Search This Blog

Loading...

Tuesday, January 06, 2015

Lembar Sastra dalam Rimba Raya Cerita


Damhuri Muhammad

(Media Indonesia, 28/12/2014)



Bila tuan penyuka cerita, tuan tak perlu repot pergi ke toko buku, mengobrak-abrik rak buku fiksi guna menemukan jenis cerita yang sesuai selera. Di era  facebook dan twitter, keseharian kita sudah bergelimang cerita. Di mana pun tuan berada--sedang bersantai di rumah, menunggu pacar di restoran cepat-saji, di sela jadwal rapat yang padat, atau sekadar mengisi waktu dalam kalutnya kemacetan di Jakarta--tuan leluasa menyantap rupa-rupa cerita. Tuan tiada bakal kekurangan stok cerita. Sebab, ia melimpah-ruah dan beralih-rupa dalam waktu tak terduga. Tuntas satu cerita, tiba cerita baru yang lebih dahsyat, hingga dalam beban persoalan yang kian berat, kita sedikit terhibur, atau mungkin terpesona dibuatnya.
Ada kisah ringan tentang ibu rumah tangga yang “ngomel-ngomel” di dinding facebook lantaran fenomena “Jilboobs”--berjilbab di kepala, tapi menganga bagian dada (boobs)--yang seolah menyindir gayanya berbusana. Betapa tidak? Kepala memang sudah berkerudung, tapi wilayah dada masih membusung. Itulah awal mula isu “Jilboobs” bergulir dan menjadi pergunjingan yang sibuk di media sosial. Maklumlah, ibu muda itu baru saja terpanggil untuk berhijab, dan ia belum dapat meninggalkan penampilan seksi sebagaimana dulu. Ia sudah punya niat baik, tapi dunia maya malah menertawakan prosesi pertobatannya.  
Atau kisah tragis tentang bocah perempuan yang disiksa hingga meninggal dunia oleh ibu kandungnya. Pasalnya sepele; saat ditinggal di rumah, si bocah asik bermain corat-coret menggunakan lipstick milik ibunya. Ia memperlakukan lipstick mahal sebagai kapur tulis guna mencoreti dinding, daun pintu, hingga seprei. Setiba di rumah, ibunda marah bukan main. Tega ia menghajar anak manisnya. Menjambak rambutnya, menendangnya, hingga tersungkur di lantai, lalu mencekik anak-kandungnya itu hingga tewas. Tak lama berselang, ibu muda itu menemukan secarik kertas berisi tulisan pensil lipstick goresan tangan almarhumah gadis kecilnya; I Love Mama.
Ada pula ironi tentang perempuan bercadar yang sedang berbelanja di sebuah minimarket di Paris. Setelah mendapatkan barang-barang kebutuhan, lekas ia menuju kasir. Kasir yang dituju adalah perempuan keturunan Arab berbusana modern. Sinis ia menatap perempuan bercadar itu. Ia menghitung nilai barang-barang belanjaan perempuan bercadar, lantas melemparkannya secara kasar ke atas meja. Tapi perempuan bercadar begitu tenang, hingga kasir kian geram. "Kita punya banyak masalah di Prancis dan cadar kamu itu salah satu masalahnya. Di sini kita berbisnis, bukan untuk pamer agama. Kalau kamu mau mengenakan cadar, pulanglah ke negerimu dan jalani agamamu sesukamu!" Sesaat perempuan bercadar berhenti memasukkan belanjaan ke dalam keranjang. Lekas ia membuka cadar, lalu menatap mata kasir. Wajah di balik cadar ternyata wajah perempuan kulit putih dengan sepasang mata biru. "Aku perempuan Prancis tulen. Begitu pula ibu-bapakku. Ini Islamku dan ini negeriku. Kalian telah menjual agama kalian, dan kami membelinya."
Kisah-kisah semacam itu lalu-lalang saban hari.  Tak perlu repot mencari alamat situsnya. Cukup mengikuti dinamika linimasa (timeline) masing-masing media sosial. Setiap user akan mendistrisibusikannya kepada sesama pengguna. Mungkin pada mulanya tuan tak berminat, tapi karena tautannya terus-menerus menghujani linimasa, mau tak mau, tuan akan membacanya, suka atau tak. Inilah jaman ketika lubang kesendirian yang kita gali di dalam telepon pintar menjelma belantara cerita, belukar kisah yang rimbun dan subur, dengan dramaturgi yang dapat diuji ketajamannya, imaji tragik yang bisa dipertandingkan mutunya, elegi yang lebih menikam tingkat kepedihannya ketimbang cerita garapan pengarang sungguhan. Lalu, apa yang tersisa bagi cerpen koran?  
Cerpen koran tak bisa melarikan diri dari belantara maya itu, apalagi menganggapnya sebagai residu kelisanan belaka. Cerpenis yang tak memiliki kepekaan pada realitas ganjil yang sedang menggejala, akan terkepung dalam lingkaran keusangan yang kehilangan daya tariknya. Cerpen bisa tersingkir dan tergeletak sebagai teks lapuk lantaran tak disentuh pembaca. Sebab, cerita yang berseliweran di sekitar kita lebih tragik ketimbang teks sastra yang di masa lalu mungkin dipuja sebagai karya besar dan adiluhung. Maka, kreativitas untuk melahirkan bentuk-bentuk baru menjadi penting di ranah kepengarangan. Menemukan ide yang genuine memang bukan perkara mudah. Namun, bukan berarti kebaruan tak dapat digali, dan realisme udik tak bisa diperbarui.
Upaya-upaya eksperimental dalam merancang cerita menjadi salah satu pertimbangan rubrik cerpen Media Indonesia sepanjang 2014. Boleh jadi gagasannya adalah etika politik yang dekaden sebagaimana tampak pada Pilpres 2014, namun cerpen tak berpretensi menghisap realitas itu seutuhnya. Satmoko Budi Santoso dalam Peci Ayah (MI, 31/8/14) misalnya, hanya menggunakan imaji tentang peci yang melekat di kepala ketua RT. Lipatan peci yang biasa digunakan ketua RT untuk menyimpan uang, berkembang menjadi sumber kecurigaan warga, bahwa ia juga menyimpan uang hasil korupsi di situ. Simbol peci yang berkonotasi kesucian dikontradiksikan dengan watak korup yang bejat. Satmoko mengaburkan makna “peci’ menjadi dunia abu-abu. Keterpujian yang bersenyawa dengan ketercelaan, hingga keduanya tak dapat dipisahkan.
Dalam konteks berbeda, imaji tentang peci terulang pada Lelaki Berpeci  (MI,22/6/14) karya Yusri Fajar. Di sini peci dicurigai sebagai atribut yang erat kaitannya dengan radikalisme, sebagaimana imaji banyak orang tentang cadar dan sorban, sejak maraknya fundamentalisme agama di berbagai belahan dunia. Sekali lagi, cerpen mempertukarkan “yang putih” dan “yang hitam” dalam ruang metafiksionalnya. Bila etika dan agama menegaskan garis demarkasi bahkan menempatkan “yang mulia” dan “yang tercela” secara hierarkis, sastra bekerja mencampur-baurkannya, membuat keduanya berkelit-kelindan, hingga sukar memilahnya. Dalam “yang tercela” selalu saja ada “yang pantas dipuja,” atau sebaliknya.
Eep Saefulloh Fatah dalam Jaket Ayah (MI 4/5/14) juga menunjukkan upaya eksperimental serupa. Muka dua kaum politisi yang sudah jamak dalam penglihatan kita, tak direkam dalam gambaran utuh, tapi hanya dikisahkan melalui atribut partai di musim kampanye. Jaket yang sejatinya menjadi identitas sekaligus kebanggaan terhadap partai yang mengantarkan seorang politisi menjadi bupati, di tangan pengarang berbalik menjadi muasal kebencian, hingga Eep mengunci cerpennya dengan adegan seorang istri membakar jaket partai milik suaminya, lantaran kecewa pada lelaku politik yang telah mengubah suaminya menjadi individu ambisius, lalu menghalalkan segala cara demi merengkuh kekuasaan.
Upaya kreatif dalam pencarian bentuk baru telah memunculkan nama-nama baru dengan kedalaman refleksi dan keterampilan teknis yang layak diperhitungkan. Sebutlah misalnya, cerpen Keputusan Ely (MI 3/8/14) karya Dewi Kharisma Michellia, dan Kisah Sedih Kontemporer (MI, 7/12/14) karya Dea Anugrah. Michellia mengembangkan layar imaji tentang keretakan hubungan suami-istri yang berakibat berat bagi anak-anak usia pradewasa. Tak ada kekerasan, juga dialog-dialog yang menggambarkan perseteruan sebelum perceraian. Ia hanya membangun karakter Ely, yang mengangkut semua mainan kesayangan semasa masih bersama ayah kandung, ke rumah ayah tiri yang tidak ia sukai. Di sana, Ely merawat ingatan bahwa dirinya masih berada di pangkuan ayah kandung. Ruang penceritaan penuh dengan halusinasi tentang ayah yang hilang dan masa kanak-kanak yang lekas berlalu. Cerpen dikunci dengan penegasan bahwa sejatinya ayah Ely sudah lama meninggal dunia, hingga ceracau gadis kecil di sepanjang cerpen itu hanya sandiwara yang tak perlu. Tapi, imaji pembaca mustahil direnggut begitu saja. Problem psikis yang dialami Ely tetap menjadi “penyakit jiwa” yang bisa menimpa siapa saja.
            Dea Anugerah merancang sentimentalisme terhadap pseudo-romantika dunia maya. Cinta sejati, belahan jiwa, setia sampai tua sebagai “ideologi” dalam romantika masa silam hendak dipatahkan, atau ditempatkan sebagai jargon lapuk yang tak layak dipercaya. Kisah Sedih Kontemporer adalah kamuflase dalam hubungan percintaan modern. Banyak yang latah mengucapkan rindu dan cemburu dalam hubungan “terselubung” yang berlangsung tanpa perjumpaan fisik. Ada yang patah hati lantaran merasa dikhianati, frustasi hanya karena pasangan abai membalas pesan yang terkirim melaui private message, padahal mereka tak pernah bertemu-muka. Banyak orang terobsesi hendak meng-online-kan perasaan, tapi mereka kerap tersiksa, hanya karena mati lampu atau koneksi internet terputus tiba-tiba.
            Ekplorasi imajiner dengan corak kebaruan serupa dapat pula ditemukan pada Menara Dosa (MI, 13/7/14) karya Maya Lestari Gf,  Seekor Capung Merah (MI, 25/5/14) karya Rilda A. Oe. Taneko, dan Dunia Angka (MI, 27/4/14)  karya Wina Bojonegoro. Para pendatang baru yang patut jadi perhatian, setelah generasi Taufik Ikram Jamil, Arswendo Atmowiloto, Yanusa Nugroho, Gus Tf Sakai, Agus Noor, Ratih Kumala, Iksaka Banu--sekadar menyebut beberapa nama.
Demikianlah semestinya peran lembar sastra di harian dengan segmen pembaca umum. Ia mempertimbangkan bacaan yang tak hanya bisa dikonsumsi penyuka sastra, tapi juga dapat dinikmati oleh sebanyak-banyaknya pembaca. Selain itu, lembar sastra tak melulu mengisi ruangnya dengan nama-nama besar, tapi memberi peluang pada nama-nama baru dengan mekanisme kuratorial yang ketat dan terukur. Maka, tunai pula tugas koran selanjutnya; melahirkan cerpenis baru guna memperkaya khazanah sastra. Jayalah terus cerpen Indonesia…



Damhuri Muhammad
Kurator cerpen lembar sastra Media Indonesia
   

Wednesday, December 03, 2014

Dalam Kegamangan Manusia Urban

-->
Damhuri Muhammad






Tak ada lagi Minggu dalam diriku
seluruh tubuhku sudah jadi hari kerja dan hari bicara

(Joko Pinurbo, 2012)





Suatu ketika seorang sejawat pengarang, membujuk saya untuk tinggal dan menetap di Jakarta. Sebuah kota, yang dalam imajinasi sahabat karib itu, bagai gelanggang raksasa tempat segala rupa pertarungan berlangsung begitu sengit, keras, dan beringas. Wahana tempat segala macam kompetisi dan kontestasi berlangsung sedemikian runcing, kejam, dan tiada ampun. “Kau bisa menjadi pengarang yang melambung setinggi langit, tapi dalam sekejap bisa pula tenggelam dan tak muncul ke permukaan untuk selama-lamanya,” katanya. Dengan intonasi suara yang dalam pendengaran saya terdengar sebagai “ancaman,” ia juga menegaskan bahwa kepengarangan yang telah saya upayakan selama bertahun-tahun, tidak akan ada gunanya, akan terbuang percuma, bilamana saya tidak berani hijrah ke Jakarta, arena pertarungan yang sesungguhnya. 

Maka, gambaran saya tentang kota metropolitan yang selama beberapa dekade telah menjadi kiblat bagi segala macam ukuran itu, adalah panggung besar yang mesti dipanjati guna meraih pengakuan sebagai pengarang, sebagai penulis, sebagai sastrawan. Bagi saya, di masa itu, seorang pengarang yang hendak bertolak ke Jakarta, hampir tak ada bedanya dengan anak-anak muda berandalan yang memiliki sedikit “modal” ilmu kanuragan dari kampung halaman--semacam tahan bacok atau kebal peluru, misalnya--yang mengadu ketangguhan dengan para jagoan guna merebut kuasa di terminal Pulogadung, Pasar Tanah Abang, atau terminal Grogol, misalnya. Barangsiapa yang bernyali mematahkan kuasa lama, seketika akan ternobat dan diakui sebagai jawara baru, dengan keberlimpahan dan ketersohoran yang bakal menyertai tarikh hidupnya. 

Bertahun-tahun kemudian, setelah saya benar-benar memberanikan diri untuk turun ke gelanggang panas bernama Jakarta, saya harus mengenang dan membenarkan wejangan sejawat pengarang itu. Di Taman Ismail Marzuki (TIM)--basecamp para seniman kelas berat--saya merasa seperti beruk yang masih berbulu sekujur tubuhnya, lantaran baru keluar dari semak-belukar hutan belantara. Kampungan, polos, dan gagap bercakap-cakap dengan dialek “lu-gue”. Untuk bisa duduk satu meja dengan pengarang-pengarang beken di warung-warung tenda sekitar kompleks TIM, sulit luar biasa bagi saya. Para sastrawan senior--tidak perlu saya sebut nama mereka--yang berusaha saya dekati dengan segenap kesantunan ala kampung, tidak menunjukkan sikap yang bersahabat. Mereka justru sinis, under-estimate, bahkan pada momen-momen tertentu, membuat saya merasa terhina sebagai orang daerah. Tapi begitulah Jakarta, yang perlahan-lahan saya pahami, saya maklumi, dan saya siasati, saban hari.

Lambat laun, saya bisa beradaptasi dengan manusia-manusia urban di Jakarta. Bukan hanya dengan kalangan praktisi sastra, tapi juga dengan individu-individu yang menekuni dan menggeluti berbagai bidang kesenian. Saya tidak lagi minder, berusaha “cuek” menyikapi sinisme, dan bila perlu saya juga memaklumatkan sedikit arogansi, sekadar memperlihatkan bahwa saya pun telah lahir sebagai subyek urban yang sama-sama mengais kemujuran, sebagaimana mereka. Saya mulai akrab dengan dunia malam Jakarta, terbiasa menenggak sebotol-dua botol bir dalam perjumpaan siang hari dengan klien di Senayan City atau Pacific Place, dan tidak merasa asing dengan pergaulan just having fun yang kerap terjadi di lingkungan seniman urban. 

Selain bekerja sebagai penulis profesional--fiksi atau nonfiksi--yang dapat tersiar di media mainstream atau diterbitkan di major-label publisher, di Jakarta juga terbuka bermacam-macam peluang. Ada banyak politisi berlimpah harta benda yang sedang membangun “proyek pencitraan” lewat buku biografi. Ada banyak pengusaha yang hendak terjun ke dunia politik dan karena itu ia perlu diperkenalkan melalui sebuah novel biografis. Banyak pula artis terkemuka yang berminat masuk ke dunia sastra--supaya tampak seperti manusia yang berbudaya. Pendek kata, bagi sastrawan urban, khususnya di Jakarta, tersedia banyak jalan guna mendapatkan honorarium yang jauh melebihi kompensasi pemuatan sebuah cerpen atau puisi di koran. Jasa penulisan buku biografi dapat dibandrol dengan harga Rp.100 hingga 150 juta, yang hanya digarap dalam waktu kurang lebih dua bulan. Bandingkan dengan nominal honor cerita pendek atau honor puisi di koran nomor wahid sekalipun.

Dalam suasana keberlimpahan itulah mereka dapat sedikit menikmati kesenyapan dalam lalu-lalang kebisingan Jakarta. Menyendiri di café-café. Menulis dengan perkakas canggih, mulai dari laptop, ipad, hingga smartphone layar sentuh seri terkini. Bila di masa lalu, warung, kedai, atau café digunakan sebagai tempat untuk saling bertemu, nongkrong bersama teman-teman, di café-café Jakarta masa kini, semua orang memilih duduk di bangku kosong, memesan menu untuk kebutuhan sendiri, lalu sibuk memencet keypad, dan mengutak-atik scroling pada gadget masing-masing, tanpa peduli kanan-kiri. 

Secara fisik memang tampak ramai, namun dalam kenyataannya, mereka tidak pernah saling menyapa, apalagi bercengkrama, lantaran semuanya sedang melayang-layang dan mabuk-kepayang di dunia facebook, twitter, instagram, dan lain-lain. Maka, yang saban petang duduk berdampingan selama berbulan-bulan, bisa jadi tidak pernah saling mengenal, apalagi terlibat dalam perbincangan hangat dan penuh keakraban. Di ruang-ruang publik, manusia-manusia urban ternyata justru sedang mencari kesendirian. Dan sebaliknya, dalam kesendirian  mereka merasa ramai, lantaran punya ribuan teman virtual di media-media jejaring sosial. Inilah semesta kesendiran yang palsu dan keramaian yang tak kasat mata.

Dalam lanskap dunia yang serba personal inilah para sastrawan urban menyelenggarakan proses kreatifnya. Dapat dibayangkan sejauh mana tingkat kepekaan mereka dalam merespon peristiwa-peristiwa sosial yang berlangsung setiap hari. Oleh karena itu, jangan dibayangkan dalam karya-karya mereka, akan tampil dengan kompleksitas persoalan kota besar sebagaimana yang pernah dilakukan Iwan Simatupang dalam cerpen Tunggu Aku di Pojok Jalan itu, misalnya. Prosa yang berkisah tentang sebuah pojok jalan tempat bertemu sekaligus tempat berpisahnya sepasang suami-istri. Bermula dari permintaan suami kepada istrinya untuk menunggu di pojok jalan, sementara ia hendak membeli rokok di warung. Namun si suami ternyata tidak kembali. Setelah 10 tahun berlalu, barulah suami itu muncul di pojok jalan yang sama. Tapi celakanya, si istri telah menjadi pelacur. Ketika ia hendak bercinta, istrinya meminta bayaran. Hal serupa pernah juga ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam cerpen Cerita dari Jakarta (2002, cetak ulang). Tentang seorang perempuan yang akhirnya menjadi pelacur lantaran keras dan asingnya realitas kota.

Pengarang-pengarang urban hari ini tidak berselera menghadirkan persoalan-persoalan utama kota besar seperti kemiskinan, premanisme, kemacetan yang hampir tak teratasi, tata kota yang amburadul, layanan publik yang tak manusiawi, dan sederet persoalan manusia urban Jakarta sepanjang hidup mereka. Jika ada, itu sekadar latar, atau yang dalam dunia fotografi kerap disebut  background. Kerunyaman masalah dalam dunia urban tak sungguh-sungguh menjadi point of interest (PoI) dalam kerja kreatif mereka. Barangkali karena lingkungan sastra urban adalah bagian dari persoalan itu sendiri. Sebagaimana sudah saya katakan, bahwa pertarungan untuk mendapatkan pengakuan sebagai pengarang di Jakarta sama saja dengan pergulatan seorang pendekar kampung yang terobsesi hendak menjadi jawara. Sama pula dengan ketatnya kompetisi di ajang pencairan bakat di dunia seni musik semacam Indonesian Idol, X-factor, atau The Rising Star. Segala bentuk upaya pencarian tersebut berujung pada satu muara bernama; ketersohoran. Maka, proses kreatif yang berlangsung adalah kesibukan-kesibukan artifisial untuk meraih mimpi-mimpi besar, hingga lupa pada kedalaman gagasan, abai pada kualitas kekaryaan. “Yang penting terkenal dulu, setelah itu baru serius berkarya.” 

Adalah Afrizal Malna, penyair yang sepanjang dua dekade telah mencurahkan perhatian pada seluk-beluk dunia urban. Muhammad Alfayyadl dalam esainya Tiga Halaman Belakang untuk Puisi-puisi Afrizal Malna (2010), mencatat Afrizal sebagai penyair urban yang paling konsisten menjelajah ruang urbannya. Ia menjelajah ruang-ruang yang tak tersentuh di pekatnya kemiskinan di pinggiran ibukota, makin sempitnya lahan, dan kehidupan yang makin berjejalan berbagi, berebut, dan berkonflik di antara manusia-manusianya.

Menurut Alfayyadl, puisi-puisi Afrizal bahkan telah meninggalkan dikotomi kota/kampung, dan mengantisipasi berbagai perubahan kultural, sosial, dan politis yang meluruhkan pembagian-pembagian itu. Semua itu campur-aduk sedemikian rupa dalam puisinya, dengan cara tak terduga dan membingungkan, demi menunjukkan kekalutan, rasa frustasi, kemarahan, dan kemustahilan yang membayangi Indonesia hari ini. Sajak-sajak Afrizal dibangun dengan idiom-idiom “es krim”, “coklat”, “shampo”, “donat”, “sikat gigi”, body lotion, styling foam, “Coca-cola”, sejak tahun 1990-an, yang menurut Alfayyadl, mengantisipasi, tapi sekaligus membenarkan, datangnya suatu era baru, di mana benda-benda akan bertahta dan menggantikan manusia. Di dunia urban, kata Afrizal, “Kita hanya mengenang manusia, dari kota-kota, yang ditata kaleng-kaleng coca-cola” (Antropologi dari Kaleng-kaleng Coca-cola). Manusia tak lagi ditemukan, atau memang jangan-jangan, telah tiada. “Di manakah manusia kalian temukan di antara kartu pos, donat, dan serakan tissu?” 

Rutininas yang semakin menyiksa, basa-basi yang membosankan, perilaku brutal di jalan raya, obsesi-obsesi yang membuat orang mempertaruhkan segalanya, tidur yang tak nyenyak lantaran minimnya rasa aman, pertemanan yang penuh kecurigaan, ternyata telah menguras banyak waktu dan tenaga. Oleh karena itu, subyek urban Jakarta sibuk menyelamatkan diri sendiri-sendiri--seperti menyelamatkan diri dari copet atau garong di Kopaja dan Metromini--terenyah-enyah berlari mengejar ekspektasi masing-masing. Tak terkecuali subyek pengarang, hingga yang muncul dalam karya-karya mereka adalah suara-suara “dari dalam diri”. Suara yang nyaris tenggelam dalam lautan kebisingan, yang senantiasa tersesat dalam lalu-lalang keramaian. Tak ada waktu untuk menyuarakan sesuatu “di luar diri”, lantaran mereka bukan malaikat penyelamat, bukan ratu adil, melainkan subyek yang juga tergilas oleh mesin-mesin urban dari waktu ke waktu. Maka, sebagaimana kata penyair Joko Pinurbo, tak ada lagi Minggu dalam diriku. Seluruh tubuhku sudah jadi hari kerja dan hari bicara.
***



*esai ini salah satu bagian dari paper panjang yang saya sampaikan dalam seminar sastra bertajuk "Suara Lokal, Suara Urban" pada Temu Sastrawan MPU, yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi DKI Jakarta, di Taman Menteng, Jakarta, 11 Oktober 2014.
*ulasan tentang cerpen Tunggu Aku di Pojok Jalan itu dan Cerita dari Jakarta, saya kutip dari esai "Cerpen, Ruang, dan Kota" karya Imam Muhtarom, yang terhimpun dalam buku Kulminasi (Teks, Konteks, dan Kota), Yogyakarta: Kasim Press, 2014
-->  -->

Friday, November 21, 2014

Menggali Pusara Bagi Bangkai Kenangan



 
Damhuri Muhammad

(esai pengantar novel Maha Cinta  karya Aguk Irawan MN, 2014)


Keriangan masa muda boleh saja berlalu. Usia yang senantiasa menua tentu tak bisa dibendung. Di jagad yang fana ini, tak ada yang sanggup melawan keringkihan. Setiap tubuh bakal lapuk, setiap yang tangguh bakal rapuh, lantaran ia terus bergerak menuju keusangan. Renta, ringkih, dan rapuh adalah sebuah keniscayaan. Namun, dalam tarikh manusia, rupanya ada yang tak lekang dihempas waktu, yang tak mempan dimakan masa, yang terus-menerus hadir di sekitar kita, dan tak terlupa hingga dunia dan semesta raya digulung sekalipun. Ia bernama “kenangan,” atau lebih tepatnya; kenangan pada kisah cinta. Berakhir bahagia atau malah terpelanting ke dalam bahaya, banyak aral yang melintang atau lancar-mulus saja, tragik, dramatik atau melankolik, kenangan setiap orang pada kisah cintanya, tiada pernah terkelupas dari ingatan. Ia akan terus berkembang biak, beranak-pinak, dan secara tak sengaja diwariskan secara turun-temurun, dari kurun ke kurun.

Kalaupun ada upaya hendak melupakannya, bahkan obsesi untuk membenamkannya di lubuk-lubuk telaga tak berdasar, nyalanya tetap akan menguap ke permukaan, puing-puing wewangiannya mengalir ke mana-mana. Dalam sebuah riwayat, seorang laki-laki yang menapaki jalan kesendirian seumur hidupnya akibat pengkhianatan cinta, pernah memaklumatkan bahwa romantika yang dulu berbunga-bunga itu telah dipusarakan dan kini sudah terkubur sebagai bangkai kenangan. Anehnya, saban hari ia senantiasa mengendus-endus, mencari aroma tak sedap yang menyeruak dari bangkai itu, hingga hidungnya tiada lagi dapat mengenal aroma  lain. Ia sedemikian kecanduan menghisap aroma bangkai kenangan itu. Hidupnya seolah-olah kiamat bilamana terpisah jauh dari pusara kenangan masa silamnya.

Begitulah “hukum kekekalan kenangan,” yang tak pernah dapat dimusnahkan. Sesaat mungkin bisa dialihkan pada individu atau obyek-obyek lain, namun itu sekadar batu loncatan untuk kemudian kembali berpulang pada romantika sejatinya. Sejarah cinta berserakan di mana-mana, bertebaran hampir di seluruh belahan dunia. Ada yang hanya dikenang dalam semesta kesunyian, ada yang dicatat lalu disembunyikan rapat-rapat dalam lembaran-lembaran nukilan rahasia, dan ada pula yang sengaja atau tak, dimonumentasikan dalam karya-karya masterpiece para pujangga. Sebutlah misalnya, tragedi cinta Romeo dan Juliet, mahapetaka cinta Steven dan Magdalena, Layla dan Majnun, atau kasih tak sampai Zaenuddin dan Hayati, yang tak bosan-bosan dibaca-ulang oleh segenap penggila kisah-kisah cinta. 

Kisah-kisah itu telah menjadi rujukan, menjadi sandaran, dan dalam batas-batas tertentu diperlakukan sebagai perkakas guna mengungkit-ungkit kembali kisah-kisah lain yang bersarang dalam perasaan masing-masing pembaca. Akibatnya, kita mengalami semacam De Javu, bahwa malapetaka cinta yang terjadi dalam roman-roman kelas dunia itu, juga berlangsung dalam tarikh hidup masing-masing pembaca. Oleh karena itu, romantika tragik yang telah menguras airmata dalam roman Tenggelamnya Kapan Van der Wijck, bukan lagi milik Hamka sebagai pengarang semata, tapi telah menjadi milik semua penikmat yang terbawa hanyut oleh deras arus kepiluannya.
         
Nama Hayati dipancangkan sebagai monumen kenangan tentang pengkhianatan cinta. Ia memilih Engku Aziz, laki-laki tajir bergelimang harta, orang beradat, orang bermartabat. Diabaikannya Zaenuddin, cinta platoniknya, laki-laki tuna-silsilah, miskin, dan tak berwibawa, demi nasib dan peruntungan yang lebih menjanjikan, demi hidup yang bergelimang kemewahan, demi mimpi-mimpi masa datang yang bagai “bersayap uang kertas.” Maka, Zaenuddin adalah monumen yang kedua, artefak luka yang senantiasa berdarah, yang terus menyimpan harapan,  mengendus-endus bangkai kenangan. Memiliki Hayati dalam arti seutuh-utuhnya adalah mustahil, hingga ia hanya dapat hidup dan bernapas bersama kenangan, dalam kenangan, untuk kenangan, selama-lamanya. Cinta sucinya pada Hayati tak pernah lusuh, gejolak rindunya tiada kunjung berhenti menderu, bahkan hingga Hayati meninggal dunia. Bagi Zaenuddin, Hayati, sebagaimana namanya, adalah “hidupku” adalah “nyawaku,” dan mencintai perempuan itu adalah kerelaan menerima perih dan ngilu luka akibat pengkhianatannya.

Agaknya, di sini pulalah medan tempat berpijaknya roman bertajuk “Maha Cinta” karya Aguk Irawan ini. Cinta yang akbar. Cinta yang tak tertandingi kebesarannya. Cinta yang tiada duanya. Adalah Imran, laki-laki yang tengah menapaki perjalanan cinta itu bersama kembang desa Sembungan, Wonosobo, bernama Marwa. Pangkal-soal dari  kasih tak sampai itu bermula dalih yang klise sekaligus klasik; status sosial. Marwa berasal dari keluarga juragan tembakau, Haji Nurcahya, tuan tanah yang sangat disegani di Sembungan. Sementara Imran hanya pemuda desa biasa, ayah-ibunya petani tembakau sebagaimana orang kebanyakan, dan bukan keluarga terhormat. Maka, sudah gampang diterka, Haji Nurcahya memandang hubungan remaja yang akan segera menamatkan studi di bangku SMA itu sebagai aib, yang tak mungkin direstui. Tak berhenti sampai di situ, ayah Marwa sampai menegaskan penghinaan pada Ali, ayah Imran hingga menyulut amarah dan ketegangan, yang tak henti-henti dipergunjingkan di tengah kampung.  






Pengarang membuhul roman ini dengan latar belakang budaya santri yang kental. Oleh karenanya, jangan dibayangkan percintaan Imran-Marwa sebagai hubungan yang liar sebagaimana pergaulan muda-mudi masa kini. Mereka hanya bertemu di majelis pengajian, tanpa berbincang-bincang secara langsung, apalagi bergandengan tangan. Kontak fisik paling mungkin hanyalah saling bersitatap yang kemudian berujung dengan senyuman yang terus dikenang saban petang. Selebihnya, diselesaikan dengan surat-menyurat sebagaimana layaknya cara berkasih-kasihan di era tahun 80-an. Jauh sebelum demam Blackberry dan Android mewabah dan menjangkiti siapa saja. Dengan jalan pengisahan yang jadul dan usang begitu, maka pertaruhan roman ini tidaklah main-main, pengarang sedapat-dapatnya harus merancang kekuatan ungkapan prosaik, yang sama sekali berbeda dengan jaman pesan pendek yang sedang merajalela di kurun ini.

Dalam beberapa bagian, narasi-narasi yang ditancapkan terasa masih verbal, cair, dan datar, hingga pembaca akan bergegas melampauinya untuk sampai pada dialog-dialog eksperimental sesuai dengan semangat masa itu. “Hati hanya satu, maka cinta tak bisa dibagi,” demikian ungkap Imran suatu ketika. Ungkapan yang genuine, khas, memorable line, dan cepat bersarang di benak pembaca. 

Imran dan Marwa sejatinya tak pernah goyah, apalagi menyerah. Mereka berjanji akan terus bersetia hingga tiba masanya Haji Nurcahya luluh dan berdamai dengan ketulusan cinta mereka. Marwa dikirim ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah, sementara Imran memang sejak mula bertekad hendak kuliah di Yogyakarta. Mereka terpisah hampir 5 tahun lamanya, meskipun surat-menyurat terus berlangsung. Janji-janji terus disemaikan. Impian masa datang yang bahagia terus pula dibayangkan. Marwa hanya diijinkan pulang ke Sembungan bilamana Imran tidak pulang. Begitu sebaliknya, hingga mereka tidak pernah bertemu muka. Masing-masing hanya dapat mengandalkan kabar dari Muniri, Rowiyatin, Zamroni, Hikmah, Sirhadi, Rufiah, Khotibi Miratul, teman-teman karib yang selalu ada di Sembungan. Itu saja sudah terasa melegakan, meski rindu yang menggebu tentulah tidak tertuntaskan. 
      
Lalu, muncullah orang ketiga, yang hampir dapat diterka pula peran pentingnya dalam kisah ini.  Ia bernama Maman, teman kuliah Marwa di Universitas Trisakti, Jakarta. Diam-diam ia menaruh hati pada Marwa, meskipun dari teman-teman perempuan Marwa ia tahu bahwa Marwa sudah punya kekasih yang sedang berkuliah di Yogyakarta. Namun, Jakarta rupanya telah membuat perempuan sholehah itu berubah. Dalam waktu tak lama, santriwati itu berubah menjadi perempuan urban yang tak segan-segan lagi menanggalkan jilbabnya. Antagonis ini tentu merasa semakin berpeluang. Petaka bermula dari gagalnya perjumpaan Imran dan Marwa di pernikahan sahabat karib mereka, Muniri dan Rowiyatin, yang sudah lama direncanakan. Imran benar-benar pulang ke Sembungan, sementara Marwa sengaja dilengahkan oleh Maman. Ia bersiasat mengajak Marwa, Fitri dan Yeni untuk melakukan survei ke lokasi KKN di Bogor hingga Marwa lupa pada janji pulang ke Wonosobo pada hari yang sama. Atas kebaikan hati Maman yang sedang menjadi sutradara dari sandiwara itu, Marwa memang tetap bisa menepati janji. Mobil pribadi Maman meluncur ke Jawa membawa Marwa, Fitri, Yeni menuju desa Sembungan. Mereka mengantarkan Marwa bertemu Imran, pujaan hati yang sangat dirindukannya. 
 
Sialnya, pesta sudah usai. Tepat pada saatnya Imran hendak menaiki bis menuju Jogja, Marwa dan teman-temannya dari Jakarta sampai di Sembungan. Sekilas Marwa melihat Imran, namun bis sudah melaju kencang. Alih-alih kepulangan itu melunaskan rindunya pada Imran, Marwa malah membawa persoalan; Maman. Muniri, Rowiyatin, dan sejawat-sejawat Imran yang lain mencurigai laki-laki asal Bogor itu sebagai kekasih baru Marwa, dan itu berarti ia telah berpaling dari Imran. Apalagi, Haji Nurcahya kemudian tergiur dengan basa-basi Maman. Gagah, kaya, dan sudah rela berkorban mengantarkan putrinya jauh-jauh dari Jakarta.

Di pihak Imran, pengarang menghadirkan karakter Dewi Halimatus Sa’diyah, lagi-lagi sosok gadis santri. Hubungan mereka sangat karib, bahkan Dewi pun diam-diam kagum pada kepribadian dan kesalehan Imran. Petaka kedua tak terelakkan. Betapa tidak? Saat Marwa menyambangi Imran ke pesantren, tempat Imran beraktivitas sembari kuliah, ia beroleh kabar  bahwa Imran, Dewi dan Zaid baru saja bertolak ke Jakarta. Ketiganya terpilih sebagai peserta studi banding di sebuah perusahaan bonafid di Jakarta. Marwa dibakar cemburu. Sementara itu, saat menyambangi tempat kos Marwa di bilangan Grogol, Imran tiba-tiba harus mundur selangkah. Pasalnya, ia melihat laki-laki lain di pintu kamar Marwa. Tak tanggung-tanggung, dari kejauhan Imran menyaksikan laki-laki itu mencium tangan Marwa. Hangat, mesra, penuh gairah. Hal yang belum pernah ia lakukan pada kekasihnya. Laki-laki itu tidak lain adalah Maman, si antagonis kita.

Lambat laun nama Imran semakin bersinar di kampung halaman. Calon sarjana Pertanian yang tak tercerabut dari akar kesantrian masa remajanya. Aktivis organisasi. Cerdas, santun, dan bergelimang prestasi. Orang-orang Sembungan memperkirakan masa depannya akan cemerlang, meski ladang tembakau ayahnya telah terjual untuk membiayai sekolahnya. Surat-surat Imran pada Marwa tidak lagi berbalas. Ia sudah menjelaskan duduk-perkara hubungan pertemanannya dengan Dewi, namun itu ternyata tidak bisa lagi mengubah keadaan. Marwa berbalik membencinya, hingga ia jatuh ke pangkuan Maman. Keluarga Nurcahya berpaling memuja-muja Imran, dan berubah merestui hubunganya dengan Marwa. Tapi apa boleh buat, Marwa tidak lagi bisa percaya pada kesetiaan Imran. Ia menuding Maman telah berkhianat, dan cinta mereka tak perlu diselamatkan.

Sedalam apa dosa yang telah diperbuat Marwa dan Maman, sebesar apa ketakjuban keluarga Nurcahya pada kehalusan budi Imran--pemuda miskin yang kini telah naik-daun menjadi orang paling berpengaruh di perusahaan perkebunan milik tuan Subrata yang berkantor di salah satu gedung jangkung di Jakarta--dan apa upaya Muniri,  Rowiyatin, Dewi dan Zaid untuk menyembuhkan luka-luka Imran, rasanya tidak perlu saya singkapkan dalam ulasan ini. Yang pasti, setelah beroleh kabar  tentang kematian Marwa--beberapa saat selepas kelahiran bayi yang diwasiatkannya bernama “Imran Maulana”--Imran benar-benar jatuh dan terpuruk ke dalam liang kepedihan yang tak terpermanai. 

Menyelami kepedihan yang terpiuh-piuh dalam roman ini seperti menziarahi pusara yang telah digali Imran guna menyemayamkan jenazah kenangan masa silamnya bersama Marwa. Meski begitu, “Hati hanya satu, maka cinta tak bisa dibagi,” Imran tak hendak bergeser sedikit pun. Cintanya pada Marwa tidak mungkin disudahi, sebagaimana cintanya pada Tuhan. Tarikh Marwa dalam hidupnya telah menjelma sebagai nyawa, sebagai nyala semangatnya, sebagai keriuhan dalam kesepiannya. Selama-lamanya. Sekekal-kekalnya…


Thursday, September 04, 2014

Bila Politik Bertopeng, Sastra Menyingkapkannya


Damhuri Muhammad

(Kompas, Minggu, 31/08/14)


Akibat sebuah kecerobohan, seorang ahli kimia molekuler mengalami kecelakaan di laboratoriumnya. Dalam sebuah eksperimen, wajahnya terbakar. Ia mengalami luka-luka keloid, hingga seluruh jaringan kulit mukanya rusak, bopeng, remuk tak berbentuk. Sejak itu, ia menjadi anonim, tak bisa dikenali lagi, terkucil, bahkan dikhianati oleh orang yang dicintainya--istrinya berselingkuh, tak bisa lagi bersetia pada suami tak bermuka.
         Ahli kimia itu kehilangan identitas yang dulu melekat di raut mukanya. Tak soal bila yang cacat itu tangan atau kaki, tapi apa jadinya bila ia kehilangan muka? Lalu, ia merancang sebuah topeng guna menggantikan wajah lamanya.  Ingin terlahir kembali dengan wajah utuh. Hasilnya tak tanggung-tanggung, dengan perangkat teknologi dan bahan-bahan yang diolahnya sedemikian rupa, topeng ciptaannya bisa berkeringat, di permukaannya bisa tumbuh bulu dan jerawat.  Namun, alih-alih topeng itu membebaskannya dari keterasingan, malah membuat ia kian terpuruk dalam situasi keterpelantingan eksistensial. Jangankan topeng itu, bahkan wajah aslinya yang sudah hancur itu tetap tidak bisa merepresentasikan kediriannya yang sejati. Ia terus didesak untuk memercayai bahwa wajah aslinya pun topeng, tak lebih berharga dari topeng yang telah berhasil mengelabui mantan istrinya. Baginya, tiada sesuatu yang bisa dipancarkan oleh muka, selain dusta dan kepalsuan. Demikian kisah tragis yang dinukilkan sastrawan Jepang, Kobo Abe (1924-1993) dalam novelnya The Face of Another  (1967).
          Personalitas manusia bertopeng semacam itu juga menjadi perhatian serius dalam teks monolog Wakil Rakyat yang Terhormat karya Putu Fajar Arcana, yang dibukukan dalam Monolog Politik (2014). Berkisah tentang seorang wakil rakyat yang merasa hidupnya terpasung di balik topeng. Ia mengaku telah mengkhianati amanah rakyat, menangguk keuntungan atas nama rakyat, menimbun kekayaan dengan menghalalkan segala cara, dan menggunakan muslihat jahat demi mempertahankan kursi di parlemen. Itu semua karena ulah topeng yang telah meringkus wajah aslinya. Ia menyesal dan ingin mengelupaskan topengnya hingga kembali menjadi manusia biasa. Celakanya, topeng itu sudah bersenyawa dengan kulit wajahnya. Dengan segala cara ia membuka topeng itu. Sialnya, setelah topeng terkelupas, muka aslinya ternyata jauh lebih buruk.
        Monolog itu telah dipentaskan di Bentara Budaya Jakarta, 19 Juli 2014, diperankan oleh aktris kawakan Ine Febriyanti dan disutradrai langsung oleh Putu Fajar Arcana. Sengaja atau tak, panggung itu relevan dengan momentum politik, karena penyelenggaraannya hanya dua bulan selepas Pemilu Legislatif (Pileg) dan beberapa hari setelah Pilpres 2014. Masih segar dalam ingatan kita, betapa dusta diumbar di mana-mana, fitnah merajalela, baik politisi maupun simpatisan saling sikut, saling seruduk, guna mendulang suara. Kontestasi politik yang begitu runcing menjelang Pilpres bagai panggung teater yang lebih dramatik dari teater paling dramatik sekalipun. Karena berbeda pilihan Capres, banyak pertemanan berubah menjadi permusuhan, yang hingga kini mungkin belum terdamaikan. Hubungan atasan-bawahan, mertua-menantu, bahkan suami-istri retak, hanya karena perbedaan pilihan politik. Maka, tantangan panggung monolog yang hendak memotret perilaku politik--apalagi personalitas subyek politik--menjadi tidak main-main. Ia harus lebih intens, eksperimental, dan lebih dramatik dari peristiwa politik, yang dalam prolog Putu Wijaya di buku itu, disebut  “teater spektakuler yang begitu mencekam.”  
            Pada 20 Juli 2014 dipentaskan pula lakon bertajuk Orgil (Orang Gila),  monolog keempat dari lima monolog yang terhimpun dalam buku tersebut. Diperankan oleh aktor Didon Kajeng, dan disutradarai Afif Mahfuz. Berkisah tentang pengakuan seorang tokoh kunci dalam skandal korupsi yang melibatkan banyak petinggi Parpol. Demi keamanan negara dan nama baik seorang petinggi Parpol yang sedang berkuasa, tokoh kunci itu diklaim gila, lalu dijerumuskan ke Rumah Sakit Jiwa, hingga kesaksiannya tak bisa dibenarkan. Lagi-lagi, Arcana hendak menyingkap personalitas subyek politik, yang pertaruhannya tak tanggung-tanggung. Bila pencapaian estetiknya tidak sampai, monolog itu akan segera terhimpit oleh lalu lalang kabar tentang Bupati yang tertangkap tangan oleh KPK, atau mantan menteri berstatus tersangka, tapi masih bisa tersenyum lebar di layar kaca, seperti kaum selebritas. Sandiwara yang begitu menakjubkan.
            Meski begitu, teks monolog bukan saja untuk dipanggungkan. Ia juga kesaksian yang berasal dari situasi menyepi. Di saat politisi jauh dari keriuhan gelanggang politik, kejernihan biasanya menyembul ke permukaan, kewarasan menghentak-hentak menolak siasat jahat yang sedang direncanakan. Dari situlah Arcana membangun Monolog Politik-nya. Kelak, teks-teks monolog itu bukan sekadar pengakuan personal manusia politik yang menjadi panggilan penciptaan seorang sastrawan, tapi juga pengakuan massal setiap orang dalam jaring laba-laba politik, atau yang disebut oleh Claude Lefort (1988) sebagai “the political” (le politique). Tokoh imajiner dalam Wakil Rakyat yang Terhormat dan Orgil bukan saja representasi dari politisi tertentu, tapi juga pengakuan massal--bahkan banal--dari semua subyek politik. Sebab, yang berperangai politik menyimpang bukan saja elit, rakyat jelata yang menerima amplop sebelum berangkat ke TPS, sama bobroknya dengan para penggila kursi di parlemen itu. Kita sadar bahwa kita sedang berdusta, namun kita hanya mengakuinya dalam kesendirian, saat berbicara dengan diri sendiri, saat bermonolog.
Begitulah semestinya posisi sastra dalam hiruk-pikuk politik yang tak terpermanai itu. Ia berkhidmat di ranah kesaksian, dan bertahan untuk tidak terseret arus deras politik. Sebelum Pilpres 2014, dunia sastra dikejutkan oleh munculnya sejumlah puisi--atau yang setidaknya disebut “puisi” oleh kaum politisi--seperti Sajak Tentang Boneka, Sajak Seekor Ikan, Airmata Buaya, Raisopopo, karya penyair-politisi, Fadli Zon. Puisi-puisi instant yang dirancang atas dasar sinisme pada lawan politik tertentu. Namun, alih-alih dapat dipersepsi sebagai puisi, malah terdengar sebagai slogan. Semacam bahasa politik yang menyaru ke dalam tubuh puisi. Monolog Politik karya Putu Fajar Arcana seolah hendak merespon karya sastra yang diperlakukan sebagai perkakas politik itu. Sastra adalah mata, bukan senjata. Ia bermula dari kejernihan dan kewarasan, bukan dari kedengkian, apalagi kebencian. Bila politik gemar membuat topeng, sastra senantiasa akan menyingkapkannya…

Saturday, August 16, 2014

Jawul Menggerek Bendera

-->Cerpen  Damhuri Muhammad 


“Itu barang berharga, masa kamu lupa?” bentak nyonya Sonia pagi itu.      
        “Coba cari di lemari pakaian bekas, kalau ndak ketemu, cari di gudang! Pokoknya bendera itu harus ketemu. Paham?” sambung nyonya lagi, suaranya sedikit meninggi.
          “Iya Nya, iya…” jawab Sumi, gugup.
         Meski Sumi mengobrak-abrik lemari pakaian bekas atau membongkar tumpukan barang-barang di gudang, ia tidak bakal menemukan barang yang dicari. Sebab, bendera itu kini ada di dalam celana Jawul. Setelah dikibarkan pada hari ulang tahun kemerdekaan tahun lalu, Sumi memang menyimpannya di gudang, tapi  diam-diam Jawul mengambilnya, lalu membawanya ke tukang jahit untuk dibuat jadi  celana pendek. Unik juga hasilnya, celana pendek Jawul memiliki dua warna. Sisi sebelah kiri putih, sisi kanannya merah. Karena serat bahannya kasar dan murahan, setelah hampir setahun dipakai Jawul, celana pendek itu mulai lusuh. Sisi kiri tak bisa disebut putih lagi, kuning juga bukan. Begitu juga sisi kanan, merah tidak, cokelat  pun bukan. Kusam.Lusuh
            “Sampean lihat bendera ndak?” tanya Sumi.
            “Lho, yang nyimpan sampean malah nanya aku,” balas Jawul, pura-pura tidak tahu.
            “Gawat Mas, gawat!”
            “Apanya yang gawat?”          
            “Nyonya bisa marah besar kalau bendera itu ndak ada.”
          “Walah, soal bendera aja kok gawat? Apa susahnya? Beli aja yang baru. Gonta-ganti mobil tiap tahun, masa  beli  bendera aja ndak bisa?”        
            “Tapi Nyonya tahu kalau bendera tahun lalu masih bagus. Mubazir kalau beli lagi, katanya.”
            Sebenarnya Jawul tidak tega melihat Sumi uring-uringan seperti itu. Lagi pula, bila bendera itu tidak ditemukan, yang diomeli nyonya Sonia bukan Sumi saja. Sebagai satpam, tentu Jawul lebih bertanggungjawab dalam urusan pengibaran bendera. Ia bakal kena getahnya juga. Jadi, mau tak mau Jawul harus ikut memikirkan bagaimana caranya agar pada 17 Agustus nanti, bendera mesti berkibar.      Semula Jawul ingin berterus terang saja pada Sumi, tapi setelah ditimbang-timbang dan dipikir-pikir lagi, pengakuannya tidak akan mengubah keadaan, percuma. Kalaupun Sumi tahu bendera yang hilang itu telah disulapnya jadi celana pendek, nasi sudah jadi bubur. Kain bendera sudah jadi celana pendek, dan celana pendek tak mungkin jadi bendera kembali. Parahnya lagi, satu-satunya celana pendek yang dimiliki Jawul hanyalah celana pendek dari bahan kain bendera itu, itupun sudah penuh tambalan di pinggul kiri, paha kanan, pun di bagian selangkangan.
            Jawul dan Sumi agak lega setelah mereka membongkar tumpukan barang-barang di gudang belakang. Mereka menemukan ratusan lembar bendera baru, dan menurut Sumi belum pernah dikibarkan sama sekali. Hanya saja, bendera-bendera itu tidak seperti bendera yang diinginkan majikan mereka. Kombinasi warnanya bukan merah putih, tapi kuning menyala.       
            “Nah, gimana kalau pakai yang ini saja?” tanya Jawul
           Ojo ngawur sampean! Itu bendera milik Bapak. Sisa kampaye bulan lalu. Bukan itu yang kita cari,”  Sumi menggerutu.
            “Siapa tahu nyonya setuju kalau kita pakai bendera kuning ini. Bendera-bendera ini masih baru, belum pernah dipasang pula.”
            “Ndak usah cari masalah! Pokoknya aku ndak mau. Titik!”
            “Lho, asal kamu tau, justru bendera-bendera ini yang bikin jabatan Bapak jadi awet. Dan, kita bisa cari makan di sini. Gitu lho,” jelas Jawul, sok pintar.
        “Tapi yang kita cari bendera merah putih. Ini hari ulang tahun kemerdekaan, bukan musim kampanye, ngerti sampean?”
            Ulang tahun kemerdekaan tinggal satu hari lagi. Sumi dan Jawul makin gelisah, sebab barang yang mereka cari belum kunjung ketemu. Sumi hanya bisa berharap semoga Jawul melakukan sesuatu supaya besok pagi bendera sudah terpasang di halaman rumah majikan mereka.
            “Jika bendera itu tidak ditemukan sampai besok pagi, saya pecat kalian! Mengerti?”  nyonya Sonia mulai naik pitam.
            “Cari sampai ketemu!”
            “Di gudang banyak bendera Nya, tapi warnanya kuning semua,” sela Jawul.
            “Saya mau bendera merah putih. Kalau bendera kuning juga banyak di lemari kamar saya.”
            “Ada apa Ma? Kok ribut-ribut?” sapa Bapak yang baru muncul dari kamarnya.
            “Ini lho pa, kita belum punya bendera untuk dikibarkan besok pagi.”          
            “Bendera bekas tahun lalu hilang.”
            “Sudahlah, beli saja yang baru!”
            “Tolong kamu yang cari Wul!” suruh Bapak pada Jawul sambil memberikan sejumlah uang.
            “Baik Pak!”
***
            






            Jawul sudah mendatangi lapak-lapak pedagang kaki lima yang menjual atribut-atribut partai di setiap penjuru kota, begitu juga toko-toko bahan pakaian di pasar inpres,  tapi  ia belum mendapatkan bendera itu.
            “Kenapa Bapak ndak menjual bendera? Kan banyak yang butuh,” tanya Jawul pada seorang pedagang.
            “Bukan tidak mau Mas, sulit mendapatkan bahan kain warna merah dan warna putih.”
            “Maksudnya?”
            “Stok kain warna putih dan warna merah itu katanya sudah habis untuk bikin bendera partai.”
            “Lalu, di mana saya bisa dapatkan bendera merah putih itu?”          
            “Saya cuma butuh satu bendera saja.  Sangat butuh!”
            “Coba cari di pinggir-pinggir jalan utama!”
Jawul menelusuri ruas-ruas jalan utama, pelataran-pelataran trotoar, halte-halte pemberhentian bis kota, sisi kiri dan sisi kanan traffic light. Tapi, tak seorangpun pedagang bendera yang menggelar dagangan di sana.
            “Di jalan ini dilarang jualan bendera. Merusak keindahan kota, katanya. Udah lama tidak ada pedagang bendera di sini, Mas,” begitu jawab tukang tambal ban di pinggir jalan ketika ditanya Jawul. “Tahu pindahnya ke mana?” Orang itu menggeleng.
          Jawul makin cemas. Karena ulah bendera itu ia terancam bakal kehilangan pekerjaan. Ia mampir di sebuah warung, tak jauh dari tempat tukang tambal ban tadi. Melepas lelah sambil menyumpal perut yang mulai keroncongan. Setelah menggasak sepiring nasi ditambah dua buah tempe bacem, saat menjangkau serbet yang tergantung di pojok warung itu, Jawul tersentak kaget. Kain serbet yang masih dipegangnya ternyata selembar bendera. Meski kotor, ia yakin kalau serbet itu pasti dulunya bendera. Sisi sebelah bawahnya hitam karena daki tangan, tapi warna merahnya masih lumayan kinclong. “Nah, ini dia.” Jawul membatin.
         “Apa sampean ndak punya serbet lain? Ini kan bendera, kok dijadikan lap  tangan?” tanya Jawul.
           “Udah syukur saya jadikan serbet, dulu saya temukan di tong sampah. Lalu saya rendam pakai deterjen dan lumayan kan? Masih bisa jadi lap tangan. Masih bermanfaat,” jawab pemilik warung itu.
            “Brengsek!” maki Jawul dalam hati.
            “Kalau saya beli, situ mau jual ndak?”          
            “Ntar saya nggak punya serbet lagi dong?”
            “Situ kan bisa beli serbet baru dengan uang saya ini.”
            “Nggak lah Mas. Lap tangan nggak perlu bagus-bagus amat. Ini aja udah cukup.”
            “Kualat sampean!”
            Jalan mulai lengang. Deru mesin kendaraan tak terdengar lagi. Jawul nyaris hilang harapan untuk memperoleh bendera. Tak bisa ia membayangkan betapa paniknya suasana di rumah nyonya Sonia, karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul 00.30 WIB, sementara ia belum juga datang membawa bendera. Jawul tak mungkin kembali tanpa bendera itu. Dengan langkah gegas, tersengah-sengah, setengah berlari ia melesap pulang ke rumah kontrakannya.
            Setiba di rumah, langsung saja Jawul melucuti seragamnya, mencopoti baju dan celana, dan sudah pasti menanggalkan celana pendek itu. Dibelahnya kedua sisi celana pendek kesayangannya itu, lantas dijahitnya dengan jarum tangan sekenanya hingga utuh jadi bendera. Meski sisi atas yang berwarna merah lebih kecil dari sisi bawah yang  berwarna putih. Timpang.
            “Mau dibawa ke mana Mas?” tanya Lastri, istrinya.
            “Aku ndak mau dipecat hanya gara-gara bendera celaka ini.”
            “Dipecat gimana Mas?”
            “Masa kalau ndak ada bendera sampai besok pagi, aku dan Sumi akan dipecat  nyonya?”
            “Tapi ndak usah kuatir! Ini sudah jadi bendera. Malam ini juga akan kupasang. Biar mereka puas. Ndak punya celana pendek juga ndak apa-apa, asal bendera tetap berkibar,” ketusnya lagi.

****

         Sepagi ini, nyonya Sonia dan suaminya sudah bangun. Mereka melakukan senam ringan sekadar menghangatkan badan sebelum menghadiri upacara peringatan hari kemerdekaan di halaman kantor Gubernur. Diam-diam Sumi mengintip dari balik jendela dapur. Ia masih berharap agar Jawul datang membawa bendera. Jika tidak, apa boleh buat, mereka berdua akan angkat kaki dari rumah itu. Dipecat hanya gara-gara bendera. Sumi terus memerhatikan gerak gerik nyonya. Belum tampak tanda-tanda nyonya bakal marah besar. Hanya beberapa meter dari tiang bendera di halaman rumah itu, nyonya berdiri sambil menengadah. Ia lega setelah melihat bendera sudah terpasang dan berkibar ditiup angin sepoi pagi itu.
            “Ma, bendera kita kelihatannya lusuh amat?”           
         “Lusuh? Kemarin Papa yang nyuruh si Jawul beli bendera baru. Bendera baru kok dibilang lusuh?”
         “Merahnya kurang menyala, seperti bendera bekas. Sisi atas dan sisi bawah kurang imbang, agak senjang.”
            “Ah, yang penting kita sudah mengibarkan bendera, besok juga sudah diturunkan.”
         Jawul datang agak telat, nyonya Sonia dan suaminya sudah berangkat saat ia tiba. Sebelum masuk ke dapur untuk memesan segelas kopi panas pada Sumi, sejenak ia berhenti di depan pos satpam, menghadap ke tiang bendera. Dengan sikap sempurna, tegap dan berwibawa, Jawul memberi hormat pada bendera itu.

Jakarta, 2008
foto bendera: http://kausarkhoirr.blogspot.com