Search This Blog

Loading...

Friday, July 24, 2015

Pergaulan Tanpa Perjumpaan


Damhuri Muhammad



(artikel ini sebelumnya telah tersiar di harian Kompas, 18 April 2015)


Sepuluh  tahun  lalu, warung kopi barangkali masih lazim menjadi tempat berkumpul, ruang yang lapang untuk bertemu-muka, dan bercengkrama dengan kawan-kawan sebaya. Tapi di era digital ini, kedai kopi--atau yang di kota-kota besar dimoderenkan menjadi cafe--telah beralih-rupa menjadi ruang untuk bersembunyi, tempat yang paling layak guna mengasingkan diri. Saban petang selepas jam kerja, dua orang yang selama berminggu-minggu duduk berdampingan meja di café yang sama, bisa tidak saling menyapa, apalagi  berkenalan.
Masing-masing sibuk dan asyik memencet keypad telpon pintar, tanpa peduli kanan-kiri. Keganjilan itu lumrah dan mungkin bisa dimaklumi, karena hampir semua pengunjung di café itu datang dengan itikad yang serupa; mencari kesendirian. Maka, jangan mengharapkan ada tegur-sapa yang ramah di sana--sebagaimana perjumpaan di kedai kopi masa silam--kecuali basa-basi yang tampak sangat dipaksakan.
           Ini pula yang terjadi saban pagi di gerbong-gerbong kereta api listrik (commuterline) di Jakarta. Dalam situasi keberhimpitan--ketika lutut nyaris tak bisa digerakkan dan kuduk hampir beradu dengan siku penumpang lain--setiap orang masih nyaman dan tampak lincah memainkan tombol-tombol telpon pintar dengan sebelah tangan, sementara tangan satu lagi tetap kuat berpegangan. Orang-orang yang bahu dan lengan mereka setiap hari saling bersentuhan di gerbong yang sama, boleh jadi tak pernah saling menyapa, apalagi berbincang dengan saling bertatapan, karena mereka mempercayai dunia lain yang lebih  menggembirakan; media sosial. Bahkan, agar terhindar dari percakapan, banyak yang sengaja memasang perangkat handsfree di telinga masing-masing. Bagaimana kalau ada yang tiba-tiba pusing, lalu pingsan dalam situasi penuh-sesak itu?
            Beberapa orang sahabat lama yang bertemu setelah belasan tahun mereka terpisah oleh jarak dan waktu, kecewa karena reuni singkat itu jauh dari harapan. Betapa tidak? Setelah berbasa-basi sekadarnya, lantas sedikit bernostalgia tentang masa-masa bersama di sebuah restoran, satu per satu kemudian sibuk dengan gawai sendiri-sendiri. Meja pertemuan yang semula dibayangkan bakal riuh dan riang, tiba-tiba sunyi dari obrolan dan canda-tawa. Kerinduan yang meluap-meluap itu tak terlunaskan. Rencana pertemuan selanjutnya mungkin tak layak dilanjutkan. Reuni itu dingin dan tak bermutu.
            Begitulah kemarau kehangatan yang sedang melanda, karena kita gandrung bersembunyi di rumah virtual dalam telpon pintar. Hubungan persahabatan yang secara manusiawi direkat oleh ekspresi muka yang berseri-seri, kini menjadi sekadar angka-angka jumlah friendship di facebook, jumlah follower di twitter dan instagram. “Untuk apa berjumpa bila setiap urusan beres dengan cara mengudara di dunia maya,” begitu kira-kira semboyannya. Lalu, di mana wajah (le visage) yang dalam gagasan filsuf Emmanuel Levinas (1906-1995) dipandang sebagai syarat utama perjumpaan? Bagi Levinas, hidup bersama adalah hidup yang terus berdenyut dengan pertemuan antarwajah. Demikian pula dengan keseharian kita. Kekariban sesungguhnya hanya terwujud atas dasar muka bertemu muka. Ekspresi dan emosi yang terpancar di raut wajah adalah bagian paling inti dalam relasi persahabatan.
            Pada tingkat yang lebih janggal, telpon pintar telah sukses membuat banyak orang gamang pada perjumpaan. Banyak yang hampir percaya, bukan hanya muka dan segenap anggota tubuh, tapi perasaan juga bisa di-online-kan. Sepasang kekasih merasa telah berbahagia dengan romantika artifisial via blackberry messenger (BBM) atau whatsapp messenger (WA). Keduanya saling berimajinasi, memupuk kerinduan, saling bertukar-gambar, tapi takut menghadapi perjumpaan fisik. “Jumpa-darat”  hanya akan menggerogoti angan-angan dan khayalan, mendistorsi semarak-nyala kerinduan, dan sangat mungkin menyebabkan perpisahan. Tapi, apanya yang berpisah? Bukankah bertemu saja belum?
            Di masa lalu, bila kita hendak mencari sebuah alamat, ada pribahasa lama yang selalu memandu; malu bertanya sesat di jalan. Maka, sebelum tiba di tujuan, kita bisa dua-tiga kali bertanya pada warga sekitar. Bukan bertanya pada aplikasi Global Positioning System (GPS) di perangkat telpon pintar, sebagaiman kini. GPS mungkin tak pernah salah dalam menunjuk arah, tapi ia mengasingkan para penggunannya dari relasi sosial yang lumrah, menjauhkan kita dari keramahan (hospitality) yang sejak lama telah menjadi basis kebudayaan kita. Banyak orang tak lagi mengandaikan keberadaan manusia di sekitarnya, atau bahkan tidak lagi memerlukannya. Bila tersesat, bukankah ada nomor yang bisa dikontak? Tapi bagaimana kalau signal tiba-tiba hilang, atau telpon pintar tiba-tiba kehabisan daya?
         Demam gawai tak mungkin dibendung. Harganya semakin terjangkau. Selain karena iming-iming cicilan ringan, kita memang gemar berbelanja barang-barang yang sebenarnya tak dibutuhkan. Menurut data terkini Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kemkomimfo RI, seperti diberitakan Kompas (13/4/2015), sejak 2013, jumlah gawai yang terdiri dari telpon pintar, komputer genggam dan komputer tablet, telah melampaui jumlah penduduk Indonesia. Jumlah gawai 240 juta unit, sedangkan jumlah penduduk Indonesia sekitar 230 juta. “Jangankan anak-anak sekolah, tukang beruk pun kini punya hape,” begitu sinisme seorang petani di kampung saya, saat anak perempuannya--kelas III SMP--merengek-rengek minta dibelikan telpon genggam layar-sentuh. Di desa pedalaman, seorang petani lebih gelisah bila tak ada pulsa di telpon genggamnya, ketimbang tak ada beras di dapurnya.
            Di pelosok-pelosok jauh, dalam jarak hanya empat-lima rumah, seorang ibu rumah tangga yang hendak meminjam wajan  dan rupa-rupa perkakas makan untuk sebuah hajatan, tak perlu berjalan kaki menyampaikan maksudnya. Cukup dengan menelpon, dan beres persoalan. Tapi, bagaimana dengan kekerabatan bertetangga yang dulu berpijak pada hubungan antarmuka? Bagaimana dengan etos keguyuban yang tak mungkin ada tanpa bertemu-muka? Rumah virtual yang kita pancangkan di telpon genggam telah merenggutnya sedemikian rupa, hingga kita merasa tidak lagi butuh perjumpaan ragawi. Dunia cyberspace memang telah melipat ruang spasial, tapi pada saat yang sama, ia juga menggali jurang sosial yang nyaris tak terjembatani. Inilah etos pergaulan tanpa perjumpaan di era digital. Alih-alih memperkokoh relasi sosial, ia justru melahirkan personalitas yang a-sosial…


Wednesday, July 22, 2015

Eskatologi Batu Akik

-->
Damhuri Muhammad



 (artikel ini sebelumnya telah disiarkan di harian Kompas, 18 Maret 2015)


Jauh sebelum histeria Batu Akik merajalela, di lereng sebuah bukit, pedalaman Sumatera, sekelompok orang menggelar semacam ritual mengangkat benda keramat dari sebuah lubang yang telah mereka gali selama berbulan-bulan. Dukun pilih-tanding khusyu’ membaca mantra, sementara tiga laki-laki bertubuh kekar berjaga-jaga dan waspada, bila ada orang lain yang mengintip peristiwa ganjil itu dari kedalaman rimba. Lalu, gumpalan-gumpalan tanah di dasar lubang menyembur hebat ke permukaan, seperti ada tenaga sempurna yang mengisapnya dari angkasa. Serpihan-serpihan tanah liat yang berjatuhan disambut dengan selembar kain putih yang lebih dahulu telah dihamparkan di sekitar lubang. Benda keramat yang mereka tunggu-tunggu telah berada dalam lipatan kain putih. Ia bernama Badar Besi. Batu hitam-bundar sebesar buah duku, yang dipercayai berkhasiat dapat membuat pemiliknya kebal senjata, alias tak mempan bacokan. 
            Pada suatu petang berkabut, dukun pilih tanding melakukan tirakat pengujian sederhana. Badar Besi dipilin erat dengan kain putih, lalu dikebatkan di lingkar leher seekor anjing. Masing-masing anggota kelompok menebas kuduk si anjing dengan golok panjang yang biasa dipakai untuk menyembelih kambing. Tebasan demi tebasan berkelebat, namun tak setetes darah pun yang tertumpah. Anjing hanya mengengking dan menyalak ketakutan setiap kali mata golok bersarang di badannya. Dagingnya kebal sempurna. Begitulah kesaktian Badar Besi. Siapa yang memilikinya, tiada bakal mempan dilukai oleh segala macam senjata dari unsur besi. Itu sebabnya ia bernama Badar Besi.
            Tapi, sebelum Badar Besi berpindah tangan pada penadah, sebelum ia mendatangkan keberlimpahan yang mesti dibagi rata, keluarga dari tiga lelaki pemburu barang keramat itu hancur-berantakan. Betapa tidak? Ladang dan sawah telah ditinggalkan. Dapur yang mesti terus berasap tak dihiraukan. Satu diusir istri secara tak terhormat. Satu tercekik utang dalam jumlah yang mustahil dapat ditebus. Satu lagi tergeletak sakit tak tentu sebab. Para anggota kelompok rahasia itu bertumbangan, lantaran terobsesi pada Badar Besi dengan segenap keberlimpahan yang bakal tiba. Mereka melarikan diri dari hidup yang meletihkan, dari kenyataan keseharian yang dari waktu ke waktu, terpuruk dalam kepayahan, dari harapan-harapan yang tak kunjung tercapai.
            Inilah kenyataan yang sedang melanda hidup kita kini. Harapan besar pada seorang pemimpin yang sungguh-sungguh akan mewujudkan kesejahteraan, putus di tengah jalan. Optimisme pada perubahan yang dijanjikan, terkubur sebelum waktunya. Janji-janji tentang keadilan tak lebih dari residu musim kampanye. Tak ada yang bisa jadi pegangan. Tempat menggantungkan cita-cita telah rubuh. Di medan  kekuasaan, mereka sibuk dan kasak-kusuk, saling-sikut berebut kue kemenangan, sementara kita menonton dari kejauhan. Tiada lagi idola yang pantas dibanggakan. Banyak orang dilanda kekecewaan yang banal dan nyaris tak terselamatkan.
Maka, tibalah saatnya kita beralih mencari idola baru. Barangkali lebih baik berbicara dengan hewan-hewan piaraan seperti Perkutut, Murai Batu, Ikan Louhan, Ikan Cupang, ketimbang memikirkan hidup yang makin tak bermutu. Lebih baik membaca sasmita, pertanda, dan keajaiban yang tersembunyi dalam Bacan, Sungai Dareh, Lumut Suliki, nama-nama Batuk Akik yang sedang menjadi pusat perhatian. Kita lebih bersuka-ria membincangkan seluk-beluk dunia Batu Akik, ketimbang menyimak retorika penguasa dengan segenap iming-iming kosong di layar kaca. Kalau sudah bicara, mulut mereka berbusa-busa, seolah-olah akan betul-betul bekerja menuntaskan segala persoalan. Tapi, angka pengangguran tetap menanjak tinggi, lapangan kerja langka, nilai-tukar rupiah kian merosot, Tarif Dasar Listrik (TDL) akan naik. Subsidi pupuk akan dicabut. Hukum tajam ke bawah. Ekonomi senantiasa payah.
Histeria Batu Akik setali tiga uang dengan antusiasme ibu-ibu rumah tangga saat menyaksikan prosesi pernikahan Raffi Ahmad yang disiarkan secara live oleh televisi swasta. Banyak pihak yang mengumpat, karena peristiwa private telah mencemari frekuensi pubik, dan oleh karenanya tidak patut dipertontonkan. Apalagi mempertontonkan kemewahan dalam situasi kepayahan yang sedang menjalar hingga pelosok-pelosok kampung. Tapi, tayangan infotainment dan sinetron adalah oase yang menyejukkan bagi mereka yang sudah jenuh, bahkan jengkel pada tayangan berita politik yang tak berakibat pada berubahnya peruntungan mereka. Apapun kebijakan pemerintah yang dimaklumatkan di media, hidup mereka begitu-begitu saja. Kamar rawat inap tetap penuh bagi para pemegang kartu BPJS. Layanan kesehatan bagi mereka tetap saja tidak manusiawi, meski itu bukanlah layanan gratis. Sebagaimana amanat Undang-Undang BPJS, rakyat membayar iuran--kecuali yang terkategori Penerima Bantuan Iuran (PBI), yang ditanggung APBN.
Maka, biarkanlah rakyat mencari hiburan sendiri, atau menemukan gelanggang pelarian, tepatnya. Infotainment, sinetron tak bermutu, Kucing Anggora, Bunga Antarium, Murai Batu, dan Batu Akik, adalah media hiburan baru di tengah padang gersang harapan di dunia nyata. Ia dapat menjinakkan keliaran dalam kekecewaan massal lantaran kemarau keteladan, harapan, dan masa depan. Batu Akik menyuguhkan eskatologi tersendiri. Banyak orang dibuat sibuk mencari, mengasah, dan memperjualbelikan mimpi-mimpi eskatologik yang tersembunyi dalam tarikh setiap batu. Tentang sakit yang bakal sembuh, rezeki yang akan berlimpah, karomah-karomah yang akan tiba dari pintu-pintu tak terduga, yang dikabarkan oleh berbagai pertanda dalam sekian banyak jenis Batu Akik.
Kegandrungan pada dunia batu yang hampir tak terbendung dewasa ini barangkali pula sebuah cakrawala pandang baru yang hendak memaklumatkan bahwa, moralitas kekuasaan masa kini sedang berada di ambang zaman batu. Keras dan culas. Cadas dan telengas. Menggergaji dalam permufakatan. Menggunting dalam lipatan. Balapan menangguk ikan di air keruh. Berkepala batu bila ditegur dan diingatkan. Mungkin hanya kaum penggenggam batu yang bakal sanggup membereskannya. Maka, Batu Akik akan senatiasa dipuja dan dirayakan, hingga datang idola baru yang lebih membahagiakan…    

Kami Mudik, Maka Kami Ada...


Damhuri  Muhammad



(artikel ini sebelumnya telah disiarkan di harian Kompas, 11 Juli 2015)
 

Silsilah linguistik mudik dapat diurai dari kata dasar udik. Dalam ungkapan yang menyehari, mudik jamak dipahami sebagai perjalanan menuju hulu. Oleh karena wilayah hulu itu jauh di pedalaman, terpelosok di lereng-lereng perbukitan, maka terminologi udik mengacu pada daerah pedesaan, atau perdusunan. Demikian peneliti Sastra Melayu, Maman S Mahayana, menjelaskan dalam sebuah konferensi di UI, beberapa tahun lalu.
Di sini makna udik  masih stabil, netral, dan tak bernada pejoratif.  Bila saya mengaku “orang udik,” itu hanya berarti, saya datang dari dusun pedalaman atau dari pelosok jauh. Tapi seiring dengan pesatnya pertumbuhan kota di berbagai wilayah, dan Jakarta terpancang sebagai parameter segala bentuk kemajuan, terma udik mulai memikul beban. Maknanya bergeser menjadi wilayah yang belum tersapu peradaban. Kampungan, tertinggal, terbelakang, melekat sebagai sidik-jari kata udik. Ia bertolak belakang dengan kemajuan, ketumbuh-pesatan, dan keterdidikan masyarakat urban.
Saban tahun, menjelang lebaran hingga selepas Idul Fitri, dua kutup yang bersimpang jalan itu, bertemu dalam momentum Pulang Mudik. Jutaan orang berduyun-duyun menuju kampung halaman. Betapapun kritisnya ekonomi keluarga, berlebaran tetaplah di tanah kelahiran. Semelonjak apapun ongkos mudik, tetap tak semahal kesempatan berkumpul dengan keluarga, dan sanak-famili di hari lebaran. Kita rela terjebak kemacetan berjam-jam lamanya, mau berhimpitan di atas motor bebek di bawah terik matahari siang, senang hati berdesak-desakan dalam antrean guna memperoleh tiket mudik. Penyair Leon Agusta, dalam Gendang Pengembara (2012) secara satiristik menggambarkan peristiwa itu. TOTAL KORBAN TEWAS DALAM 13 HARI/596 ORANG/Judul sajak ini adalah judul berita utama/pada sebuah koran Ibukota/Bukankah kami bahagia? (sajak Orang Jawa Mudik Lebaran).
Di masa lalu, bertemu dengan ibu-bapak dan segenap keluarga besar di tanah asal mungkin hanya dapat dicapai dengan perjumpaan fisik, dan pilihannya selalu jatuh pada momentum lebaran. Tapi, di era telpon seluler yang begitu massal ini, berbicara langsung dengan mereka saban pagi pun, nyaris tak ada kendala. Jalur transportasi udara memungkinkan penerbangan dari Jawa ke Sumatera, Kalimantan, atau Sulawesi ditempuh secara Pulang-Pergi (PP). Orang bisa mudik setiap akhir pekan. Tapi, pasalnya tak sesederhana itu. Mudik bukan hanya urusan sungkem pada ayah-ibu, bukan sekadar melunaskan kerinduan nostalgik pada alam kultural tempat kita tumbuh dan dibesarkan--sebelum merantau, lalu menjelma manusia urban.
Mudik juga ikhtiar melarikan diri dari kebisingan kota dengan segala persoalannya. Kemajuan, ketumbuh-pesatan, keterdidikan yang tadi  diniscayakan melekat pada insan perkotaan, tidak begitu dalam kenyataannya. Pergulatan demi pergulatan guna mempertahankan hidup di Jakarta misalnya, tidak lagi memungkinkan kita merawat akar keguyuban dan kehidupan komunal bawaan dari kampung. Rutinitas membuat orang kota menjadi individu yang gemar menyendiri di balik pagar rumah sendiri. Tak cukup waktu untuk bergaul, apalagi membaur dengan sesama warga kota. Kita riang dan antusias untuk bertemu klien atau rekan bisnis, tapi mencari banyak alibi guna menghindar dari forum arisan RT, atau pertemuan rutin komunitas perantau. Basis komunal telah beralih-rupa menjadi mental individual yang miskin kepekaan sosial. 
Di kota besar pula, karena himpitan banyak persoalan, kita hampir tidak mampu lagi mendefinisikan diri sebagai manusia. Pejalan kaki yang terengah-engah melangkah lantaran jalur pedestrian penuh-sesak oleh lapak kaki lima, masih mungkin ditabrak sepeda motor yang sewaktu-waktu memanjati trotoar, terutama saat kemacetan Jakarta sedang parah. Bila Tuan pengendara roda dua, cobalah sesekali berhenti guna memberi jalan pada pejalan kaki yang melintas. Bila kurang segera, Tuan akan dibombardir oleh suara klakson berantai yang dapat meremukkan gendang telinga, ditambah caci-maki, lengkap dengan bahasa dari  kamus kebun binatang.
Di titik ini, manusia urban tak lebih dari semut yang sewaktu-waktu bisa digilas kuasa jalanan. Jangan coba-coba menegur pedagang sayur di pasar tumpah yang sengaja menyumbat jalan umum dengan gerobaknya. Ia akan lebih sangar karena merasa telah membayar sewa entah pada siapa. Kota besar bagai rimba raya dengan aturan yang hanya melingkar di pangkal lengan. Siapa yang kuat akan aman, sebelum datang yang lebih kuat lagi. Sedangkan si lemah terpinggir ke tepi-tepi, sebagai kutu-kutu yang bisa diinjak sewaktu-waktu.       
Warga kota metropolitan, apapun profesi dan status sosialnya, tak lebih dari sekrup kecil dari sebuah mesin urban raksasa. Tak gampang menemukan medan aktualisasi diri, apalagi mencari pengakuan. Di atas langit, masih banyak lapisan langit yang lain. Di atas yang kaya, ada yang lebih kaya lagi. Di atas yang sukses, ada yang lebih sukses lagi. Di atas yang beringas, ada yang lebih beringas lagi. Penghargaan atas eksistensi personal--pekerjaan, jabatan, pendidikan--sulit direngkuh di padang gersang perkotaan yang panas, dan  tak manusiawi.
Di sinilah kerinduan pada “yang udik” terus menyala. Di kampung, Tuan bisa menangguk puja-puji sebagai saudagar tersohor. Boleh jadi pula ditahbiskan sebagai tauladan bagi calon perantau yang masih gamang untuk hengkang dari kampung. Tapi celakanya, orang kampung masa kini tidak lagi se-udik yang kita duga. Televisi yang saban hari mengumbar kemewahan lewat sinetron-sinetron tak bermutu, informasi yang mengalir deras bagai air bah berkat kecanggihan gawai, termasuk histeria politik lokal yang bergelimang iming-iming uang, telah mengubah mental mereka menjadi lebih urban, dan hedonistik ketimbang manusia urban sejati.
Maka, pengakuan itu semakin mahal harganya. Decak-kagum hanya tersedia bagi kepulangan yang menghela keberlimpahan dan rupa-rupa kemewahan. Mobil mewah seri terkini mesti merayap di jalan berlubang.  Derma dan sumbangan harus disebar di setiap penjuru mata angin, termasuk janji-janji memugar kantor desa yang rusak-parah. Bila syarat itu tak mungkin dipenuhi, masih bisa dengan sedikit kamuflase. Sewalah mobil rental lengkap dengan sopirnya, berlagaklah seolah-olah itu milik pribadi. Bila beruntung, orang kampung akan mengacungkan jempol. Inilah laku berminyak air. Hakikatnya air, tapi dipaksakan tampak sebagai minyak.
“Dulu pemudik membawa pengetahuan dan kisah-kisah sukses yang berfaedah, kini kita mudik hanya untuk pamer kekayaan,” begitu sinisme seorang netizen. Mudik mustahil dibendung. Rupa-rupa kepalsuan demi meraih aktualisasi diri akan semakin kreatif. Tapi, ada laku mudik yang sebenarnya lebih menjanjikan.Bukan kepulangan spasial-temporal yang berulang-ulang, tapi mudik substansial-transendental. Pulang ke pangkal jalan, ke ranah kefitrian, lalu bertahan untuk tidak kembali terkotori…

Tuesday, January 06, 2015

Lembar Sastra dalam Rimba Raya Cerita


Damhuri Muhammad

(Media Indonesia, 28/12/2014)



Bila tuan penyuka cerita, tuan tak perlu repot pergi ke toko buku, mengobrak-abrik rak buku fiksi guna menemukan jenis cerita yang sesuai selera. Di era  facebook dan twitter, keseharian kita sudah bergelimang cerita. Di mana pun tuan berada--sedang bersantai di rumah, menunggu pacar di restoran cepat-saji, di sela jadwal rapat yang padat, atau sekadar mengisi waktu dalam kalutnya kemacetan di Jakarta--tuan leluasa menyantap rupa-rupa cerita. Tuan tiada bakal kekurangan stok cerita. Sebab, ia melimpah-ruah dan beralih-rupa dalam waktu tak terduga. Tuntas satu cerita, tiba cerita baru yang lebih dahsyat, hingga dalam beban persoalan yang kian berat, kita sedikit terhibur, atau mungkin terpesona dibuatnya.
Ada kisah ringan tentang ibu rumah tangga yang “ngomel-ngomel” di dinding facebook lantaran fenomena “Jilboobs”--berjilbab di kepala, tapi menganga bagian dada (boobs)--yang seolah menyindir gayanya berbusana. Betapa tidak? Kepala memang sudah berkerudung, tapi wilayah dada masih membusung. Itulah awal mula isu “Jilboobs” bergulir dan menjadi pergunjingan yang sibuk di media sosial. Maklumlah, ibu muda itu baru saja terpanggil untuk berhijab, dan ia belum dapat meninggalkan penampilan seksi sebagaimana dulu. Ia sudah punya niat baik, tapi dunia maya malah menertawakan prosesi pertobatannya.  
Atau kisah tragis tentang bocah perempuan yang disiksa hingga meninggal dunia oleh ibu kandungnya. Pasalnya sepele; saat ditinggal di rumah, si bocah asik bermain corat-coret menggunakan lipstick milik ibunya. Ia memperlakukan lipstick mahal sebagai kapur tulis guna mencoreti dinding, daun pintu, hingga seprei. Setiba di rumah, ibunda marah bukan main. Tega ia menghajar anak manisnya. Menjambak rambutnya, menendangnya, hingga tersungkur di lantai, lalu mencekik anak-kandungnya itu hingga tewas. Tak lama berselang, ibu muda itu menemukan secarik kertas berisi tulisan pensil lipstick goresan tangan almarhumah gadis kecilnya; I Love Mama.
Ada pula ironi tentang perempuan bercadar yang sedang berbelanja di sebuah minimarket di Paris. Setelah mendapatkan barang-barang kebutuhan, lekas ia menuju kasir. Kasir yang dituju adalah perempuan keturunan Arab berbusana modern. Sinis ia menatap perempuan bercadar itu. Ia menghitung nilai barang-barang belanjaan perempuan bercadar, lantas melemparkannya secara kasar ke atas meja. Tapi perempuan bercadar begitu tenang, hingga kasir kian geram. "Kita punya banyak masalah di Prancis dan cadar kamu itu salah satu masalahnya. Di sini kita berbisnis, bukan untuk pamer agama. Kalau kamu mau mengenakan cadar, pulanglah ke negerimu dan jalani agamamu sesukamu!" Sesaat perempuan bercadar berhenti memasukkan belanjaan ke dalam keranjang. Lekas ia membuka cadar, lalu menatap mata kasir. Wajah di balik cadar ternyata wajah perempuan kulit putih dengan sepasang mata biru. "Aku perempuan Prancis tulen. Begitu pula ibu-bapakku. Ini Islamku dan ini negeriku. Kalian telah menjual agama kalian, dan kami membelinya."
Kisah-kisah semacam itu lalu-lalang saban hari.  Tak perlu repot mencari alamat situsnya. Cukup mengikuti dinamika linimasa (timeline) masing-masing media sosial. Setiap user akan mendistrisibusikannya kepada sesama pengguna. Mungkin pada mulanya tuan tak berminat, tapi karena tautannya terus-menerus menghujani linimasa, mau tak mau, tuan akan membacanya, suka atau tak. Inilah jaman ketika lubang kesendirian yang kita gali di dalam telepon pintar menjelma belantara cerita, belukar kisah yang rimbun dan subur, dengan dramaturgi yang dapat diuji ketajamannya, imaji tragik yang bisa dipertandingkan mutunya, elegi yang lebih menikam tingkat kepedihannya ketimbang cerita garapan pengarang sungguhan. Lalu, apa yang tersisa bagi cerpen koran?  
Cerpen koran tak bisa melarikan diri dari belantara maya itu, apalagi menganggapnya sebagai residu kelisanan belaka. Cerpenis yang tak memiliki kepekaan pada realitas ganjil yang sedang menggejala, akan terkepung dalam lingkaran keusangan yang kehilangan daya tariknya. Cerpen bisa tersingkir dan tergeletak sebagai teks lapuk lantaran tak disentuh pembaca. Sebab, cerita yang berseliweran di sekitar kita lebih tragik ketimbang teks sastra yang di masa lalu mungkin dipuja sebagai karya besar dan adiluhung. Maka, kreativitas untuk melahirkan bentuk-bentuk baru menjadi penting di ranah kepengarangan. Menemukan ide yang genuine memang bukan perkara mudah. Namun, bukan berarti kebaruan tak dapat digali, dan realisme udik tak bisa diperbarui.
Upaya-upaya eksperimental dalam merancang cerita menjadi salah satu pertimbangan rubrik cerpen Media Indonesia sepanjang 2014. Boleh jadi gagasannya adalah etika politik yang dekaden sebagaimana tampak pada Pilpres 2014, namun cerpen tak berpretensi menghisap realitas itu seutuhnya. Satmoko Budi Santoso dalam Peci Ayah (MI, 31/8/14) misalnya, hanya menggunakan imaji tentang peci yang melekat di kepala ketua RT. Lipatan peci yang biasa digunakan ketua RT untuk menyimpan uang, berkembang menjadi sumber kecurigaan warga, bahwa ia juga menyimpan uang hasil korupsi di situ. Simbol peci yang berkonotasi kesucian dikontradiksikan dengan watak korup yang bejat. Satmoko mengaburkan makna “peci’ menjadi dunia abu-abu. Keterpujian yang bersenyawa dengan ketercelaan, hingga keduanya tak dapat dipisahkan.
Dalam konteks berbeda, imaji tentang peci terulang pada Lelaki Berpeci  (MI,22/6/14) karya Yusri Fajar. Di sini peci dicurigai sebagai atribut yang erat kaitannya dengan radikalisme, sebagaimana imaji banyak orang tentang cadar dan sorban, sejak maraknya fundamentalisme agama di berbagai belahan dunia. Sekali lagi, cerpen mempertukarkan “yang putih” dan “yang hitam” dalam ruang metafiksionalnya. Bila etika dan agama menegaskan garis demarkasi bahkan menempatkan “yang mulia” dan “yang tercela” secara hierarkis, sastra bekerja mencampur-baurkannya, membuat keduanya berkelit-kelindan, hingga sukar memilahnya. Dalam “yang tercela” selalu saja ada “yang pantas dipuja,” atau sebaliknya.
Eep Saefulloh Fatah dalam Jaket Ayah (MI 4/5/14) juga menunjukkan upaya eksperimental serupa. Muka dua kaum politisi yang sudah jamak dalam penglihatan kita, tak direkam dalam gambaran utuh, tapi hanya dikisahkan melalui atribut partai di musim kampanye. Jaket yang sejatinya menjadi identitas sekaligus kebanggaan terhadap partai yang mengantarkan seorang politisi menjadi bupati, di tangan pengarang berbalik menjadi muasal kebencian, hingga Eep mengunci cerpennya dengan adegan seorang istri membakar jaket partai milik suaminya, lantaran kecewa pada lelaku politik yang telah mengubah suaminya menjadi individu ambisius, lalu menghalalkan segala cara demi merengkuh kekuasaan.
Upaya kreatif dalam pencarian bentuk baru telah memunculkan nama-nama baru dengan kedalaman refleksi dan keterampilan teknis yang layak diperhitungkan. Sebutlah misalnya, cerpen Keputusan Ely (MI 3/8/14) karya Dewi Kharisma Michellia, dan Kisah Sedih Kontemporer (MI, 7/12/14) karya Dea Anugrah. Michellia mengembangkan layar imaji tentang keretakan hubungan suami-istri yang berakibat berat bagi anak-anak usia pradewasa. Tak ada kekerasan, juga dialog-dialog yang menggambarkan perseteruan sebelum perceraian. Ia hanya membangun karakter Ely, yang mengangkut semua mainan kesayangan semasa masih bersama ayah kandung, ke rumah ayah tiri yang tidak ia sukai. Di sana, Ely merawat ingatan bahwa dirinya masih berada di pangkuan ayah kandung. Ruang penceritaan penuh dengan halusinasi tentang ayah yang hilang dan masa kanak-kanak yang lekas berlalu. Cerpen dikunci dengan penegasan bahwa sejatinya ayah Ely sudah lama meninggal dunia, hingga ceracau gadis kecil di sepanjang cerpen itu hanya sandiwara yang tak perlu. Tapi, imaji pembaca mustahil direnggut begitu saja. Problem psikis yang dialami Ely tetap menjadi “penyakit jiwa” yang bisa menimpa siapa saja.
            Dea Anugerah merancang sentimentalisme terhadap pseudo-romantika dunia maya. Cinta sejati, belahan jiwa, setia sampai tua sebagai “ideologi” dalam romantika masa silam hendak dipatahkan, atau ditempatkan sebagai jargon lapuk yang tak layak dipercaya. Kisah Sedih Kontemporer adalah kamuflase dalam hubungan percintaan modern. Banyak yang latah mengucapkan rindu dan cemburu dalam hubungan “terselubung” yang berlangsung tanpa perjumpaan fisik. Ada yang patah hati lantaran merasa dikhianati, frustasi hanya karena pasangan abai membalas pesan yang terkirim melaui private message, padahal mereka tak pernah bertemu-muka. Banyak orang terobsesi hendak meng-online-kan perasaan, tapi mereka kerap tersiksa, hanya karena mati lampu atau koneksi internet terputus tiba-tiba.
            Ekplorasi imajiner dengan corak kebaruan serupa dapat pula ditemukan pada Menara Dosa (MI, 13/7/14) karya Maya Lestari Gf,  Seekor Capung Merah (MI, 25/5/14) karya Rilda A. Oe. Taneko, dan Dunia Angka (MI, 27/4/14)  karya Wina Bojonegoro. Para pendatang baru yang patut jadi perhatian, setelah generasi Taufik Ikram Jamil, Arswendo Atmowiloto, Yanusa Nugroho, Gus Tf Sakai, Agus Noor, Ratih Kumala, Iksaka Banu--sekadar menyebut beberapa nama.
Demikianlah semestinya peran lembar sastra di harian dengan segmen pembaca umum. Ia mempertimbangkan bacaan yang tak hanya bisa dikonsumsi penyuka sastra, tapi juga dapat dinikmati oleh sebanyak-banyaknya pembaca. Selain itu, lembar sastra tak melulu mengisi ruangnya dengan nama-nama besar, tapi memberi peluang pada nama-nama baru dengan mekanisme kuratorial yang ketat dan terukur. Maka, tunai pula tugas koran selanjutnya; melahirkan cerpenis baru guna memperkaya khazanah sastra. Jayalah terus cerpen Indonesia…



Damhuri Muhammad
Kurator cerpen lembar sastra Media Indonesia
   

Wednesday, December 03, 2014

Dalam Kegamangan Manusia Urban

-->
Damhuri Muhammad






Tak ada lagi Minggu dalam diriku
seluruh tubuhku sudah jadi hari kerja dan hari bicara

(Joko Pinurbo, 2012)





Suatu ketika seorang sejawat pengarang, membujuk saya untuk tinggal dan menetap di Jakarta. Sebuah kota, yang dalam imajinasi sahabat karib itu, bagai gelanggang raksasa tempat segala rupa pertarungan berlangsung begitu sengit, keras, dan beringas. Wahana tempat segala macam kompetisi dan kontestasi berlangsung sedemikian runcing, kejam, dan tiada ampun. “Kau bisa menjadi pengarang yang melambung setinggi langit, tapi dalam sekejap bisa pula tenggelam dan tak muncul ke permukaan untuk selama-lamanya,” katanya. Dengan intonasi suara yang dalam pendengaran saya terdengar sebagai “ancaman,” ia juga menegaskan bahwa kepengarangan yang telah saya upayakan selama bertahun-tahun, tidak akan ada gunanya, akan terbuang percuma, bilamana saya tidak berani hijrah ke Jakarta, arena pertarungan yang sesungguhnya. 

Maka, gambaran saya tentang kota metropolitan yang selama beberapa dekade telah menjadi kiblat bagi segala macam ukuran itu, adalah panggung besar yang mesti dipanjati guna meraih pengakuan sebagai pengarang, sebagai penulis, sebagai sastrawan. Bagi saya, di masa itu, seorang pengarang yang hendak bertolak ke Jakarta, hampir tak ada bedanya dengan anak-anak muda berandalan yang memiliki sedikit “modal” ilmu kanuragan dari kampung halaman--semacam tahan bacok atau kebal peluru, misalnya--yang mengadu ketangguhan dengan para jagoan guna merebut kuasa di terminal Pulogadung, Pasar Tanah Abang, atau terminal Grogol, misalnya. Barangsiapa yang bernyali mematahkan kuasa lama, seketika akan ternobat dan diakui sebagai jawara baru, dengan keberlimpahan dan ketersohoran yang bakal menyertai tarikh hidupnya. 

Bertahun-tahun kemudian, setelah saya benar-benar memberanikan diri untuk turun ke gelanggang panas bernama Jakarta, saya harus mengenang dan membenarkan wejangan sejawat pengarang itu. Di Taman Ismail Marzuki (TIM)--basecamp para seniman kelas berat--saya merasa seperti beruk yang masih berbulu sekujur tubuhnya, lantaran baru keluar dari semak-belukar hutan belantara. Kampungan, polos, dan gagap bercakap-cakap dengan dialek “lu-gue”. Untuk bisa duduk satu meja dengan pengarang-pengarang beken di warung-warung tenda sekitar kompleks TIM, sulit luar biasa bagi saya. Para sastrawan senior--tidak perlu saya sebut nama mereka--yang berusaha saya dekati dengan segenap kesantunan ala kampung, tidak menunjukkan sikap yang bersahabat. Mereka justru sinis, under-estimate, bahkan pada momen-momen tertentu, membuat saya merasa terhina sebagai orang daerah. Tapi begitulah Jakarta, yang perlahan-lahan saya pahami, saya maklumi, dan saya siasati, saban hari.

Lambat laun, saya bisa beradaptasi dengan manusia-manusia urban di Jakarta. Bukan hanya dengan kalangan praktisi sastra, tapi juga dengan individu-individu yang menekuni dan menggeluti berbagai bidang kesenian. Saya tidak lagi minder, berusaha “cuek” menyikapi sinisme, dan bila perlu saya juga memaklumatkan sedikit arogansi, sekadar memperlihatkan bahwa saya pun telah lahir sebagai subyek urban yang sama-sama mengais kemujuran, sebagaimana mereka. Saya mulai akrab dengan dunia malam Jakarta, terbiasa menenggak sebotol-dua botol bir dalam perjumpaan siang hari dengan klien di Senayan City atau Pacific Place, dan tidak merasa asing dengan pergaulan just having fun yang kerap terjadi di lingkungan seniman urban. 

Selain bekerja sebagai penulis profesional--fiksi atau nonfiksi--yang dapat tersiar di media mainstream atau diterbitkan di major-label publisher, di Jakarta juga terbuka bermacam-macam peluang. Ada banyak politisi berlimpah harta benda yang sedang membangun “proyek pencitraan” lewat buku biografi. Ada banyak pengusaha yang hendak terjun ke dunia politik dan karena itu ia perlu diperkenalkan melalui sebuah novel biografis. Banyak pula artis terkemuka yang berminat masuk ke dunia sastra--supaya tampak seperti manusia yang berbudaya. Pendek kata, bagi sastrawan urban, khususnya di Jakarta, tersedia banyak jalan guna mendapatkan honorarium yang jauh melebihi kompensasi pemuatan sebuah cerpen atau puisi di koran. Jasa penulisan buku biografi dapat dibandrol dengan harga Rp.100 hingga 150 juta, yang hanya digarap dalam waktu kurang lebih dua bulan. Bandingkan dengan nominal honor cerita pendek atau honor puisi di koran nomor wahid sekalipun.

Dalam suasana keberlimpahan itulah mereka dapat sedikit menikmati kesenyapan dalam lalu-lalang kebisingan Jakarta. Menyendiri di café-café. Menulis dengan perkakas canggih, mulai dari laptop, ipad, hingga smartphone layar sentuh seri terkini. Bila di masa lalu, warung, kedai, atau café digunakan sebagai tempat untuk saling bertemu, nongkrong bersama teman-teman, di café-café Jakarta masa kini, semua orang memilih duduk di bangku kosong, memesan menu untuk kebutuhan sendiri, lalu sibuk memencet keypad, dan mengutak-atik scroling pada gadget masing-masing, tanpa peduli kanan-kiri. 

Secara fisik memang tampak ramai, namun dalam kenyataannya, mereka tidak pernah saling menyapa, apalagi bercengkrama, lantaran semuanya sedang melayang-layang dan mabuk-kepayang di dunia facebook, twitter, instagram, dan lain-lain. Maka, yang saban petang duduk berdampingan selama berbulan-bulan, bisa jadi tidak pernah saling mengenal, apalagi terlibat dalam perbincangan hangat dan penuh keakraban. Di ruang-ruang publik, manusia-manusia urban ternyata justru sedang mencari kesendirian. Dan sebaliknya, dalam kesendirian  mereka merasa ramai, lantaran punya ribuan teman virtual di media-media jejaring sosial. Inilah semesta kesendiran yang palsu dan keramaian yang tak kasat mata.

Dalam lanskap dunia yang serba personal inilah para sastrawan urban menyelenggarakan proses kreatifnya. Dapat dibayangkan sejauh mana tingkat kepekaan mereka dalam merespon peristiwa-peristiwa sosial yang berlangsung setiap hari. Oleh karena itu, jangan dibayangkan dalam karya-karya mereka, akan tampil dengan kompleksitas persoalan kota besar sebagaimana yang pernah dilakukan Iwan Simatupang dalam cerpen Tunggu Aku di Pojok Jalan itu, misalnya. Prosa yang berkisah tentang sebuah pojok jalan tempat bertemu sekaligus tempat berpisahnya sepasang suami-istri. Bermula dari permintaan suami kepada istrinya untuk menunggu di pojok jalan, sementara ia hendak membeli rokok di warung. Namun si suami ternyata tidak kembali. Setelah 10 tahun berlalu, barulah suami itu muncul di pojok jalan yang sama. Tapi celakanya, si istri telah menjadi pelacur. Ketika ia hendak bercinta, istrinya meminta bayaran. Hal serupa pernah juga ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam cerpen Cerita dari Jakarta (2002, cetak ulang). Tentang seorang perempuan yang akhirnya menjadi pelacur lantaran keras dan asingnya realitas kota.

Pengarang-pengarang urban hari ini tidak berselera menghadirkan persoalan-persoalan utama kota besar seperti kemiskinan, premanisme, kemacetan yang hampir tak teratasi, tata kota yang amburadul, layanan publik yang tak manusiawi, dan sederet persoalan manusia urban Jakarta sepanjang hidup mereka. Jika ada, itu sekadar latar, atau yang dalam dunia fotografi kerap disebut  background. Kerunyaman masalah dalam dunia urban tak sungguh-sungguh menjadi point of interest (PoI) dalam kerja kreatif mereka. Barangkali karena lingkungan sastra urban adalah bagian dari persoalan itu sendiri. Sebagaimana sudah saya katakan, bahwa pertarungan untuk mendapatkan pengakuan sebagai pengarang di Jakarta sama saja dengan pergulatan seorang pendekar kampung yang terobsesi hendak menjadi jawara. Sama pula dengan ketatnya kompetisi di ajang pencairan bakat di dunia seni musik semacam Indonesian Idol, X-factor, atau The Rising Star. Segala bentuk upaya pencarian tersebut berujung pada satu muara bernama; ketersohoran. Maka, proses kreatif yang berlangsung adalah kesibukan-kesibukan artifisial untuk meraih mimpi-mimpi besar, hingga lupa pada kedalaman gagasan, abai pada kualitas kekaryaan. “Yang penting terkenal dulu, setelah itu baru serius berkarya.” 

Adalah Afrizal Malna, penyair yang sepanjang dua dekade telah mencurahkan perhatian pada seluk-beluk dunia urban. Muhammad Alfayyadl dalam esainya Tiga Halaman Belakang untuk Puisi-puisi Afrizal Malna (2010), mencatat Afrizal sebagai penyair urban yang paling konsisten menjelajah ruang urbannya. Ia menjelajah ruang-ruang yang tak tersentuh di pekatnya kemiskinan di pinggiran ibukota, makin sempitnya lahan, dan kehidupan yang makin berjejalan berbagi, berebut, dan berkonflik di antara manusia-manusianya.

Menurut Alfayyadl, puisi-puisi Afrizal bahkan telah meninggalkan dikotomi kota/kampung, dan mengantisipasi berbagai perubahan kultural, sosial, dan politis yang meluruhkan pembagian-pembagian itu. Semua itu campur-aduk sedemikian rupa dalam puisinya, dengan cara tak terduga dan membingungkan, demi menunjukkan kekalutan, rasa frustasi, kemarahan, dan kemustahilan yang membayangi Indonesia hari ini. Sajak-sajak Afrizal dibangun dengan idiom-idiom “es krim”, “coklat”, “shampo”, “donat”, “sikat gigi”, body lotion, styling foam, “Coca-cola”, sejak tahun 1990-an, yang menurut Alfayyadl, mengantisipasi, tapi sekaligus membenarkan, datangnya suatu era baru, di mana benda-benda akan bertahta dan menggantikan manusia. Di dunia urban, kata Afrizal, “Kita hanya mengenang manusia, dari kota-kota, yang ditata kaleng-kaleng coca-cola” (Antropologi dari Kaleng-kaleng Coca-cola). Manusia tak lagi ditemukan, atau memang jangan-jangan, telah tiada. “Di manakah manusia kalian temukan di antara kartu pos, donat, dan serakan tissu?” 

Rutininas yang semakin menyiksa, basa-basi yang membosankan, perilaku brutal di jalan raya, obsesi-obsesi yang membuat orang mempertaruhkan segalanya, tidur yang tak nyenyak lantaran minimnya rasa aman, pertemanan yang penuh kecurigaan, ternyata telah menguras banyak waktu dan tenaga. Oleh karena itu, subyek urban Jakarta sibuk menyelamatkan diri sendiri-sendiri--seperti menyelamatkan diri dari copet atau garong di Kopaja dan Metromini--terenyah-enyah berlari mengejar ekspektasi masing-masing. Tak terkecuali subyek pengarang, hingga yang muncul dalam karya-karya mereka adalah suara-suara “dari dalam diri”. Suara yang nyaris tenggelam dalam lautan kebisingan, yang senantiasa tersesat dalam lalu-lalang keramaian. Tak ada waktu untuk menyuarakan sesuatu “di luar diri”, lantaran mereka bukan malaikat penyelamat, bukan ratu adil, melainkan subyek yang juga tergilas oleh mesin-mesin urban dari waktu ke waktu. Maka, sebagaimana kata penyair Joko Pinurbo, tak ada lagi Minggu dalam diriku. Seluruh tubuhku sudah jadi hari kerja dan hari bicara.
***



*esai ini salah satu bagian dari paper panjang yang saya sampaikan dalam seminar sastra bertajuk "Suara Lokal, Suara Urban" pada Temu Sastrawan MPU, yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi DKI Jakarta, di Taman Menteng, Jakarta, 11 Oktober 2014.
*ulasan tentang cerpen Tunggu Aku di Pojok Jalan itu dan Cerita dari Jakarta, saya kutip dari esai "Cerpen, Ruang, dan Kota" karya Imam Muhtarom, yang terhimpun dalam buku Kulminasi (Teks, Konteks, dan Kota), Yogyakarta: Kasim Press, 2014
-->  -->

Friday, November 21, 2014

Menggali Pusara Bagi Bangkai Kenangan



 
Damhuri Muhammad

(esai pengantar novel Maha Cinta  karya Aguk Irawan MN, 2014)


Keriangan masa muda boleh saja berlalu. Usia yang senantiasa menua tentu tak bisa dibendung. Di jagad yang fana ini, tak ada yang sanggup melawan keringkihan. Setiap tubuh bakal lapuk, setiap yang tangguh bakal rapuh, lantaran ia terus bergerak menuju keusangan. Renta, ringkih, dan rapuh adalah sebuah keniscayaan. Namun, dalam tarikh manusia, rupanya ada yang tak lekang dihempas waktu, yang tak mempan dimakan masa, yang terus-menerus hadir di sekitar kita, dan tak terlupa hingga dunia dan semesta raya digulung sekalipun. Ia bernama “kenangan,” atau lebih tepatnya; kenangan pada kisah cinta. Berakhir bahagia atau malah terpelanting ke dalam bahaya, banyak aral yang melintang atau lancar-mulus saja, tragik, dramatik atau melankolik, kenangan setiap orang pada kisah cintanya, tiada pernah terkelupas dari ingatan. Ia akan terus berkembang biak, beranak-pinak, dan secara tak sengaja diwariskan secara turun-temurun, dari kurun ke kurun.

Kalaupun ada upaya hendak melupakannya, bahkan obsesi untuk membenamkannya di lubuk-lubuk telaga tak berdasar, nyalanya tetap akan menguap ke permukaan, puing-puing wewangiannya mengalir ke mana-mana. Dalam sebuah riwayat, seorang laki-laki yang menapaki jalan kesendirian seumur hidupnya akibat pengkhianatan cinta, pernah memaklumatkan bahwa romantika yang dulu berbunga-bunga itu telah dipusarakan dan kini sudah terkubur sebagai bangkai kenangan. Anehnya, saban hari ia senantiasa mengendus-endus, mencari aroma tak sedap yang menyeruak dari bangkai itu, hingga hidungnya tiada lagi dapat mengenal aroma  lain. Ia sedemikian kecanduan menghisap aroma bangkai kenangan itu. Hidupnya seolah-olah kiamat bilamana terpisah jauh dari pusara kenangan masa silamnya.

Begitulah “hukum kekekalan kenangan,” yang tak pernah dapat dimusnahkan. Sesaat mungkin bisa dialihkan pada individu atau obyek-obyek lain, namun itu sekadar batu loncatan untuk kemudian kembali berpulang pada romantika sejatinya. Sejarah cinta berserakan di mana-mana, bertebaran hampir di seluruh belahan dunia. Ada yang hanya dikenang dalam semesta kesunyian, ada yang dicatat lalu disembunyikan rapat-rapat dalam lembaran-lembaran nukilan rahasia, dan ada pula yang sengaja atau tak, dimonumentasikan dalam karya-karya masterpiece para pujangga. Sebutlah misalnya, tragedi cinta Romeo dan Juliet, mahapetaka cinta Steven dan Magdalena, Layla dan Majnun, atau kasih tak sampai Zaenuddin dan Hayati, yang tak bosan-bosan dibaca-ulang oleh segenap penggila kisah-kisah cinta. 

Kisah-kisah itu telah menjadi rujukan, menjadi sandaran, dan dalam batas-batas tertentu diperlakukan sebagai perkakas guna mengungkit-ungkit kembali kisah-kisah lain yang bersarang dalam perasaan masing-masing pembaca. Akibatnya, kita mengalami semacam De Javu, bahwa malapetaka cinta yang terjadi dalam roman-roman kelas dunia itu, juga berlangsung dalam tarikh hidup masing-masing pembaca. Oleh karena itu, romantika tragik yang telah menguras airmata dalam roman Tenggelamnya Kapan Van der Wijck, bukan lagi milik Hamka sebagai pengarang semata, tapi telah menjadi milik semua penikmat yang terbawa hanyut oleh deras arus kepiluannya.
         
Nama Hayati dipancangkan sebagai monumen kenangan tentang pengkhianatan cinta. Ia memilih Engku Aziz, laki-laki tajir bergelimang harta, orang beradat, orang bermartabat. Diabaikannya Zaenuddin, cinta platoniknya, laki-laki tuna-silsilah, miskin, dan tak berwibawa, demi nasib dan peruntungan yang lebih menjanjikan, demi hidup yang bergelimang kemewahan, demi mimpi-mimpi masa datang yang bagai “bersayap uang kertas.” Maka, Zaenuddin adalah monumen yang kedua, artefak luka yang senantiasa berdarah, yang terus menyimpan harapan,  mengendus-endus bangkai kenangan. Memiliki Hayati dalam arti seutuh-utuhnya adalah mustahil, hingga ia hanya dapat hidup dan bernapas bersama kenangan, dalam kenangan, untuk kenangan, selama-lamanya. Cinta sucinya pada Hayati tak pernah lusuh, gejolak rindunya tiada kunjung berhenti menderu, bahkan hingga Hayati meninggal dunia. Bagi Zaenuddin, Hayati, sebagaimana namanya, adalah “hidupku” adalah “nyawaku,” dan mencintai perempuan itu adalah kerelaan menerima perih dan ngilu luka akibat pengkhianatannya.

Agaknya, di sini pulalah medan tempat berpijaknya roman bertajuk “Maha Cinta” karya Aguk Irawan ini. Cinta yang akbar. Cinta yang tak tertandingi kebesarannya. Cinta yang tiada duanya. Adalah Imran, laki-laki yang tengah menapaki perjalanan cinta itu bersama kembang desa Sembungan, Wonosobo, bernama Marwa. Pangkal-soal dari  kasih tak sampai itu bermula dalih yang klise sekaligus klasik; status sosial. Marwa berasal dari keluarga juragan tembakau, Haji Nurcahya, tuan tanah yang sangat disegani di Sembungan. Sementara Imran hanya pemuda desa biasa, ayah-ibunya petani tembakau sebagaimana orang kebanyakan, dan bukan keluarga terhormat. Maka, sudah gampang diterka, Haji Nurcahya memandang hubungan remaja yang akan segera menamatkan studi di bangku SMA itu sebagai aib, yang tak mungkin direstui. Tak berhenti sampai di situ, ayah Marwa sampai menegaskan penghinaan pada Ali, ayah Imran hingga menyulut amarah dan ketegangan, yang tak henti-henti dipergunjingkan di tengah kampung.  






Pengarang membuhul roman ini dengan latar belakang budaya santri yang kental. Oleh karenanya, jangan dibayangkan percintaan Imran-Marwa sebagai hubungan yang liar sebagaimana pergaulan muda-mudi masa kini. Mereka hanya bertemu di majelis pengajian, tanpa berbincang-bincang secara langsung, apalagi bergandengan tangan. Kontak fisik paling mungkin hanyalah saling bersitatap yang kemudian berujung dengan senyuman yang terus dikenang saban petang. Selebihnya, diselesaikan dengan surat-menyurat sebagaimana layaknya cara berkasih-kasihan di era tahun 80-an. Jauh sebelum demam Blackberry dan Android mewabah dan menjangkiti siapa saja. Dengan jalan pengisahan yang jadul dan usang begitu, maka pertaruhan roman ini tidaklah main-main, pengarang sedapat-dapatnya harus merancang kekuatan ungkapan prosaik, yang sama sekali berbeda dengan jaman pesan pendek yang sedang merajalela di kurun ini.

Dalam beberapa bagian, narasi-narasi yang ditancapkan terasa masih verbal, cair, dan datar, hingga pembaca akan bergegas melampauinya untuk sampai pada dialog-dialog eksperimental sesuai dengan semangat masa itu. “Hati hanya satu, maka cinta tak bisa dibagi,” demikian ungkap Imran suatu ketika. Ungkapan yang genuine, khas, memorable line, dan cepat bersarang di benak pembaca. 

Imran dan Marwa sejatinya tak pernah goyah, apalagi menyerah. Mereka berjanji akan terus bersetia hingga tiba masanya Haji Nurcahya luluh dan berdamai dengan ketulusan cinta mereka. Marwa dikirim ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah, sementara Imran memang sejak mula bertekad hendak kuliah di Yogyakarta. Mereka terpisah hampir 5 tahun lamanya, meskipun surat-menyurat terus berlangsung. Janji-janji terus disemaikan. Impian masa datang yang bahagia terus pula dibayangkan. Marwa hanya diijinkan pulang ke Sembungan bilamana Imran tidak pulang. Begitu sebaliknya, hingga mereka tidak pernah bertemu muka. Masing-masing hanya dapat mengandalkan kabar dari Muniri, Rowiyatin, Zamroni, Hikmah, Sirhadi, Rufiah, Khotibi Miratul, teman-teman karib yang selalu ada di Sembungan. Itu saja sudah terasa melegakan, meski rindu yang menggebu tentulah tidak tertuntaskan. 
      
Lalu, muncullah orang ketiga, yang hampir dapat diterka pula peran pentingnya dalam kisah ini.  Ia bernama Maman, teman kuliah Marwa di Universitas Trisakti, Jakarta. Diam-diam ia menaruh hati pada Marwa, meskipun dari teman-teman perempuan Marwa ia tahu bahwa Marwa sudah punya kekasih yang sedang berkuliah di Yogyakarta. Namun, Jakarta rupanya telah membuat perempuan sholehah itu berubah. Dalam waktu tak lama, santriwati itu berubah menjadi perempuan urban yang tak segan-segan lagi menanggalkan jilbabnya. Antagonis ini tentu merasa semakin berpeluang. Petaka bermula dari gagalnya perjumpaan Imran dan Marwa di pernikahan sahabat karib mereka, Muniri dan Rowiyatin, yang sudah lama direncanakan. Imran benar-benar pulang ke Sembungan, sementara Marwa sengaja dilengahkan oleh Maman. Ia bersiasat mengajak Marwa, Fitri dan Yeni untuk melakukan survei ke lokasi KKN di Bogor hingga Marwa lupa pada janji pulang ke Wonosobo pada hari yang sama. Atas kebaikan hati Maman yang sedang menjadi sutradara dari sandiwara itu, Marwa memang tetap bisa menepati janji. Mobil pribadi Maman meluncur ke Jawa membawa Marwa, Fitri, Yeni menuju desa Sembungan. Mereka mengantarkan Marwa bertemu Imran, pujaan hati yang sangat dirindukannya. 
 
Sialnya, pesta sudah usai. Tepat pada saatnya Imran hendak menaiki bis menuju Jogja, Marwa dan teman-temannya dari Jakarta sampai di Sembungan. Sekilas Marwa melihat Imran, namun bis sudah melaju kencang. Alih-alih kepulangan itu melunaskan rindunya pada Imran, Marwa malah membawa persoalan; Maman. Muniri, Rowiyatin, dan sejawat-sejawat Imran yang lain mencurigai laki-laki asal Bogor itu sebagai kekasih baru Marwa, dan itu berarti ia telah berpaling dari Imran. Apalagi, Haji Nurcahya kemudian tergiur dengan basa-basi Maman. Gagah, kaya, dan sudah rela berkorban mengantarkan putrinya jauh-jauh dari Jakarta.

Di pihak Imran, pengarang menghadirkan karakter Dewi Halimatus Sa’diyah, lagi-lagi sosok gadis santri. Hubungan mereka sangat karib, bahkan Dewi pun diam-diam kagum pada kepribadian dan kesalehan Imran. Petaka kedua tak terelakkan. Betapa tidak? Saat Marwa menyambangi Imran ke pesantren, tempat Imran beraktivitas sembari kuliah, ia beroleh kabar  bahwa Imran, Dewi dan Zaid baru saja bertolak ke Jakarta. Ketiganya terpilih sebagai peserta studi banding di sebuah perusahaan bonafid di Jakarta. Marwa dibakar cemburu. Sementara itu, saat menyambangi tempat kos Marwa di bilangan Grogol, Imran tiba-tiba harus mundur selangkah. Pasalnya, ia melihat laki-laki lain di pintu kamar Marwa. Tak tanggung-tanggung, dari kejauhan Imran menyaksikan laki-laki itu mencium tangan Marwa. Hangat, mesra, penuh gairah. Hal yang belum pernah ia lakukan pada kekasihnya. Laki-laki itu tidak lain adalah Maman, si antagonis kita.

Lambat laun nama Imran semakin bersinar di kampung halaman. Calon sarjana Pertanian yang tak tercerabut dari akar kesantrian masa remajanya. Aktivis organisasi. Cerdas, santun, dan bergelimang prestasi. Orang-orang Sembungan memperkirakan masa depannya akan cemerlang, meski ladang tembakau ayahnya telah terjual untuk membiayai sekolahnya. Surat-surat Imran pada Marwa tidak lagi berbalas. Ia sudah menjelaskan duduk-perkara hubungan pertemanannya dengan Dewi, namun itu ternyata tidak bisa lagi mengubah keadaan. Marwa berbalik membencinya, hingga ia jatuh ke pangkuan Maman. Keluarga Nurcahya berpaling memuja-muja Imran, dan berubah merestui hubunganya dengan Marwa. Tapi apa boleh buat, Marwa tidak lagi bisa percaya pada kesetiaan Imran. Ia menuding Maman telah berkhianat, dan cinta mereka tak perlu diselamatkan.

Sedalam apa dosa yang telah diperbuat Marwa dan Maman, sebesar apa ketakjuban keluarga Nurcahya pada kehalusan budi Imran--pemuda miskin yang kini telah naik-daun menjadi orang paling berpengaruh di perusahaan perkebunan milik tuan Subrata yang berkantor di salah satu gedung jangkung di Jakarta--dan apa upaya Muniri,  Rowiyatin, Dewi dan Zaid untuk menyembuhkan luka-luka Imran, rasanya tidak perlu saya singkapkan dalam ulasan ini. Yang pasti, setelah beroleh kabar  tentang kematian Marwa--beberapa saat selepas kelahiran bayi yang diwasiatkannya bernama “Imran Maulana”--Imran benar-benar jatuh dan terpuruk ke dalam liang kepedihan yang tak terpermanai. 

Menyelami kepedihan yang terpiuh-piuh dalam roman ini seperti menziarahi pusara yang telah digali Imran guna menyemayamkan jenazah kenangan masa silamnya bersama Marwa. Meski begitu, “Hati hanya satu, maka cinta tak bisa dibagi,” Imran tak hendak bergeser sedikit pun. Cintanya pada Marwa tidak mungkin disudahi, sebagaimana cintanya pada Tuhan. Tarikh Marwa dalam hidupnya telah menjelma sebagai nyawa, sebagai nyala semangatnya, sebagai keriuhan dalam kesepiannya. Selama-lamanya. Sekekal-kekalnya…