penuh-sesak catatan kaki sebagaimana lazimnya tulisan akademisi sekaliber Mochtar Pabottingi. Ia melakukan simplifikasi pemahaman terhadap ide-ide besar di sela pengisahan pergaulan masa muda, kedekatannya dengan sejawat-sejawat berbeda agama, hingga romantikanya dengan Nahdia, istri yang bersetia dalam situasi sesulit apapun.   

Narasi sastrawi yang merefleksikan kesadaran “menjadi Indonesia”, tentu bukan pilihan yang tiba-tiba bagi Mochtar. Jauh sebelum menjadi profesor ilmu politik, ia penulis cerpen. Sejak 1963 hingga 1967 cerpennya Wanita dan Kota,  Kuli, Borero, telah tersiar di Pos Minggu Pagi, koran mingguan di Makassar. Bahkan pada 1964, ia memenangkan lomba penulisan cerita pendek se-Sulawesi Selatan. Di tahun yang sama, ia juga menulis naskah drama berjudul Kujujuran Masih Ada, yang dipentaskan di Bulukumba dan Makassar. Selepas itu, karya-karyanya berhamburan di majalah Horison dan media-media nasional. Jalan kepengarangannya beroleh apresiasi dari sastrawan senior Makassar seperti Rahman Arge, Husni Jamaluddin, dan Arsal Alhabsi. Ia penyuka komik kelas berat, cerita silat, roman-roman balai pustaka, novel asing, dan penggemar film. Inilah cakrawala Mochtar yang pertama; menemukan ruang yang lapang di ranah sastra, tempat ia mengembangkan layar estetik guna menumpahkan segenap pengalaman literer yang mendahului usianya.

Cakrawala selanjutnya adalah kesadaran melawan otoritarianisme Orde Baru. Mochtar tampil di barisan depan demonstrasi malam 31 Desember 1973 yang dikenal sebagai Malam Keprihatinan Nasional. Ia sempat diinterogasi aparat, sebab demonstrasi itu hanya berjarak beberapa hari dengan peristiwa Malari 1974. “Pikiran” yang terkandung dalam cakrawala ini adalah penolakan terhadap legitimasi teoretis tiga indonesianis asal Amerika--Harry Benda, Clifford Geertz, Ben Anderson--yang sama-sama berpandangan bahwa kebudayaan Indonesia sejak dulu memang  sudah ditandai oleh paham dan praktik ketaksetaraan (hal 309).Ia menyangkal pembenaran akademik yang terlalu berpatokan pada “sistem nilai” tersebut. Bagi Mochtar, sebagaimana terbaca dalam artikel  Kebudayaan Bukanlah Terdakwa; tidaklah benar untuk tiap kali menjelaskan kemajuan maupun keterbelakangan suatu bangsa dengan menunjuk pada kebudayaannya. Gagasan ini disiarkan guna menyanggah konsep determinasi kebudayaan yang telah disuarakan oleh Sutan Takdir Alisjahbana sejak zaman Polemik Kebudayaan. Secara tidak langsung, Mochtar kemudian juga mengambil posisi yang berseberangan dengan Soedjatmoko, sehubungan dengan artikel Pembangunan Ekonomi sebagai Masalah Kebudayaan. Baik STA maupun Soedjatmoko, menempatkan kebudayaan praktis sebagai satu-satunya penentu. Sebaliknya Mohctar berpandangan bahwa kebijakan-kebijakan nyata di bidang ekonomi dan politik lah yang menentukan layu atau mekarnya pembangunan kebudayaan. Maka, dalam menelusuri kebudayaan Nusantara-Indonesia, ia menempatkan kebudayaan sebagai variabel “yang sangat ditentukan” (hal 286). Kebudayaan yang dirancang sedemikian rupa guna memuluskan agenda-agenda kuasa kolonial. Pola-pola terencana semacam inilah yang kemudian menitis ke dalam kuasa Orde Baru.

Sebagai novel, alur pengisahannya terlalu linear, tanpa tikungan, apalagi tanjakan tajam yang menghentakkan, namun sebagai tarikh pikiran, ia  menjelaskan asbab alwurud dari gagasan-gagasan penting Mochtar dalam diskursus ilmu politik. Mendedahkan proses “kemenjadian” pemikiran yang genuine, dan dapat dicerna secara gamblang. Bukan saja karya intelektual penulis, buku ini juga mengurai berbagai latar belakang pemikiran yang berpengaruh pada alam intelektualnya, yang disampaikan dengan ungkapan-ungkapan prosaik yang jernih dan bersahaja.

Perantauan di Amherst dan Honolulu menjadi cakrawala Mochtar yang lain. Ia terpesona dan hampir jatuh cinta pada keadaban Amerika. Meski dalam batas-batas tertentu tak bisa menerima alam liberal yang diberhalakan banyak orang, namun burung yang telah terbang begitu jauh, hampir bersarang di keteduhan alam Honolulu. Hamparan pasir putih pantai Waikiki, bunga-bunga musim semi di jalan East-West Road, suasana keakraban di apartemen Kalakaua Avenue, apalagi kehangatan dengan Nahdia yang kembali menyala, pun dengan Pilar, Yogas, Dian, Adhya. Namun, cakrawala paling puncak yang ditembus Mochtar selama bermukim di Amerika justru kesadaran tentang betapa nyatanya negeri bernama Indonesia. Bersusah-payah ia membuktikan sejarah mula-mula egalitariansme dalam kebudayaan Nusantara yang bersinergi dengan nasionalisme guna memancangkan Indonesia, hingga afirmasi-afirmasi teoretis para Indonesianis bertumbangan. Maka, pohon asam masa kecil itu benar-benar menjadi tempat hinggap seekor burung, setelah terbang jauh menembus lapis-lapis cakrawala.


DATA BUKU


Judul            :  Burung-burung Cakrawala
Penulis         :  Mochtar Pabottingi
Penerbit       :  Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan       :  I,  2013
Tebal           :  386  halaman